Cerpen Remaja Singkat : Mengejar Cinta Setia


Cerpen Remaja Singkat : Mengejar Cinta Setia 1

Setia, seorang dara cantik yang kini tengah duduk di bangku kuliah semester 5, adalah sosok yang menjadi dambaan Reybond pemuda yang berasal dari kampus yang sama. Setia memang sudah memasuki usia dewasa, tetapi tampaknya memang belum bisa menemukan jati diri, siapa, dan akan kemana dirinya diarahkan. Sebagai pemudi yang masih dalam pencarian jati diri, Setia memang masih sulit untuk menentukan sikap, harus bagaimana saat menghadapi situasi yang seakan memaksa dirinya untuk menentukannya. Begitu pula dalam percintaan. Sementara Reybond, adalah pemuda yang sudah cukup matang dalam pemikirannya, sudah terbiasa menghadapi situasi sulit, dan bisa mengerti keadaan dalam kondisi apapun.

Tahun 2020, menjadi awal pertemuan antara Reybond dan Setia. Saat itu adalah bulan Ramadhan tahun 1441 H atau tepatnya bulan Ramadhan tahun 2020. Seperti kebiasaan Setia, setiap bulan Ramadhan Setia selalu menjalankan ibadah shalat tarawih di surau.

Awalnya, Setia mengikuti shalat tarawih di salah satu surau yang melaksanakan shalat tarawih dengan mengambil 8 rakaat + witir.  Namaun sebagai orang  yang mengikuti mahdzhab Syafi’i,  Setia dan keluarga merasa kurang puas dengan menjalankan tarawih hanya 8 rakaat, dan memutuskan untuk pindah di surau yang menjalankan tarawih dengan 20 rakaat + witir. Sejak kepindahannya itulah antara Reybond dan Setia dipertemukan.

Malam pertama, tak ada tanda-tanda pemuda yang melirik Setia, sehingga Setiapun merasa nyaman dalam beribadah, karena memang niatnya adalah tulus hanya demi ketaatan semata. Apalagi, selain sebagai seorang mahasiswi, Setia adalah alumni  dari salah satu pesantren yang terkenal di provinsinya, sehingga wajar jika Setia memang selalu taat dalam beribadah.

Hingga sampai malam ke-5 Setia masih merasa nyaman, tapi begitu memasuki malam ke-6, Setia merasa terkejut dibuatnya. Karena pada malam ke-6 itulah ada seorang pemuda yang sudah cukup dewasa tiba-tiba datang menghampirinya, saat Setia mengambil air wudlu. 

“Hai,… ” kata pemuda itu. Setia hanya tersenyum.

“Kok cuma senyum lho” lagi-lagi pemuda menggoda. “Hai, juga” Setia menyambut sapaan pemuda itu, yang tidak lain adalah Reybond.

“Sendirian aza…? 

“Nggak, sih, ama mami” begitu jawab setia. “Wah, anak mami ya? kemana-mana masih dikawal mami” 

“Bukan begitu juga si mas… kan memang mami juga mau shalat tarawih.” 

“Boleh kenal donk namanya” kata Reybond. Tapi, tiba-tiba terdengar…

“Dung…dungdung…dung-dung-dung” Rupanya sudah masuk waktu isya. 

“Udah dulu, ya mas,..aku mau masuk”

“Eh,…aku kan belum tahu namamu”

“Iya, mas, besok lagi, lagian aku tak enak sama orang-orang, tuh, semua pada ngliatin.”

Setiapun masuk ke surau bersama dengan para jama’ah yang lain. Begitu juga dengan Reybond, dirinya pun turut masuk untuk menjalankan shalat isya yang akan dilanutkan dengan shalat tarawih.

Sepanjang shalat isya dan shalat tarawih, terus terbayang sosok cantik yang akhir-akhir ini baru Reybond lihat. Dalam hatinya, “aku harus bisa mendapatkan cintanya. Aku tahu, gadis ini masih polos, dan aku akan berusaha untuk mendekati ibunya, dan selepas shalat tarawih nanti, aku akan berkunjung ke-rumahnya.” itulah bisikan hati kecil Reybond sepanang shalat dimalam itu.

Begitu sebaliknya dengan Setia, yang sebenarnya sudah lama mengenal Reybond, karena selain aktif dikegiatan Islami, Reybond juga terkenal sebagai salah satu guru seni di lingkungannya.

“Buat apa sih, mas Reybond tanya-tanya tentang namaku, aku kan jadi malu sama teman-teman yang terus memperhatikanku. Belum lagi, mamaku dari tadi uga mengintaiku dari baik jendela surau. Huh…! jadi nggak nyaman lagi rasanya.” itulah gerutu Setia yang kini merasa kurang nyaman dalam beribadah.

Seperti apa yang bergejolak dalam hati Reybond, selepas menunaikan shalat Isya dan tarawih, Reybond segera pulang dan siap-siap berganti pakaian layaknya seorang pemuda untuk anjang ke rumah Setia. Waktu baru menunjukkan pukul 20.30 menit, artinya belum terlalu malam, apalagi jarak rumah Reybond dan Setia juga tidak terlalu jauh hanya kira-kira 400 meter. Hanya saja karena selama ini Setia tak pernah tinggal di rumah lantaran sedang mondok, makanya selama itu pula Reybond  juga tidak pernah mengenal Setia. Ditambah lagi perbedaan usia mereka memang boleh dibilang terpaut agak jauh yakni sekitar 13 tahun.

“Tok…tok….tok… assalamu’alaikum ,…assalamu’alaikum” terdengar suara seorang cowok yang sedikit agak asing.

“Wa’alaikum salam…Ooo…silahkan masuk mas” 

“Ya, terima kasih.” 

“Duduk, mas…aku ganti dulu (sambil masuk ke kamar pribadinya)”

Sekejab saja Setia sudah berganti pakaian, dan duduk menemui Reybond.

“Sendirian aja, mas?”

“Yah,…seperti yang kamu liat. Aku kan cowok harus berani dong” 

“Iya, dee..h percya. Trus, mau minum apa nih? teh,..kopi,..tau yang laen? di sini lengkap lho.”

“Percayalah…situ kan kantin, hehe. Ngomong-ngomong mana mami dan pipi?” 

“Lok mami ada di kamar, tapi lok papi biasalah…keluar kota. Maklaumlah kan orang kaya” begitu canda setia.

“Ya, sudah,… tunggu dulu ya mas, aku bikinin minuman” Setia masuk dapur untuk membuatkan minuman buat Reybon.

Pada saat yang sama Bu Anti keluar dari kamar, dan menghampiri Reybond.

“Oh, mas Reybond? Iya, Bu… Kok sendirin aja, nggak najak-ngajak temen buat ngobrol”

“Iya, Bu…habis teman-teman tadi katanya akan pada tadarus Alqur’an” 

“Ya, sudah…silahkan diteruskan ya, ibu mau ke kamar, kebetulan adiknya Setia baru tidur, biasanya mencari ibu kalau terbangun”

“Iya, terima kasih, Bu”

Ibu Setia masuk dalam kamar, dan Setia telah keluar dari ruang dapur dengan membawa segelas teh dan makanan ringan yang sudah siapkankan buat jajan snack lebaran.

“Airnya mas… diminum, maaf ya kalau kurang manis” 

“Gak pa-pa, cukup liat yang buat jjuga udah manis”

“Ah, mas ini bisa aza” dan sejenak Setia terdiam tak ada candaan.

“Koq diam? habis mau ngomong apalagi mas..? Ya..ngomong apalah yang penting gak sepi”

“Pengin ramai? tuch di warung sebelah ada penjual petasan, beli saja semua, trus nyalain semua, rame deh”

“Ih..kamu bisa banget lho”

“O, ya… lanutin yang tadi”

“Yang tadi apa ya mas? (Setia sok belagak pilon)… ya, yang tadi saat di Surau, situ kan belum menjawab pertanyaanku, siapa nama situ, dan selama ini kok aku tak pernah melihat situ”

“Oooh yang itu, memangnya penting banget ya mas? sampai dilakonin jauh-jauh datang untuk nanyain nama aku” 

“Kayaknya sih, lebih dari penting lho…”

“Ya, udah dee..h aku nyerah, aku ‘Setia’ Mas…, Sudah tiga tahun ini, aku memang tidak bersama papa-mama, karena pengin belajar agama di pesantren. Makanya wajar kalau mas tak pernah melihat aku. Lagian buat apa lho mas, kok tak ada angin, tak hujan…tiba tiba mas pengin tahu tentang aku”

“Tapi, gak salah kan…kalau aku pengin tahu situ? ya, tidak sih, mas…lagi pula mas kan cowok, dan aku cewek, yaa, aku juga bisa maklum”

“Syukurlah kalau begitu…tapi ngomong-ngomong lagi situ gak ingin tahu namaku?”

“Ah, mas Reybond,…(Reybond terbengong) kok Setia sudah tahu namanya, dari siapa Setia tahu namaku, sementara aku bertemu saja baru tadi sore” begitu pikirnya dalam hati.

“Lho…! kok situ tahu namaku…”

“Siapa lho mas yang nggak tahu mas Reyond…kn orang sekampung juga tahu, kalu mas Reybond guru musik.” 

“Ah..jadi malu…” begitu kata Reybond sambil menggeser posisi duduknya.

“Minumnya lho mas Reyong..kok cuma diliatin saja. Iya,..”aku minu ya…(sambil menyeruput teh manis buatan gadis yang nampaknya jadi dambaan Reybond.

Ditengah percakapan mereka, tiba-tiba Ibu setia memanggil dan bertanya “Setia,.. ya, Mi… sudah jam berapa? Jam 22.05 menit Mi…Ooo…h”

Reybond tahu persis, kalau waktu sudah mulai larut malam, dan dengan pertanyaan Ibu Setia, Reybond merasa kurang enak, dan siap-siap untuk mohon diri.

“Kenapa, mas…? kok keliatannya Mas Reybon gelisah, tak enak sama Mami ya?”

“Yaa… gitu lah kira-kira. Aku pamit dulu ya. Lhoo..kan airnya masih banyak, dihabisin dulu dong, entar nyesel lho gak minum buatan si cantik” ledek Setia.

“Pastilah…pasti aku habisin (sambil mengangkat gelas dan meneguk teh manis itu hingga tinggal kira-kira sepertiganya)”

“Kalau begitu, aku permisi dulu, ya… lain saat insa Allah aku main lagi. Ok, mas”

ilustrasi mengejar Cinta Setia
ilustrasi mengejar Cinta Setia

Reybond pulang dengan perasaan lega, karena kunjungan pertamanya tampaknya disambut baik, dan sepertinya Setia juga suka dengan kedatangan Reybond. 

Hari-hari dilalui selama bulan Ramadhan, keduanya lebih sering bertegur sapa di Surau saat-saat shalat isya maupun shalat tarawih belum dimulai. Namun demikian Reybond memang belum menyatakan apa-apa selain perhatian dan sikapnya yang menunukkan ada rasa suka dan berharap untuk bisa bersama.

Ramadha telah berakhir, kumandang suara takbir dan alunan beduk yang bertalu-talu menambah semaraknya malam idul fitri. Dimalam itulah, melalu pesan suara singkat Reybond mengajak ketemuan Setia, yang rencananya akan mengajak Setia untuk menemani alan-jjalan selama idul fitri. Inilah pesan suara yang dikirim Reybond kepada Setya.

“Asslamu’alaikum Setia…kangen deh rasanya sudah seminggu gak ke rumahmu. Aku berencana, ingin sekali mengajak kamu nemenin aku silaturahmi di tempat saudaraku. Setia bersedia kan?”

Jawaban Setia…

“Aku nggak bisa janji mas… lagian ada juga teman kampus aku yang ingin mengajak aku jalan…tapi insa Allah aku usahain”

“Please…tolong sih temenin aku… Trus temenmu itu cewek apa cowok?” tanya Reybon lewat pesan suara. 

“Ih Mas Reybon keppo deh… pengin tahu, apa pengin tahu banget?”

“Ya, pengin tahun bangetlah.. hehe” jawab Reybond dengan kesabarannya.

“Tenang Mas…teman aku itu cewek kok mas”

Dalam hati Reybong ” Syukurlah, ternyata hanya seorang cewek yang akan mengajak Setia jalan-jalan.

“Sudah, ya mas… besok aku kabari aku bisa atau tidak”

Hari ke-2…… “Klunting…” HP Reybond berdering. Ada pesan singkat dari Setia dan dibukanya pesan singkat itu.

“Mf ms…(hati Reybond was-was) pasti Setia tak bisa menemani dirinya, begitu pikirnya. Lalu Reybond melanjutkan membaca SMS itu..

“Q gx bs ms…(Sontak Reybond kecewa) dan  lanjut membaca “Q tk bs mnolak ajakanmu” begitu pesan singkatnya “Tp..Q bs’ny hari ke-7”

Meski kecewa, Reybond tetap gembira karena Setia ternyata bersedia menemani dirinya silaturahmi di hari raya tahun ini. Harapannya sih bisa jalan pada hari ke-2 atau ke-3, tapi, buat Reybond tak apa-apa mesti harus meng-cansel jadwal yang semula ditentukan.

Ajakan Reybond dihari ke-7 itupun belum juga ada ungkapan rasa yang selama ini terpendam di hati Reybond. Ternyata Reybon mencoba mengambil simpati lewat Ibu Setia, yang kelihatannya sangat mendukung Reybond dengan putrinya.

Tapi, apa mau dikata, ungkapan kata hati Reybond yang disampaikan melalui ibunya, bahwa dirinya sangat menyintai putrinya, ternyata tak sehangat teh manis yang dihirupnya saat pertama kali anjang di rumah Setia.

Setia tak memberikan jawaban apapun, apakah dirinya menerima, atau malah menolak. Perhatian lebih dari Reybond di sikapi secara biasa,  dan persahatan mereka seperti mengalir apa adanya tanpa ada hal yang terlalu istimewa atau juga yag membuat Reybond kecewa. 

Saat Reybond mengajak jalan, Setia pun mengikutinya, tapi saat ditanya soal perasaannya dirinya tak pernah memberikan jawaban. Inilah yang membuat Reybond terus berusaha cinta setia. Tentang bagaimana akhirnya kelak, itu semua hanya kuasa Illahi, karena manusia hanya bisa berharap tapi keputusan tetap di tangan Illahirobbi.

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap