Cerpen Remaja Kisah Cinta Gondang Kasian dan Ratansari

Cerpen Remaja Kisah Cinta Gondang Kasian dan Ratansari 1

Gondang Kasian dan Ratansari adalah sepasang kekasih yang dipertemukan lewat sebuah mimpi diantara keduanya. Meski awalnya mereka tak pernah percaya akan adanya jodoh lewat mimpi ini tapi akkhirnya mereka sadar, bahwa kuasa Illahi itu di atas segalanya. 

Di sebuah Kerajaan Bumi,, hiduplah seorang raja yang sangat bijaksana. Sang Raja menerapkan peraturan yang sangat adil terhadap keluarga maupun rakyat yang tinggal di istana centris (istana sekitar kerajaan),, termasuk pada rakyat jelata yang berada dalam kekuasaannya. 

Sang Raja, menerapkan upeti hanya kepada rakyatnya yang memang dipandang mampu, dan tidak pernah membebani rakyatnya yang hidup dalam kesusahan. 

Raja memiliki seorang Putra Mahkota  yang berwajah tampan dan rupawan, yang kala itu sudah mulai meninggalkan masa kanak-kanak  dan memasuki usia remaja. Sifat putra mahkota memang tidak terlalu jauh dari karakter sang Raja, hanya  saja ketika dirinya memiliki sebuah keinginan, itu harus terkabulkan. 

Sebagai calon penerus tahta kerajaan, Putra Mahkota memang memiliki sikap yang tegas, sehingga Sang Ayah yakin, bahwa putranya kelak tidak salah jika dijadikan sebagai penerus tahta kerajaannya.

‘Gondang Kasian’ inilah nama yang diberikan Raja kepada putra mahkotanya. Seperti halnya Sang Raja, Sang Permaisuri pun sangat menyayangi putranya yang hanya semata wayang ini. Ibu Permaisuri juga berharap, jika suatu saat Gondang Kasian bisa menjadi pemimpin yang bijak dan dicintai oleh seluruh rakyatnya. 

Tidak seperti kebanyakan putra mahkota lainnya yang hobbinya ‘Sabung Ayam’ Gondang Kasian memiliki hobby layaknya zaman modern, yakni suka bermain bola. 

Gondang Kasian memiliki seorang pengawal pribadi yang dipekerjakan ayahnya saat Gondang Kasian masih kecil. Boleh dibilang sebagai abdi dalem kerajaan, atau tepatnya lagi seorang pengasuh bagi Gondang Kasian. 

‘Srindil’ Itulah panggilan yang sering dilontarkan Gondang kasian kepada pengawal pribadinya. Dalam kesehariannya Gondang kasan selalu menyebut ”Paman’ kepada Srindil. 

Sudah menjadi kebiasaan Gondang Kasian, sebagai seorang yang hobi bermain bola, setiap sore Gondang Kasian mengajak paman Srindil untuk bermain bola di alun-alun kerajaan. Alun-alun itu,  istilah zaman sekarang adalah lapangan.  Di alun-alun Gondang Kasian berkumpul dengan para pemuda desa, rakyat jelata, serta siapapun yang memiliki hobi yang sama. Belum juga lama bermain bola, Gondang kasian sudah merasa letih, dan mengajak pulang paman Srindil.

“Paman, hari ini aku merasa capek sekali, kita pulang dulu, aku mau istirahat di istana, besok kita bisa main lagi. Baik Ndoro, paman ikut saja, paman juga melihat ndoro sangat letih dan kurang bergairah sore ini”

Mereka berduapun memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah Gondang Kasiah langsung rebahan di serambi kerajaan. Dalam sekejap saja, tampak sudah tertidur sangat pulas.

Tampaknya Srindil belum puas bermain bola di alun-alun tadi. Kebetulan juga waktu belum terlalu sore, sembari menunggu bendoronya tertidur, Srindil terus bermain-main bola.  Melakukan dribblinglah. Heading, cara Intercept, Juggling, berulang-ulang. Entah tak tahu mengapa, rupanaya Srindil juga memiliki hobby yang sama dengan bendoronya, yakni bermain bola.

Ketika tidur itulah, Gondang Kasian bermimpi bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik jelita. Tidak tahu datang dari kerajaan mana, sang putri hadir dalam mimpi Gondang Kasian. Rupanya pertemuan dalam mimpi ini, membawa rasa yang sama, yakni, dalam mimpi itu Gondang Kasian jatuh hati pada sang putri. Begitu pula yang dirasakan Gondang Kasian, tampaknya sang putri itu juga jatuh hati kepada Gondang kasian. Mereka sempat memadu kasih dalam alam mimpi, bahkan terjadi terjadi dialog antara dua insan itu.

“Pangeran, apakah ini tadir kita, Dewata yang Agung telah mempertemukan kita. Aku tak tahu darimana asal pangeran, tetapi… Aku merasa begitu nyaman bertemu dengan Pangeran” Begitulah penuturan sang putri dalam mimpi Gondang Kasian.

“Begitu pula yang aku rasakan, putri. Aku juga tak tahu darimana asalmu, tapi, aku benar-benar akan menjatuhkan pilihanku, hanya kepadamu”

“Jika boleh hamba tahu, siapakah gerangan nama Pangeran? Aku Gondang Kasian, dan putri sendiri siapa? Aku putri Ratansari”

Sudah hampir satu jam Gondang Kasian tertidur, mungkin karena sedang letih, hingga hari menjelang maghrib Gondang Kasian belum terbangun juga. Kala itu Gondang Kasian sedang menikmati kebahagiaan dalam mimpi bersama seorang putri nan cantik jelita.

Tiba-tiba, “Braaak” bola mengenai jendela istana, dan mental tepat di dada Gondang Kasian yang saat itu masih tertidur pulan. Seketika itu Gondang Kasian terbangun, dan dengan ekspresi marah besar Gondang Kasian bertanya kepada Srindil yang sedari tadi masih terus berlatih bola dan kebetulan berdiri di dekat rebahan Gondang Kasian.

“Paman, Jawab, siapa yang berani membangunkanku!” 

“Pamaaan …!!! mengapa paman terdiam!? Ma…ma…maafkan paman Ndoro, Paman tidak sengaja tadi masih bermain bola, dan bolanya terpental mengenai ndoro, (sambil bersujud) maafkan paman Ndoro”

“Tidak, paman! Paman telah melakukan kesalahan fatal, dan sangat fatal. Paman telah membangukan aku disaat aku sedang bertemu dengan seorang putri. Belum juga aku menanyakan darimana asal putri itu, paman telah berani membangunkanku.”

“Terus, Ndoro, apa yang harus Paman lakukan untuk menebus kesalahan Paman ini? Apapun akan Paman lakukan agar Ndoro mau memaafkan kesalahan Paman”

“Dengar Paman,… Aku tidak akan menggantung paman, dan aku juga tidak akan mencambuk paman, tapi aku akan memberimu bekal secukupnya, dan paman harus cari seorang putri yang bernama “Ratansari.” 

“Paman jangan pernah kembali sebelum membawa kabar tentang keberadaan di mana Putri Ratansari. Jika Paman tidak berhasil, maka aku tidak segan-segan unuk memenggal kepala Paman. Paman tidak seorang diri, tapi akan diikuti beberapa orang pengawal, dan jangan coba-coba untuk berani lari dari kerajaan ini! 

“Baiklah Ndoro, paman akan cari dimana Putri Ratansari itu berada. Paman yakin, jika itu memang calon jodoh ndoro, pasti Paman akan menemukan purti itu”

Dengan perbekalan yang cukup serta kuda-kuda yang bisa menembus dimensi luar angkasa, berangkatlah Srindil beserta dua orang yang menemaninya, yaitu Jamal dan Jamil. 

Meski Srindil hanya seorang ‘Abdi Dalem’ tapi saat dalam misi pencarian Sang Putri, Ia mengenakan pakaian prajurit, dan dengan persenjataan yang lengkap.

Mereka telusuri setiap sudut negeri hingga ke pusat-pusat pemerintahan kerajaan lain demi untuk mendapatkan seorang putri yang bernama Ratansari.

Pada saat di darat kuda-kuda yang mereka bawa akan berlari dan berjalan layaknya binatang darat, tapi pada saat di angkasa kuda-kuda yang mereka kendarai akan terbang laksana pesawat.

Cerpen Remaja Kisah Cinta Gondang Kasian dan Ratansari 3

Dalam petualangan mereka mencari putri Ratansari, tak jarang mereka harus berhadapan dengan jawara-jawara negeri lain, atau juga para praurit kerajaan yang menjaga setiap pintu gerbang kerajaan. Tetapi kebetulan, Srindil, Jamal, dan Jamil adalah orang-orang terlatih dalam hal bela diri, sehingga tak mudah bagi para jawara maupun prajurit untuk mengalahkan dan mengembalikan mereka. 

Bukan hanya mingguan, tapi sudah bulanan, bahkan hampir setengah warsa (tahun), mereka mencari keberadaan Sang pujaan hati Gondang Kasian.

Pada suatu ketika tibalah mereka di sebuah padepokan, yang di sana terdapat seorang empu yang biasa membuat keris.

“Sampurasun…samurasun…sampurasun…!! Rrraammmpes” itulah jawab seorang empu yang sudah mendekati usia senja, dan kebetulan sudah kurang pendengarannya.

“Permisi, eyang, kalau boleh saya bertanya, apakah eyang pernah mendengar seorang putri yang bernama Ratansari” 

“Apa nak, Lambangsaari? tak a…da na…ak. Bukan, eyang bukan Lambangsari, tapi putri Ratansari’ Siapa…?”

“Putri Ratansari, Eyang.”  “Ooo….ya, ya, ya ” 

Tampak ada rasa lega pada diri Srindil, Jamal, dan Jamil. Karena rupanya sudah ada tanda-tanda kalau kakek ini tahu dan mengenal siapa putr Ratansari.

“Jadi, Eyang,… Eyang kenal dengan Putri Ratansari” 

“Siapa, nak? Eyang nggak jelas, apa yang anak katakan” 

Sontak ketiganya bengong kembali, ternyata ucapan ya,ya,ya si eyang bukannya sudah kenal, tapi memang reflek semata.

Srindilpun menempelkan mulutnya di dekat telinga si eyang, seorang empu yang sudah tua itu.

“Putri RATANSARI, Eyang…!!! “Ooo…..” jawab Eyang.

“Paham, Eyang?”  

“Ya, Eyang pernah mendengar nama putri itu.  Belum lama ini ada seorang prajurit yang memesan keris pada Eyang, yang katanya untuk putri yang bernama Ratansari. Ia, tinggal di istana Atas Angin, di Kerajaan Langit. Jika kalian ingin ketemu, kalian harus bisa menembus awan, mengarungi cakrawala, dan siapkan mental kalian untuk menghadapi halauan dari kekejaman mahluk-mahluk luar angkasa”

Mendengar berita ini, ketiga pegawai Kerajaan Bumi itu terdiam sejenak, alangkah beratnya misi yang harus mereka jalankan. Tetapi, lagi-lagi kesetiaan orang-orang masa lalu tidak bisa diragukan. Dengan segala keyakinan ddalam diri mereka, maka akan dijalani segala daya dan upaya mereka.

“Terima kasih, Empu, dan ini ada sedikit kepeng buat empu, sebagai rasa terima kasih kami, karena Empu telah menunjukkan jalan buat kami”

“Tidak usah repot-repot, nak” kata empu sambil mengantongi kepeng yang diberikan. 

“Kami permisi untuk berangkat, empu”
“Baiklah, do’a eyang menyertai kalian, jaga diri kalin baik-baik”

Mereka pun meninggalkan padepokan itu, dan melesat dengan kuda-kuda mereka yang bisa menembus cakrawala. (…bersambung)

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno