Cerpen – Mata Kucing

Cerpen - Mata Kucing 1

Ada yang lebih indah baginya, yaitu  mengenang kesendirian. Tempat sunyi, bersahaja dan jauh dari hiruk pikuk adalah dunianya. Salah satu hal yang membuat hidup berada di titik ternyaman.

Ia duduk di gubuk bambu, dengan atap dari spanduk bekas promo sebuah event, yang sengaja dicopot oleh si pemilik warung. Seorang laki-laki setengah baya, yang pendiam dan memilik penyakit diabet basah. Istrinya, perempuan cantik, setengah baya juga, yang begitu akrab menyapa setiap pelanggan yang datang.

Warung itu tak begitu istimewa. Warung kopi biasa, yang berjejer dengan warung-warung lain. Tipe bangunan yang hampir sama. Terbuat dari kayu dan bambu, dengan desain seadanya. Berada di pinggir jalan raya, di sepanjang tanah kompleks perkebunan karet.

Ia menatap jam yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Lalu cincin cincin aksesories dan tas branded serta kacamata coklat muda yang disewa dari seorang teman. Tiba-tiba ia merasa jijik dengan semua yang ia kenakan hari ini. Dengan dandanan seperti itu, Ia harap akan menumbuhkan rasa percaya diri di tengah pesta reuni  itu. Tapi semuanya hanya topeng. Dan sialnya, topeng itu terbuka dengan sangat memalukan.

Semua itu bermula saat seorang teman menanyakan waktu padanya. Ia melihat jam tangan itu dengan sedikit termenung.

“Ohh, pantas lama. Jam tanganmu mati? Kamu tidak sadar ya? Mengernakan jam tangan mati?” Vika, Ia tahu teman SMAnya  yang satu itu selalu sinis dan tukang mencari-cari masalah. Tak berubah dari dulu.

Ia membuang muka dengan perasaan malu. Beberapa yang di sana tergelak.  Ia berlari, keluar dari tempat hingar bingar itu.

Ia benci dengan semua itu. Benci karena harus mengenakan identitas palsu. Memakai topeng dalam pesta reuni itu.

“Kamu kerja apa sudah menikah Ti?”

“Kerja juga. Menikah juga” Uti menjawab pertanyaan bekas teman sekelasnya.

“Waahh..hebat. Kerja dimana?” mimik takjub nampak dari pandangan dan kata yang keluar. Uti tersenyum, menyembunyikan kekecutannya.

“Di perusahaan kontraktor. Jadi sekretaris…” lagi-lagi Uti tersenyum ringan.

Lelah juga berkamuflase itu. Ahh biar saja, sesekali Ia berperan. Anggap saja sedang bermain teater dengan membawakan peran bahagia. Lalu, peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang membuat Ia berlari dari kemeriahan reuni. Membawa rasa malu. Ia merasa, memang tak pantas hadir dalam komunitas dan acara glamour itu. Dirinya sudah bukan bagian dari kenangan-kenangan manis masa SMA yang kembali disegarkan dalam satu pertemuan akbar, setelah sekian lama. Toh Ia tak memiliki kenangan manis. Ia terlalu compang-camping untuk berdiri di tengah mereka yang hidup normal dan meraih kesuksesan.

Ia merasa menjadi manusia yang setengah setengah selama ini. Seperti  berada di antara kekayaan dan kemiskinan. Diantara gelap dan terang. Ia hidup sekian masa dengan didikan yang tak jauh dari sumpah serapah, kata-kata umpatan yang merendahkan diri dan keterbiaran. Semua itu melemahkan dirinya untuk bisa tegak di hadapan orang-orang.

Lantas, Ia bangun dunianya sendiri, yang terdiri dari khayalan-khayalan. Tentang si Upik Abu dan Pangeran tampan dari negeri antah berantah. Ia selalu bahagia dalam dunianya itu. Setiap waktu Ia menyibukkan diri dengan merenda khayalannya.

Tapi anehnya, Ia tak menyukai laki-laki perlente dan rapi. Laki-laki yang begitu tertata tingkah laku dan omongannya. Ia selalu berpikir laki-laki seperti itu selalu mengenakan topeng yang menutupi wajah asli. Sewaktu kecil, Ia sering melihat Pamannya yang alim dan sopan lurus, Ia pergoki selalu berkata kasar dan berlaku kejam pada Bibi. Itulah, Ia lari menghindari perjodohan dengan lelaki  pilihan orangtuanya.

“Dia baik Uti. Dia lelaki yang sopan, sabar dan tidak banyak bicara. Dia juga sangat teratur dan rapi. Pekerja keras. Ibu yakin, Yogi bisa menjagamu dengan baik!” Ibu selalu meyakinkannya. Mempertemukan beberapa kali dengan lelaki yang katanya tak banyak bicara dan sangat menghargai wanita itu.

Tapi Ia menolak. Laki-laki itu diajak  bertemu, di suatu tempat.  Uti menegaskan kata hatinya. Menolak perjodohan dan tak mengharap lelaki itu selalu datang.

Ibu murka. Sejak itu, orangtua dan saudara mendiamkannya. Uti makin merasa hidupnya terasing. Ia ada tapi seolah tak ada. Kedatangan dan kepergiannya, tak pernah dipedulikan oleh sesiapa di rumah.

Semua itu membuat Uti semakin tenggelam dalam sifat anarkhis dan kesendiriannya. Ia tak lagi pergi main dengan teman-teman. Selalu menolak kemanapun temannya ngajak bergaul. Ia merasa itu bukan dunianya. Ia mencari dunia lain yang tidak terjangkau. Dunia yang dibangunnya. Dunia yang temaram tapi membuatnya hidup.

Uti menggelosot, membawa langkahnya. Dua orang tamu, laki-laki, sedang duduk menunggu, di bangku-bangku panjang di sudut ruangan dalam warung. Perempuan yang tadi memanggilnya sedang duduk menemani.

Di depan mereka, di meja kayu  persegi panjang, telah berderet beberapa botol bir dan dua piring kacang.

“Wiiisss..pesta nih!” Uti menghampiri. Duduk di antara mereka.

Bir bir itu dituang dalam gelas-gelas. Terdengar bunyi gelas-gelas beradu, bersulang. Sebentar saja botol-botol itu kosong. Dan empat orang itu tertawa-tawa berkelakar.

Pemilik warung  mengintip mereka sambil tersenyum.  Tak rugi menggaji dua bunga warung itu, mereka pintar merayu pelangggan untuk minum. Sebentar lagi Ia akan menerima pembayaran yang sudah dibengkakan jumlahnya. Menghitung uang tips dan uang botol, selesai. Urusan ngedate dan cari tambahan lain yang dilakukan dua bunga warungnya, ia tak mau tahu.

Uti melirik Mina yang sudah menggelendot manja pada lelaki di sebelahnya. Mungkin sebentar lagi mereka akan pergi ke neraka. Laki laki di sebelah Uti  sudah memberi kode. Uti hanya manggut-manggut saja. Alkohol ringan yang menguasai kepalanya mulai menguap. Uti mulai merasa bosan. Ia hanya senyum-senyum tak peduli.

Lelaki itu membisikinya, mengajak pergi. Uti menggeleng. Selalu begitu. Ia tak peduli, tak ada yang bisa memaksanya. Tak seorangpun!  Jika lelaki itu memaksa, Ia tak mau ambil pusing. Toh sebilah belati selalu tersedia di kantongnya. Dibawa kemanapun Uti pergi.

***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning