Cerpen – Rumah Masa Lalu Luka


Cerpen - Rumah Masa Lalu Luka 1

Luka mematung di depan bekas rumah masa lalunya. Di sisinya berdiri saudara sepupu dia, dengan dandanan syar’i yang tak menutup keglamourannya. Maklum, semua yang dia pakai merupakan barang endors yang dijual di butik itu. Dari hijab, gamis modern, jam tangan, wedges hingga gelang kaki.

Butik dan galeri aksesories yang lumayan laris. Luna menyulap rumah kecil Luka berdasarkan perhitungan bisnis yang matang. Percis seperti Mamanya, Bi Kia. Sukses menjadi pengusaha peremnpuan yang cukup terpandang di kota kecil itu.

Hidup telah diperhitungkan betul. Tidak seperti  Ibunya, ingin hidup mewah tapi semua mengandalkan gaji Ayah sebagai securiti suatu perusahaan lokal. Ibu tak bisa membendung syahwatnya dalam menggunakan uang. Membeli perabotaan, baju, semua dihasilkannya dari pinjaman rentenir. Terjerat hingga puluhan juta tanpa sepengetahuan Ayah. Dan rumah mungil itu melayang ke tangan Bi Kia untuk melunasi semua hutangnya.

“Duit itu tak mengenal saudara. Maaf Mbak Pia, saya beli rumah ini karena ini pemberian orangtua. Saya nggak mau rumah ini jatuh ke tangan orang lain!”

Artinya,  Kia tak berniat menolong saudaranya cuma-cuma. Rumah itu pun berpindah tangan. Pia tak bisa membujuk Kia yang terkenal sangat perhitungan, untuk sekedar meminjamkan uang.  Luka keluar dari rumah yang sedari lahir ditempatinya itu bersama satu adik dan kedua orangtuanya. Mengontrak petak kecil tak jauh dari situ.

Pada tahun pertama masa sekolahnya di SMK, Luka memilih drop out. Tak ada yang mampu menyurutkan niatnya. Sekalipun Bi Kia dan Luna menyanggupi untuk membantu biaya sekolah.

“Sekolah tidak penting, yang penting itu duit. Aku sedang mengalami masa-masa sulit dan menyakitkan tanpa ada uluran tangan. Sakit saat Ibu dan Ayah terusir dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya hanya karena tak mampu membayar  uang bulanan kontrakan. Aku mau kerja yang bisa menghasilkan duit dengan cepat!” begitu tekad Luka yang disampaikannya pada Luna.

Luka merasa canggung saat memasuki  sebuah Pub yang termashur di pusat kota. Seorang teman mengajaknya bekerja menjadi waitres di sana.  Teman yang datang dengan  menunjukkan hasil Ia kerja di sana. Sebuah mobil dan rumah mungil, pun menjadi kejaran Luka untuk menebus semua yang telah hilang dan menggoreskan rasa sakit akan kemiskinan yang menjadi kubangan keluarganya.

Luka tak menggubris suara-suara sumbang di sekelilingnya. Ia pulang sebulan sekali serta menambal kebutuhan hidup orangtuanya. Jikapun tidak, Ibu atau Ayahnya akan datang meminta jatah. Luka tidak bisa menolak. Tabungan untuk membeli mimpi-mimpinya tak pernah penuh. Selalu saja bolong di awal bulan.

Tahun ketiga, saat Usia Luka sembilan belas tahun, seorang bos muda yang dikenalnya di Pub, mengajaknya menikah. Untuk itupun Luka tak berpikir panjang. Di akhir tahun, Luka menikah dengan pria muda tajir itu.

Rumah besar meski masih tinggal dengan mertuanya, dua mobil mewah dan tiga mobil colt bak untuk mengantarkan barang pesanan serta satu toko bahan bangunan dan satu lagi toko spare part kendaraan dinilai cukup layak untuk mulai bangkit dari himpitan sakit luka-luka masa lalunya.

Kini, Luka berdiri di depan rumahnya. Menghentikan lamunan yang terasa menyakitkan. Selalu menyakitkan. Katanya hidup itu pilihan. Tapi Ia tak bisa memilih untuk bisa seperti Luna. Menjalani hidup tanpa riak apalagi gelombang. Dari kecil ia lurus dalam jalan yang sama. Meneruskan jalan yang telah dijejak orangtuanya. Jalan yang penuh onak dan membuat sekujur tubuhnya carut marut oleh goresan-goresan luka. Atau..itu karena namanya, Luka? Raluka Destia…

“Jika saja..waktu itu kau terus  melanjutkan sekolah, Ka…” Luna menggerundeng di sisinya.

Luka tersenyum. Pahit.

“Kamu tidak akan mengerti Na. Tidak sesimpel itu posisiku dulu. ..”

“Tapi Mama mau membantu kamu… Meski tidak untuk Ibu Kamu. Mama punya alasan tersendiri Ka…”

Luka hanya tersenyum saja. Percuma menjawabnya. Apapunlah itu, jika seorang saudara peduli sama saudaranya, pasti semua akan baik-baik saja. Bi Kia kaya raya, jika dia peduli, Ia tak akan setega itu mengambil rumah untuk menolongnya.

Tapi sudahlah, toh itu sudah hukum alam. Bukan hanya Luka yang mengalami hal seperti itu. Ada lagi yang lebih tragis. Saat saudara yang satu sukses, dengan pencapaian dalam segala bidang di puncak yang paling tinggi, sudaranya yang lain sedang mengais-ngais sampah di comberan. Tak perlu dikeluhkan sangat.

Yang jelas, hidup itu harus terus diperjuangkan. Entahpun dari mana titiknya untuk memulai dan akan berakhir di pencapaian tingkat mana? Toh tetap harus dijalani sebagai takdir.

Takdir??

Rumah masa lalunya hanya tinggal kenangan. Kenangan yang memanjang dan beraroma pahit. Pahit yang berlangsung hingga sekarang.

Lupakan saja harapan itu. Bi Kia dan Luna sudah menyulap rumah masa lalunya menjadi pusat bisnis yang menjanjikan. Tak mungkin mereka mau melepas lagi untuk alasan apapun. Meski dulu Luka berharap ingin mengumpulkan uang untuk membeli kembali rumah mungilnya.

Semua sudah berubah. Impian-impian itu hanya tetap tinggal mimpi beserta bunga-bunganya. Tak berbuah dalam kenyataan.

Luka menghela nafas panjang.  Untuk yang terakhir kalinya sebelum Ia pulang ke petak sempit kontrakan orangtuanya, Luka melayangkan tatap pada bangunan menjulang berlantai dua. Bangunan yang cukup megah milik Sepupu dan Bibinya. Kenangan itu tak ada sisa. Sekalipun sepotong tembok atau sebatang batu bata. Semuanya sudah dimusnahkan. Disulap menjadi bangunan megah di depannya.

Kenangan itu hanya tersisa di hati. Merintangi setiap perjalanan. Dan tetap terjaga dengan segala kekusaman dan sisa sisa luka yang terus mebekas dan menguntitnya, kemanapun ia pergi dan meski telah sejauh apapun ia melangkah. Pada akhirnya, ia kembali jatub pada kubangan yang sama, untuk bergelut dengan kemiskinannya yang abadi.

“Aku titip De Fadil Ma….” Luka mencium pipi ranum bocah dua tahun itu.

Mamanya mengangguk. Mengangsurkan kedua tangan. Gendongan Fadil berpindah. Luka menenteng travel bag kecil, langkahnya pasti menyongsong hari baru. Suami yang menikahinya selama tiga tahun itu, hanya sekejap saja mengkalungkan kemeweahan dan kebahagiaan, selebihnya Ia hanya mencecerkan hinaan dan merendahkan harga dirinya.

Hari ini, Luka kembali menapaki hari-hari yang tetap dengan luka-lukanya. Menjemput impiannya lagi. Menjadi waitres dan penyanyi bayaran, di Pub besar di pusat kota.

***


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap