Cerpen “Rasa Muncul Karena Terbiasa”


Cerpen "Rasa Muncul Karena Terbiasa" 1

Hujan deras sedari malam tadi hingga saat ini tiada henti membahasahi seluruh kota. Dari balik jendela aku dapat menyaksikan orang-orang berlalu lalang menerjang derasnya hujan. Mereka yang berlalu lalang adalah para pekerja mulai dari pedagang kecil, buruh pabrik, pegawai kantor dan pelajar. Tidak ada raut kesal diwajah mereka, entah mereka terlalu bersemangat atau memang mereka terpaksa oleh keadaan dari instansi masing-masing.

Hujan diluar sana membuat suasana menjadi sangat dingin, tak ada niat sedikitpun dari ku untuk menyibak selimut hijau keropiku. Aku ingin menghabiskan hari ini dengan tidur, namun sialnya hari ini aku harus tetap pergi bekerja. Tiga tahun lalu aku kuliah jurusan D3 akuntansi berharap bisa menjadi seorang  akuntan publik yang handal. Namun semua itu gagal ketika aku memasuki semester 2 kuliahku aku mengikuti program seleksi CPNS dan tanpa aku duga aku bisa lolos. Dan saat ini aku sudah bekerja disalah satu instansi pemerintah. Itulah yang memaksaku sejenak berhenti dari perkuliahanku namun bisa dibilang saat ini aku sudah memiliki pekerjaan yang tetap Pekerjaan ini sudah membuatku nyaman aku tidak pernah merasa terbebani sedikitpun atas pekerjaan ini karena banyak pelajaran yang aku dapatkan.

Aku bergegas beranjak dari tidurku sebelum rasa kantuk kembali menyerang diriku. Aku bersiap-siap dengan segala atribut dan perlengkapan yang membuatku merasa lebih berwibawa dibandingkan aku mengenakan pakaian biasa. Ya aku selalu bangga ketika mengenakan pakaian dinas yang sering melekat dibadanku. Aku keluar dari kamar dan melihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dimeja makan dengan beberapa hidangan makan pagi dihadapannya dan tersenyum manis kearahku. tanpa ajakan darinya aku duduk dihadapannya dan bergabung untuk sarapan dengannya.

“ Miwa kamu itu sudah berumur tapi kamu ga pernah gandeng cowok, apa kamu ga kepikiran untuk menikah?.” Tanya wanita itu, yang tak lain adalah ibu kandungku sendiri.

“ yah mah, Miwa pengen bantu mamah dulu masa depan Miwa masih panjang, dan Miwa belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat.” Jawabku dengan sedikit tersenyum.

Aku selalu merasa tersudutkan ketika orang-orang bertanya mengenai hal itu, entah mengapa rasanya begitu sesak ketika pertanyaan itu dilontarkan kepadaku. Setelah menghabiskan makan pagiku aku berpamitan pada ibu dan segera pergi ke tempat kerja ku.

***

“ pagi Miwa, tumben-tumben berangkat siang.” Sapa teman satu lettingku.

“ Ah iya nih let, cuacanya dingin banget.” Jawabku sembari mengelus lengan bajuku yang sedikit basah karena hujan.

“ Makanya wa buru cari pasangan, kalo ada pasangan mah dingin ada yang nemenin, lah kalo masi sendiri mana ada.” Ujar Arfan yan disambut gelak tawa beberapa rekan kerja kami.

“ yeh kaya situ udah ada aja pake ngeledekin orang.” Jawabku dengan tawa yang tak dapat tertahankan.

“ Udahlah kalian itu cocok sama-sama jomblo ga usah saling ledek ntar jadi laki bini baru tahu.” Saut seorang pria diujung sana.

Ya rekan-rekan ditempatku bertugas selalu menjodohkan aku dengan Arfan, awalnya aku kesal karena orang-orang menganggapku dekat dengan pria itu. Namun lama-lam hal itu sudah menjadai hal yang lumrah dan aku hanya akan terkekeh geli ketika aku menjodohkan diriku dengan pria itu. Aku mengerjakan semua tugasku mengotak-atik berkas yang ada dimeja kerjaku selama seharian.

Saat aku sedang sedikit menghela nafas dan memijit pelan keningku, tiba-tiba seorang pria menghampiriku.

“ capek ya wa?.” Tanya pria itu dengan seulas senyum diwajahnya.

Suaranya baritone yang begitu familiar ditelingaku, tanpa menoleh pun aku sudah tau jika dia adalah Arfan. Ia menawariku pulang bersama dengannya, Berulang kali aku selalu menolak tawaran darinya, dengan berbagai alasan. Sebenarnya aku mau saja diantarkan oleh Arfan namun aku selalu kepikiran ibunya yang mengharapkan seorang menantu. Jika saja pria itu mengnatrakannya sampai rumah pasti lah ibunya akan menyerbu dirinya dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya geram.

“ Ayolah wa, sekali ini saja aku anter kamu, kenapa sih kamu nolak  terus.” Kata afan.

Aku tertawa  terbahak-bahak ketika mendengar rengekan pria itu, dia yang biasanya tegas dengan suara baritone yang khas kini merengek seperti anak kecil.

“ Yah malah ketawa” protesnya kesal.

Tak enak hati karena aku terlampau sering menolak tawaran darinya akupun mengiyakan tawaran darinya kali ini. Dan siapa sangka ia merasa sangat senang dengan jawaban yang aku lontarkan wajahnya sangat berseri. Senyumnya melebar menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi menambah kesan tampan diwajahnya. Tidak sedikit orang yang mengakui ketampanan pria itu, bahkan banyak wanita yang mencoba mendekatinya namun entah mengapa sampai saat ini dia masih saja menyendiri seperti diriku.

Dia pergi keparkiran untuk mengambil sepada motornya dan aku menunggu didepan lobi kantor. Disana aku hanya diam dan banyak memikirakan tentang pria itu dan tak jarang perkataan ibuku selalu terlintas difikiranku. Aku merasa jika ledeken dari teman-teman yang menjodohkan aku dengan pria itu kini memberikan efek kepada diriku. Akhir-akhir ini aku sering kefikiran tentang pria itu, wajahnya, senyumnya, cara dia tersenyum, cara dia berbicara semua tentang dia selalu terbayang olehku.

“ Hey miwa ayook.” Ucapan Arfan membuyarkan lamunanku, aku yang terkejut langsung kebingungan dan salah tingkah, dan perlahan membonceng motor yang dikendarainya. Sialnya jantungku berdegup kencang aku berharap Arfan tidak bisa merasakan detakan jantungku saat ini. Selama dimotor tidak ada Tanya jawab diantara aku dengannya, namun kini aku merasakan jika laju motornya semakin pelan. Pada akhirnya dia berhenti ditepi bundaran alun-alun tengah kota, mungkin ia akan mengajakku makan malam. Aku sangat terkejut ketika tangannya menggandeng tanganku tanpa aba-aba. Detak jantungku yang mulanya sudah normal kini kembali berpacu kencang.

“ Arfan kita mau ngapain.” tanyaku berlaga tidak tahu.

“ Miwa aku sangat lapar dari tadi aku menahan lapar agar bisa makan bersama denganmu.” Ucapnya sembarai menatap dalam mataku.

Aku sangat terkejut dengan jawabannya mengapa dia berubah, tidak seperti biasanya dia seperti ini. Tapi entah mengapa perilakunya itu membuatku merasa nyaman aku berharap dia juga merasakan apa yang aku rasakan tapi tidak mungkin lah. Kami mencari tempat duduk dan menunggu nasi goreng yang kami pesan. Aku hanya terdiam dan berusaha menetralkan detak jantungku yang sedari tadi belum kembali normal. Matanya yang teduh menatapku begitu dalam seperti menyimpan beribu kata yang ingin ia ucapkan kepadaku.

“ Kenapa si fan ga usah liatin aku kaya gitu, ntar suka lagi.” Ucapku berusaha menetralkan suasana yang teramat canggung. Ketika ia mau menjawab tukang nasi goring itu datang mengantarkan nasi goreng yang tadi kami pesan. Dan entah benar atau tidak dia menjawab iya namun suaranya begitu samar aku dengar. Akhirnya kami berdua pun makan dengan seidkit obrolan yang tidak begitu berarti namun penuh rasa canggung. Tidak biasanya aku dan Arfan seperti ini karena biasanya kami memang sering ledek-ledekan dan banyak bicara namun kali ini terasa berbeda.

“ Udah selesai belum Miw biasanya juga makan cepet kenapa sekarang lama gini.” Ledeknya.

“ Ye aku kan masih kenyang tadi makan siang.” Jawabku menutupi rasa malu yang muncul pada diriku.

“ oh iya mungkin aku yang terlalu cepat karena menahan lapar dari tadi.” Jawabnya dan ucapan itu membuat tawa kami pecah, ya mungkin tidak begitu lucu namun bisa membuat kami tertawa menghilangkan rasa canggung yang sedari tadi ada diantara kami. Akhirnya kami selesai dan dia mengantarkan aku pulang.

“ Aku pulang dulu ya, terima kasih.” Ucapnya senyum manis terulas diwajahnya.

“ heh harusnya aku yang berterima kasih.” Balasku, dia hanya mengangguk lalu berpamit pulang.

Aku sempat menyuruhnya mampir namun dia menolak dengan alasan  tidak enak karena sudah malam. Syukur deh kalo dia ga mau mampir aku juga cuma basa basi, ga kebayang kalau dia benar-benar mau mampir kerumahku. Pasti ibukku langsung heboh mengira bahwa dia itu calon suamiku dan aku tidak mau itu. Aku merasakan tetesan hujan mengenai hidungku aku bergegas masuk kedalam rumah. Dan dalam batinku aku sangat berharap ibuku tidak melihat pria itu.

“ Mah, Miwa pulang.” Teriakku.

“ Kenapa calonnya ga disuruh mampir Mba, mamah piker ga ada cowo yang mau sama Mba ternyata ada ganteng pula, satu instansi sama Mba, wah cocok kalo gitu, mau kapan dikenali ke Mamah Mba, kalo bisa secepatnya.” Ucapan ibuku tiada bagaikan reporter yang sedang meliput suatu bencana yang baru saja terjadi. Ternyata harapan sirna ibuku sudah melihat pria itu, dan dugaanku selama ini benar dia mengira  pria itu calon menantunya.

 “ Mah Miwa capek, dan itu hanya teaman satu letting Miwa, bukan pacar dan bukan calon menantu mamah.” Jawabku pelan lalu meninggalkannya dengan penuh tanda Tanya diwajahnya.

Aku membaringkan badanku diatas kasur sejenak melepas lelah dan penat seharian bekerja. aku beranjak dari tempat tidurku bergerak untuk membersihkan keringat yang melekat ditubuhku. setelahnya aku kembali berbaring diatas kasur dan berusaha memejamkan mataku, namun pikiranku berkeliaran memikirkan Arfan. senyumannya terukir jelas di fikiranku, aku sering membayangkan bagaimana ketika dia bertugas. Tidak terasa senyuman mengembang diwajahku aku merasa begitu bahagia ketika membayangkan dirinya, apakah aku jatuh cinta dengan dirinya batinku. Namun dengan kuat aku menipis fikiran itu.

” argggh kenapa aku memikirkan dia.” ucapku frustasi.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

MISSE

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap