Cerpen – Rindu Yang Hilang di Suatu Taman

Cerpen - Rindu Yang Hilang di Suatu Taman 1

Pada helaan nafas berikutnya, masih disebut nama perempuan itu. Dalam rinai kerinduan yang bergerombol seperti laron laron merubung neon, di taman itu, malam ini.

“Helen…rindu ini tlah membawaku berlari mendatangimu. Tapi kau mematahkannya tanpa ampun” Ratapannya serupa bisik, yang terbawa lirih angin kering. Menerbangkan suaranya ke udara. lalu lindap dalam ruang kedap.

Ia merebahkan diri di atas rerumputan, yang telah basah dicumbui kabut. Rendezpous seperti biasanya antara kabut dan daun dan rerumputan. Lalu Ianya menjelma embun bening yang merangkul erat.

Ia ingat wajah manis kekasihnya, saat Ia pamit  untuk berjuang. Kelembutan yang setiap saat menjaga rasa kala berjauhan. Dan sesaat tadi,  Ia lihat ujung kelopak matanya yang mawar, bergerak gelisah dan membendung air bening.

“Aku rindu kamu, Helen!!”

Tangisnya pecah seperti hujan bersama gemerisiknya.

“Maafkan Aku..Vin!”

Ia tertegun. Pada matanya, Vin melihat rindu yang masih seperti kelopak mawar. Mata Vin basah. Tatap yang kemudian melemah. Sesaat sebelum menjemput rindunya yang abadi, Vin melihat bulan bulat bersiluet hitam, tertusuk pucuk ilalang. Langit berdarah-darah. Merahnya telah bersimbahan di tubuh Vin.

***

Malam berwarna kelam. Seorang perempuan yang terbiasa duduk berangkul  kabut, tiba di taman itu. Duduk di sebuah bangku. Menetralkan wajah bekunya dengan senandung.

Hampir setiap malam Ia hirup aroma sepi dari wewangian serumpun melati di bawah lampion sana. Bertabrakan dengan segar wangi mawar.  Sambil membawa pikirannya yang setiap hari terasa kacau. Di usia semuda itu, dengan dua anak dan seorang perempuan jompo yang menghuni rumah kecilnya, nafasnya terasa kembang kempis untuk bertahan setiap harinya. Sejak laki-laki itu pergi melepaskan rindu, untuk mengejar bintang yang katanya terlihat berkilau di sudut negeri  lain. Lalu hingga malam ini ketika bulan kehilangan cahayanya, lelaki itu tak pernah kembali.

Malam ini Ia membaui aroma yang amis menyengat. Ia mencoba mengabaikan penciumannya. Ada yang lebih penting untuk menafikan keadaan dan aroma yang dihirupnya malam ini. Ia membuka ponsel.  Mencari kontak yang bertebaran nama nama. Dipijitnya salah satu nomer. Ponsel itu didekatkan ke kupingnya.  Lama tak ada yang mengangkat. Mata perempuan itu bergerak gelisah. Penciumannya pun turut gelisah. Bau itu kian mengganggu.  Bau amis yang segar.

Ia berdiri, terkagetkan oleh kucing liar yang mengeong pula. Matanya mengitar ke sekeliling. Ke dekat perdu yang tengah berbunga kecil-kecil. Matanya tertumbuk pada sebujur tubuh.

Di atas, bulan sedang malu-malu kucing. Mengintipkan wajah piasnya di balik awan hitam. Sedikit saja. Mungkin ia sedang menyembunyikan luka-lukanya.

***

“Kenapa tak kau biarkan aku direnggut rindu, malam ini?”

“Kau bodoh! Yang merenggutmu bukan rindu. Tapi suatu ketololan. Seekor punggukpun, tidak selamanya merindukan bulan. Ia terkadang memberi pesan, lewat siulannya, untuk menautkan satu kerinduan kepada yang lainnya. Hidup ini bukan dongeng Bung! Meski terkadang, banyak sandiwara di dalamnya!”  Perempuan itu, membalutkan syal pada luka di nadi Vin.

Ahh, selembar syal yang hampir buruk inipun terkadang banyak kegunaannya. Percaya atau tidak, syal yang Ia kenakan dapat menjadi pelindung, penjaga, pengobat dari segala penyakit, malapetaka dan kejahatan. Ia juga tidak mempercayainya. Tapi berkali-kali, syal itu membantu menyelamatkannya. Ada sejenis buaya yang hampir dicekiknya, ketika menghadang Ia pada suatu malam. Syal itu pula yang bisa dijadikan penyamaran, saat perempuan itu menguntit kekasihnya yang berselingkuh dengan janda kembang.

Malam kian tua, saat darah di nadi lelaki itu berhenti mengalir oleh bantuan getah Jarak kintir. Sederhana saja. Saat lelaki itu menolak untuk dibawanya ke klinik.

Ketika luruhan kabut terasa dingin merembesi ubun-ubun, lelaki itu berhasil dirayu si perempuan.

“Pulanglah. Rindu itu hal yang sangat sederhana. Asal kau bisa mengobatinya dengan waktu. Tidak seperti Aku. Waktu hanya mengajakku berpacu. Jika tidak begitu, banyak jiwa yang akan sia-sia. Aku..tak lagi sempat berpikir tentang rindu. Meski tanpa kehadirannya, Ia telah menghampakanku” Perempuan itu berbicara dengan suara lirih.

“Apakah kita tidak pantas bahagia? Bukankah kebahagiaan itu hak semua bangsa? Tidak terkecuali bangsa dedemit, bangsa jin, bangsa liliput atau drakula sekalipun, mereka berhak bahagia tanpa kecuali…” Laki-laki itu sudah bisa mengukir senyum dibibirnya. Meski terlihat sangat sepat.

“Kau berhak bahagia. Kau tahu jawabannya…” Perempuan itu seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Tapi kenapa selalu saja bahagia itu tidak merata tumbuhnya? Selalu saja ada yang sepertinya ditakdirkan untuk berkubang dalam kesedihan?” Vin masih mengeluh.

“Itulah cara Tuhan mengajarkan kita untuk merasakan seninya hidup.  Jika kita bahagia selamanya, bahagia semuanya, kita tak akan merasakan keindahan sebuah gelombang hidup. Jalanpun tak selamanya lurus dan mulus. Darat, laut, udara, semua selalu ada guncangan dan berkelok liku. Tinggal kita yang harus lebih ekstra hati-hati.  Pada akhirnya, kita semua akan sampai pada tujuan akhir. Hanya yang cepat atau yang terlambat tiba. Dan bukankah akhir itu adalah ketiadaan?” lagi, ia katakan itu seperti untuk dirinya sendiri.

Ratusan malam Ia tapaki, dengan keterpaksaan ketika duapuluh empat jam tak cukup baginya untuk berjibaku dan bergumul dengan segala kebutuhan yang merungkupnya. Mendatangi pelanggan-pelanggan dan kadang mendapatkan kekurang ajaran. Sebagai janda muda yang mencari nafkah memenuhi panggilan memijat, tentu pelanggan pun sudah tak mungkin Ia pilih. Toh laki-laki dan perempuan dengan satu kebutuhan sehat, akan memberinya upah yang sama.

Bisa saja, dengan dandanan dan kemudaannya Ia memilih menjual jasa yang paling mudah. Tapi rasa malu pada Tuhan masih bersemayam dalam hati ringkihnya. Laki-laki datang dan pergi, menanggalkan ranting-ranting luka yang meranggas di hatinya. Ia hampir tak memiliki kerinduan, setelah semuanya terampas.

“Kau merasa hidupmu paling menderita tingkatan akherat, Bung. Hingga kau bodoh menyia-nyiakan hidup hanya karena rasa rindu yang buntu. Kau lihatlah Aku. Aku yang mencoba untuk selalu bahagia, meskipun sudah lama Aku tak memiliki rindu. Kau harus mencoba, mula-mula untuk bahagia. Nantipun Kau akan merasa, bahkan ketika sedih ketika susahpun, Kau akan merasa bahagia. Pulanglah, helai rambutmu sudah serupa pucuk daun. Sebentar lagi, butiran embun akan menggelayut manja di sana…”

Guratan senyum meski hanya menggaris di bibirnya. Vin merasakan sejenak tadi ia telah mati bersama kerinduannya. Dan rindu itu pula, yang membuatnya terbangun dengan rasa yang masih sama. Mereka berdua beranjak, membawa dua pasang kaki melangkah susul menyusul, meninggalkan taman sepi di pinggiran jalan. Menjelang subuh ini, dua insan itu meninggalkan Taman yang mulai lekat oleh luruhan kabut.

***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning