Cerpen – Pelangi Di Atas Ilalang

Cerpen - Pelangi Di Atas Ilalang 1

Huruf itu hanya bermain-main saja di kepalanya, seperti segerombol noktah yang berpijaran, tak saling menyatu dan terangkai. Melela saja dalam bayangan, seperti mimpi buruk yang panjang. Tapi Ia tetap mengeja dan berusaha merangkai diksi. Demi menjemput jawaban dari Ibunya.

Pemuda yang selalu berlilit sarung di pundaknya itu adalah pemuda biasa. Kemiskinan telah melilitnya juga. Tak baik jika dikatakan itu penyakit turunan. Tapi tak dipungkiri, orangtuanya hanya sebelah saja. Seorang Ibu yang sangat lemah lembut, meski sedari kecil Ia hanya mampu memberinya makan dengan bumbu kacang yang diaduk pada sayur-sayuran, sisa dagangan pecel yang dijual  berkeliling, setiap hari.

Saking seringnya makan dengan bumbu pecel itu, penciuman dan seleranya jadi sensitif terhadap bau aroma kacang. Setelah besar, pemuda itu justru sangat benci kacang atau bumbu yang bahan bakunya kacang tanah. Begitu tercium di hidung, Ia merasa bulu di tengkuknya merinding, sesaat kemudian akan terasa enek di ulu hati. Selalu mau muntah.

Ia seorang saja kini. Di usianya yang hampir menginjak tigapuluh lima. Rumah semi permanen yang ditinggalinya, seakan hendak rubuh saja. Atap dari asbes murahan hasil gotong royong warga sudah menghitam dan bolong di beberapa bagian. Kayu kayu penyangka dan penutup badan atas rumah, pun sudah melepuh, buruk dan berak berak di makan rayap.

Mak sudah meninggal lima tahun lalu dalam pangkuannya, setelah dua tahun dihinggapi penyakit stroke.

“Menikahlah segera Nak! Carilah perempuan pengganti Emak, agar ada yang mengurusmu…” Pesan terakhir Mak tak bisa dikabulkannya hingga kini.

Pemuda itu melenguh. Tatapnya mengitar pada sekeliling. Ke atas langit-langit rumah yang menghitam dan ditumbuhi sarang laba-laba dimana-mana. Pada tembok setengah badan yang sudah berluruhan adukan pasirnya. Pada tilam tidurnya yang lepek dan bau tengik. Pada baju-baju yang berserak dan sebagian teronggok dalam kardus-kardus. Dia menggeleng. Matanya nanap. Tapi hanya sebatas itu saja.

Pemuda itu kemudian berdiri. Melepas sarungnya. Mematikan netbook kecil, satu-satunya benda berharga yang dibelinya di pasar loak, dengan harga yang lumayan murah. Ia kemudian mengenakan jeans dan jaket kulit hitam. Menyemir sepatu pantopelnya.

Dibukanya ponsel. Beberapa pesan masuk. Mengabarkan bahwa sebentar lagi acara festival seni dimulai. Dibukanya laci meja, duit tinggal beberapa lembar lima ribuan dan selebihnya recehan. Ia tersenyum. Tak apalah…inipun cukup buat ongkos ke Taman Budaya.

Ia berjalan, melewati gank kumuh, keluar di jalan aspal sempit, masuk lagi ke jalan kampung. Melewati warung nasi dan melihat seorang gadis yang selalu tersenyum padanya, penjaga warung itu. Ia hanya manggut seraya mengusir rasa jengah. Menyusuri selokan dan berhenti saat tiba di salah satu kompleks pekuburan umum. Di pintu masuk, ia memberikan recehan dua ribu perak pada kakek-kakek penunggu kotak jariyah.

Wangi bunga kamboja menusuk penciuman. Ia tersenyum pada satu kerinduan yang mereda. Pada bau aroma bunga kamboja itu ia mencium aroma tubuh Emak dalam keabadian.  Di depan makan yang tak berumah, berupa seonggok tanah dengan nisan di ujung-ujungnya, Ia jongkok. Mengusap nisan Mak  mendatangkan geletar yang sesak.

“Mak, aku datang. Membawa bongkahan kerinduan yang membatu dan tak mungkin bisa pijar.” Pemuda itu merunduk selayak anak yang sedang mengadu pada Ibunya.

Sesungguhnya Ia sedang gelisah. Mak pasti tahu. Sebab, setiap hatinya dilanda kegelisahan Ia pasti menemuinya.  Ini tentang deklamasi Puisi yang akan dibawakan di pembukaan acara Festival Seni Budaya sore ini. Tiba-tiba Ia merasa menyesal karena telah menyanggupi permintaan panitia, atas saran seorang yang menyukai sajak-sajaknya saat di posting di sosial media. Mereka mengira, Ia seorang penyair handal. Huhh! Padahal inilah pertama kalinya Ia tampil di depan khalayak dalam suatu pesta besar.

Dari kecil, Ia memang suka membaca. Kemudian timbul hasrat dan minat ingin bisa menulis. Ia selalu menulis puisi-puisinya di buku pelajaran, dan ditunjukannya kepada teman-teman. Ia senang jika mereka membaca dan menyukai tulisannya.

Tapi rasa rendah diri akan keadaannya membuat Ia mati langkah. Padahal ide selalu membludak di kepala setiap detik. Rasa rendah diri itu semakin menggunung menutupi tubuh dan keinginannya saat Ia mesti putus sekolah.

Tapi Mak terus saja mendorongnya.

“”Mak, apakah aku bisa jadi seorang Penulis?  Penulis Puisi seperti Rendra. Penulis Cerpen seperti Ahmad Tohari…” Ia ingat pada suatu percakapan dengan Mak.

“Tentu bisa Nak. Kenapa tidak? Kau punya bakat menulis. Kau juga menyukainya kan?” Mak sebenarnya tidak begitu faham tentang hal menulis itu. Tapi setiap hari, Pemuda itu menunjukkan karya-karya yang dimuat di koran-koran. Ia sering membeli koran bekas dan membaca serta mengkliping karya yang Ia baca.

“Tapi mereka sekolah Mak. Gelarnya saja ada yang S2 bahkan S3. Aku?  SMP saja tidak tamat…” Ia mengeluhkan keadaan serta membandingkannya dengan para Penulis itu.

Masih Ia ingat senyum arif bijaksana Mak.

“Nak, untuk mendapat gelar Haji orang-orang hanya perlu menunaikan ibadah Haji ke Mekah. Begitupun engkau, untuk bisa disebut Penulis, ya kau harus nulis! Tulis puisimu, tunjukan pada orang-orang dan pembaca. Teruslah belajar untuk menulis dan menulis.  Dan teruslah tunjukkan karyamu untuk bisa dibaca oleh pembaca. Kau hanya harus percaya diri bahwa engkau punya bakat dan minat. Lalu mengerjakan apa yang kau suka tanpa kenal putus asa…” Pemuda itu ingat betul, bagaimana Mak memberinya nasehat itu.

 Mak itu hanya sekolah dasar saja. Bahkan ia sama sekali tak mengerti apa menulis itu. Tapi wejangannya sungguh dahsyat. Pemuda itu tumbuh semangat dan percaya dirinya. Malam itu Ia berhasil membuat beberapa puisi.

***

Setelah mengadu pada kubur Mak, seperti ada beban yang terlolosi dari tubuhnya. Pemuda itu bangun dari jongkok sertelah mengusap nisan Mak. Ia melangkah membawa semangat.

Mernyusuri jalan di pinggiran selokan. Gerimis mulai reda. Lembayung senja menapak di ufuk sana. Di tanah berbukit-bukit yang ditumbuhi ilalang itu, Ia melihat lengkung pelangi. Senja yang sangata puitis.

Warung nasi itu kembali Ia lewati. Dan gadis itu berlari ke pintu saat melihat Ia melintas. Seperti biasa, membagi senyum yang paling manis. Tatapannya tulus. Ahh Ia kira, hanya gadis itu saja yang memperhatikannya. Yang sudi memberi senyuman manis. Meski Ia tak begitu peduli, karena bau bumbu kacang dari pecel yang selalu dibuatnya. Ia teringat Mak dan hari-hari ketika Ia selalu makan dengan pecel. Ia ingat gadis bau bumbu pecel yang cuma satu satunya itu yang selalu memperhatikannya. Ia ingat pembacaan puisi pertama kalinya ini. Langkahnya semakin dipercepat. ()

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning