Cerpen – Sebait Prosa Dari Negeri China

Cerpen - Sebait Prosa Dari Negeri China 1

Aiyen menopangkan tangannya pada ujung tembok. Ah, masih kokoh meski sudah berusia ribuan tahun. Tak akan roboh untuk menahan tangan mungil dari tumpuan tubuh kecilnya. Orang-orang yang menyemut di atas sana pun banyak yang melakukan hal yang sama. Di sela berbagai tingkah seperti berswa photo, mengabadikan moment indah dari ketinggian ratusan mill di atas permukaan tanah.

Meski musim dingin yang sedang berlangsung, tak menyurutkan kebahagiaan orang-orang yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Tembok Berlin memang sangat indah, unik dan penuh sejarah. Tembok yang panjangnya ribuan kilometer itu dibangun untuk menyatukan daratan China, berdiri memanjang, tetap kokoh meski usianya sudah berpuluh abad. Suatu usia yang fantastik untuk sebuah keabadian. Seperti penantiannya pada Yuan Liew, lelaki berkebangsaan China yang menganut faham komunis ini, yang telah menjalin hubungan dengannya.

“Hhahha…tahu apa kau tentang tembok Berlin hah? Yuan Liew? Tokoh kartun mana yang kau colong namanya?” tiba-tiba suara tawa pecah di belakang punggung Niar yang sedang asyik dengan laptopnya.

Niar membalikkan badan, menutup laptop. Sial, lelaki ceking dengan rambut acak-acakan dan tawa garing menyebalkan itu tengah terpingkal-pingkal di belakangnya.

“Universitas Masashucets, berdansa di  Karibia, Menyesap Sakura di bekas pemboman Hiroshima, sekarang mengkhayal sambil senderan di Tembok Berlin. Khayalan gila. Bagaimana kau bisa mendeskripsikan tempat-tempat itu? Heii..kau hanya katak dalam tempurung. Duniamu saja terkurung di sini. Di antara tumpukan buku-buku. Pandanganmu terhalang rak rak etalase yang memadati  ruangan ini. Kau gila hah?” Lelaki itu terus berkata-kata seperti peluru mortir yang ditembakan secara brutal.

Niar bergedik. Matanya yang bulat kian membesar. Tapi ekspresinya itu hanya mengundang tawa yang kian pecah. Laki-laki itu mendekat. Menyorongkan mulutnya dekat ke wajah Niar.

“Kau…pembual dan pengkhayal besar. Tak lebih!” mulutnya mengembus seperti pantat ayam yang mengeluarkan kotoran. “Untuk menggambarkan suasana yang real, orang-orang pergi ke luar. Dia pergi ke menara kembar, melihat binatang di Zoo, menyusuri indahnya bukit batu Caves untuk menceritakan satu kisah dari negeri jiran. Kau? Melintas perbatasannya pun belum pernah. Apalagi sampai jauh ke negeri China? Kehebatan apa yang kau dapat dari imajinasimu tentang negeri-negeri jauh hah? Karya yang akan menjadi masterpiece?” Dia terus menghujat.

Niar sudah membahul dadanya. Merasakan kekesalan atas tingkah leceh si dekil itu.

“Hehh? Pengarang itu bisa menjadi apa saja, bisa pergi ke belahan dunia manapun, tanpa dia harus benar-benar pergi. Ada imajinasi yang akan menguatkan dan tempat itu hanya sebagai bumbu-bumbu pelezat saja yang menunya bisa dicari dari referensi hasil  menggali dari bacaan. Kau faham?” Niar membentak.

Ia harap, keterangannya itu akan menghentikan hujatan si dekil itu.

“Apa aku juga harus pergi ke neraka untuk bisa menggambarkan neraka? Banyak yang menceritakan detik-detik menjelang kematian, apa mereka juga harus mengalami mati dulu? Tidak kan?” Niar menguatkan lagi persepsinya selagi laki-laki itu tak menyerobot omongannya.

Dia memang diam. Tapi selepas itu dia mendecih. Tertawa lagi.

“Lalu tujuannya untuk apa aku tanya? Cerita yang hebat? Heh, di negeri ini masih banyak cerita hebat yang belum tergali. Yang terkubur oleh peradaban budaya bahkan oleh imajinasi sastra. Kau pergi ke tempat-tempat kumuh itu. Di pinggiran bantaran-bantaran sungai di tepian kota. Orang-orang pinggiran yang abadi kemiskinannya bahkan hingga ia mati yang diwariskan hanya sepetak kemiskinan lagi pada anak cucunya. Sementara bantuan-bantuan atas nama orang miskin itu dibuat dalam berbagai program, diturunkan oleh berbagai instansi dan perusahaan-perusahaan besar. Sementara angka manusia miskin di negeri ini tidak beranjak atau berkurang.

Kau dengar semua unsur meneriakkan basmi korupsi. Drama, Puisi, penyuluhan, seminar, demo, undang-undang yang terus direvisi, semua berbicara tentang berantas korupsi. Tapi kenyataannya? Setiap hari ada saja pejabat yang ditangkap atau terjerat. Kau pergi ke tempat-tempat yang terdeteksi tentang penemuan benda dan tempat bersejarah. Tentang asal dari peradaban entah, yang kemudian muncul baik dalam peta sejarah maupun dalam penemuan hasil ekskavasi para arkeolog. Tapi begitu banyak yang kemudian dilupakan, terkubur bahkan tergusur.

Empatimu tak tertarik dengan semua keunikan negeri ini? Itu budaya baru di negeri kita. Sebuah pola hidup yang stagh atau pernyimpangan-penyimpangan yang sulit di berantas dan akhirnya menjadi terbiasa. Cerita yang bisa lebih indah dan amazing di banding Tembok Berlin. Miris…” si Dekil itu berorasi penuh ekspresi. Gayanya seperti penyair yang mendeklamasikan puisi liris dengan penuh penghayatan.

Niar terdiam. Ia teringat pada beberapa ceritanya yang bersahaja. Tentang negerinya yang indah. Kota kecil yang padat dan tetangga-tetangganya yang sekarat dalam kemelaratan. Cerita yang hanya disimpannya dalam laptop, tanpa pernah dikirimnya. Ia minder dengan tema yang itu-itu juga. Yang tak jauh dari kekumuhan dirinya dalam berkutat di dunia tulisan. Seorang gadis penunggu Perpustakaan. Lulusan D2 yang tak sempat di wisuda karna biaya. Kontras dengan nama-nama penulis lainnya. Dosen Universitas anu. Mahasiswa Universitas Luar negeri. Sarjana Sastra dari Amerika.

Tiga bait cerita-cerita mereka, cukup memuaskan untuk santapan beberapa surat kabar harian. Alur yang bergengsi, meski sekedar bercerita tentang mantel bulu atau anjing buldog yang menemani tuannya bercinta di pelataran Eiffel.

Sedangkan  berlembar-lembar cerita Niar, kusam oleh kepedihan kaum-kaum terpinggirkan. Niar tak lagi melihat keindahan dalam ketimpangan-ketimpangan di sekelilingnya. Ia ingin sebait saja menerbangkan ceritanya untuk suatu keindahan, seperti Cinderella yang disulap  penyihir menjadi Puteri.  Meski sampai jam dua belas malam.

***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning