Cerpen – Parodi Jalanan

Cerpen - Parodi Jalanan 1

“Jangan kau akrabi perempuan itu! Ia tak lebih dari seorang lonte!” Sudah ribuan kali peringatan itu Asri dengar, tetapi ia abaikan. Sebagai seorang jurnalis, ia tak pernah pilih bulu untuk berteman.

 “Kau mau duit kan As?”

Asri tahu, si penanya itu wartawan senior yang urakan. Maklum ia mantan preman yang direkrut untuk menggawangi urusan hantam menghantam sumber berita yang nakal. Oknum korup, kebijakan ngawur dan pungli di segala bidang, jangan harap lolos dari incarannya. Sepuluh narasumber berita yang didapat, terkadang tak satupun yang naik rilis. Semua mampet di posisi 86. Berakhir dengan kesepakatan damai.

Urusan tutup mulut di sana sini. Terganti pencitraan yang naik. Borokpun tertutupi sudah oleh kasa tebal dari putaran yang itu-itu saja. Uang setan diembat siluman.

“Aku tidak mau duit haram!” Asri nyengir.

Pada sebuah event pemerintah Daerah, bermacam rupa jurnalis bergulung-gulung di sana. Dari jurnalis senior, jurnalis elite, jurnalis abal-abal, jurnalis surat kabar tanpa berita dan jurnalis yang populer tapi tak pernah nulis. Tak ada beda. Toh pada akhirnya sebutan mereka sama.

Satu narasumber dikondisikan. Kamera-kamera on stay, handphone dan alat perekam sekejap saja merubung sang calon dewan. Konfirmasi sepuluh menit. Bubar. Lalu pengondisi itu melobi narasumber.

Itu bukan kasus. Tapi romantisme di lapangan. Kadang disitulah indahnya. Seperti berita yang tak seorangpun tertarik untuk meliput. Tentang kakek yang digebuki massa hanya gara-gara mencuri timbel di warung tenda. Timbel belum sempat dimakan, ia babak belur, dikandangi pula. Dia lapar. Dia mencuri hanya untuk memenuhi perasaan hakikinya yang tersiksa. Suatu rasa yang primer. Bukan mencuri untuk foya-foya.

Keakraban Asri dengan Wen yang menurut Murni, kelasnya dengan Wen jauh berbeda.

“Kamu pintar As! Berbakat dan status pekerjaanmu disoroti banyak orang. Citramu sebagai  Wartawati berattitude  baik.  Menghasilkan tulisan yang gemilang. Dan Wen? Track recordnya jelek. Dia terkenal sebagai mainan kaum laki-laki…”

“Dia hanya PL. Memang cari duitnya begitu. Keahliannya nyanyi. Dia cuma pandai melobi. Selama ini aku belum melihat dia terang-terangan menjual jasa pribadi. Tapi, sekalipun iya seperti itu, apa urusannya denganku? Selama dia baik dan tak merugikan? Heeii..dia bukan makhluk yang diharamkan Tuhan khan? Anjing saja masih banyak yang sayang kok…”

Pada bantahan berikutnya, Asri sudah berlari menghilang. Kepalanya mumet. Penolakan Dewan Redaksi untuk sumber berita yang ingin dinaikkan membuatnya kecewa pada realita  yang ada. Tentang seorang Emak penjual keripik. Suaminya menderita gangguan jiwa dan stroke. Rumahnya gubuk. Anaknya laki-laki semua. Tiga orang dan tidak ada yang betul. Bertahun-tahun si Emak dagang untuk biaya hidup dan biaya check kesehatan suaminya yang mencapai angka ratusan ribu dalam sebulan.

“Tujuannya untuk apa? Ini berita biasa As. Kasus seperti ini bukan cuma satu. Tapi bejibun. Dimana menariknya.  Pencitraan? Pencitraan siapa? Kamu carilah berita yang bagus. Yang bisa menghasilkan uang. Anakmu juga butuh makan khan? Berita seperti ini mana ada duitnya?” Bang Tyo, partnernya di lapangan, malah ikut mencela.

“Allaaahh ngerti apa kamu masalah sosial? Di otakmu tuh, hanya uang dan perempuan!” Asri melotot seraya menghardik. Bang Tyo ngakak. Asri membalikkan jempolnya sebelum berlalu.

***

Asap rokok dan bau alkohol yang menyengat,  membuat Asri beringsut.  Di sudut sofa, Wen dengan mata teler tengah digandeng dua orang laki-laki. Asri gelisah. Apalagi ketika seorang yang tadi mepet terus, kini menghampiri.

“Nyanyi tanpa minum itu nggak enak. Nggak hepi. Ayo…minum!” Laki-laki itu menyodorkan gelas berisi wine merah. Asri menggeleng. Matanya menjeling tajam.

“Saya tak pernah minum alkohol. Maaf! Sudah Saya bilang sedari tadi khan?” tolaknya agak gusar.

Tiga orang di sudut sana makin tak terkendali. Tiba-tiba Asri merasa jijik. Wen…kenapa begitu? Wen, dipeluk bergilir. Tertawa-tawa.

Laki-laki di sebelah Asri, merangsek sambil tetap menyodorkan gelas.

“Ayo minum!!”

“Tak mau!”

“Saya yang traktir kamu. Saya yang bayar ini semua. Kamu tidak menghargai sama sekali! Untuk apa di sini kalau tidak mau minum. Pulang sana!” Matanya menyala. Ia menghardik.

Amarah Asri naik. Ia berdiri. Berlari keluar dari Room Vip itu.

“Mama..pulang. Besok Aini sekolah.  Gak ada ongkos Ma…”  Asri menutup pembicaraan di telefon. Tak tega mendengar lesu suara Aini, anak semata wayangnya.

Malam teramat larut. Tak ada uang sesenpun untuk di bawa pulang. Anaknya menunggu, mungkin dengan perut yang lapar. Kebingungan bagaimana ongkos ke sekolah besok.

Siang tadi dan siang-siang kemarin, tak ada satu liputanpun yang dia ikuti.  Event yang biasanya,  yang selalu memberinya amplop lumayan, luput dari liputan.  Selembar uang gocap, melayang dirampas Wen dengan alasan pinjam.  Sial! Asri benci jika Ia sadar kelemahan dirinya yang selalu kalah jika atas nama solidaritas. Meskipun untuk itu, leher sendiri tercekik. Idealis? Atau bodoh!

Dalam kebingungan, Asri melihat beberapa preman saling senggol di depan parkir karaoke. Perkelahian yang seakan jadi pemandangan biasa. Anak-anak Punk dengan aksesoris mencolok dan rambut-rambut seperti rambut badut di acara karnaval. Seorang Perempuan malam yang nongkrong di pertigaan, santai menghisap rokok seraya menunggu langganan. Kang Ojeg  terkantuk di dekat bundaran.

Asri menghela nafas panjang. Pulang adalah menghadapi realita lain yang menghimpit hidupnya. Dicarinya nama orang di nomor kontak. Lalu dipijitnya tombol telefon.

“Bang Tyo, Aku mau pulang. Boleh pinjem gocap buat ongkos anakku besok Bang?” tak perlu keberanian banyak untuk meminta bantuan pada rekan kerjanya itu. Toh seperti iseng saja. Tapi jawaban dari Bang Tyo kemudian, mengejutkannya.

“Kamu dimana? Saya kesana atau kamu kesini ambil duitnya? Kasihan anakmu kalau sampai tak sekolah…”

Asri seperti dibangkitkan dari lobang yang dalam dan pengap. Ia berjalan setengah berlari menyusuri trotoar. Menuju ujung jembatan yang tak jauh dari sana. Bang Tyo sudah menunggunya di depan kios roko pinggir jalan.

Selembar limapuluh ribuan dan satu dus martabak hangat dijejalkannya pada kedua tangan Asri.

“Sudah kubilang, uang itu penting khan?”

Asri tak tahu, apakah Ia menyesal telah menyia-nyiakan waktu dan tanggungjawabnya hanya untuk suatu pertemanan yang tak bernas? Hanya satu yang Ia yakini, bahwa kaajaiban selalu datang untuk hati-hati yang bening.

Bintang tak lagi ranum di angkasa hitam sana. Anak-anak jalanan masih duduk duduk di pinggir trotoar sambil bernyanyi tembang balada. Tentang seribu kisah getir kaum yang terpinggirkan. ***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning