Cerpen: Sedang Menunggu Balasan


Cerpen: Sedang Menunggu Balasan 1

“Menunggu adalah sesuatu yang membosankan, oleh sebab itu butuh nafas panjang untuk bisa menunggu lebih lama lagi.”

Ia belum tidur juga, ia masih bekerja selarut malam. Di kala semua orang di rumahnya sudah terlelap dalam tidurnya, ia masih saja berada di depan notebook lamanya. Solikan mencoba membuka-buka lagi tulisannya, membaca ulang, lalu merubah beberapa kalimat yang menurutnya menjadi penyebab beberapa tulisannya tidak diloloskan tayang oleh koran.

Beberapa kali Solikan mengirimkan tulisannya ke media online maupun cetak, namun hanya beberapa yang lolos, itupun karena ada hubungan pertemanan dengan redaktur atau pemilik media. Tiga atau empat tahun yang lalu mungkin eksistensi yang ia cari. Tetapi setelah ia punya istri, lalu lahir anak pertamanya, bukan lagi eksistensi yang ia cari. Ia sudah berpikir realistis, uang tentunya, memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kebutuhan semakin bertambah, beras juga semakin terkuras, popok anaknya juga tak mungkin dicuci ulang. Begitu juga, tak mungkin istrinya dicekoki oleh tulisan-tulisannya, lalu laparnya menguap.

Sudah kesekian kalinya ia mengirimkan tulisan ke beberapa media cetak maupun online, ia menunggu balasan, tapi tak kunjung datang. Menyerah? Tak mungkin juga. Ia tak ingin menganggur begitu saja.

Namun mata istrinya yang sejuk seakan menyadari prosesnya, juga berusaha menikmati perjalanan hidupnya bersama buah hati dan suaminya yang penulis itu. Ia juga tak pernah berhenti memberi semangat kepada suaminya. “Pasti tulisanmu yang selanjutnya diterima oleh salah satu media, jadi tenang saja, kita masih punya tabungan, insyaAllah cukup untuk sebulan.” Ucap istrinya menyemangati

Tetapi bulan-bulan setelah itu? batinnya meradang. Ia mengumpat kepada dirinya sendiri. Ia malu kepada istrinya. Walaupun ia tahu, itu tak akan mengubah apapun. Sesekali ia mengingat perbincangan dengan Biyungnya, salah seorang guru yang mengajarinya menulis. “Sekarang memang tidak semua redaktur serius ngurus medianya. Jadi, yang perlu dilakukan adalah, tetaplah menulis, karena menulis adalah ibadah kemanusiaan.” Jika teringat pesan itu, Solikan seperti menemukan pembelaan. Namun kemudian ia kalut lagi, kemrungsung lagi, ketika melihat anak dan istrinya.

ia pernah bekerja di salah satu Lembaga Pendidikan, namun karena ada persoalan yang sebenarnya bukan kesalahannya, ia harus bersitegang dengan salah satu rekan kerjanya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri, karena suasana sudah tak nyaman lagi. Ia bergumam “Mengapa hidup isinya hanya kompetisi saja?” sambil memandang langit, siapa tahu ada jawaban yang turun bersama burung-burung, atau awan yang menggumpal.

Padahal, orang tuanya sangat senang ketika ia bekerja di Lembaga Pendidikan. Bagi mereka, usahanya menyekolahkan Solikan sampai menjadi sarjana tidak sia-sia. Dan mereka tampak menyesal ketika mengetahui bahwa Solikan telah keluar dan tidak lagi bekerja di Lembaga Pendidikan tersebut.

Selama menganggur, ia kembali mencoba menulis, karena masukan dari beberapa temannya yang mengatakan bahwa ia sebenarnya lebih cocok menjadi penulis, ketimbang kerja menjadi pegawai. Alasannya juga cukup tepat, pertama ia bukan tipe orang yang suka administrasi, kedua ia punya bakat.

Bakat? Benarkah? Ia selalu mempertanyakan tentang alasan yang kedua itu. Karena sampai hari ini, tulisan-tulisannya hanya dimuat oleh media yang redakturnya ia kenal. Beberapa bukunya juga hanya diterbitkan dengan biaya sendiri, dan tidak begitu laku di pasaran, akhirnya ia hanya menaruhnya di rak buku dan memberikan kepada teman-temannya. Beberapa kali menyodorkan naskah buku ke penerbit, hasilnya juga nihil.

Semakin lama, hutangnya menumpuk, bahkan ia juga tak tahu, dari mana ia akan mendapatkan uang untuk melunasi hutangnya. Ia semakin terperosok, bahkan untuk sekedar keluar rumah ia harus mengendap-ngendap, dan jika harus menggunakan motor satu-satunya yang ia miliki, itupun milik istrinya, ia harus mengenakan helm dan masker untuk menutupi wajahnya.

“Mas malu menghadapi orang-orang di luar sana?” Tanya istrinya

“Entah dik, tiba-tiba saja aku gerogi, serba khawatir kalau keluar dan ketemu dengan beberapa orang.” Jawab Solikan.

“Aku seperti tak punya daya lagi, usahaku sepertinya mentok, menggeluti sesuatu yang kata teman-temanku bakat.” Imbuhnya, sambil menutup notebooknya.

“Rejeki itu dari Tuhan mas, yang terpenting bagi kita adalah berusaha. Mungkin besok atau lusa atau lusanya lagi tulisan mas diterima oleh redaksi koran atau media ternama, sehingga sampean mendapatkan uang dari itu, yang terpeting hanya berusaha.” Istrinya mencoba menenangkan.

Ia menjadi sangat malu kepada istrinya. Ia menjadi lebih minder menghadapi hidup. Apalagi setelah mengetahui teman-teman sebayanya sudah sukses dan hidupnya lebih mapan darinya. “Oalah mas, semua itu hanya sawang sinawang, percaya sama saya, yang hidupnya lebih susah dari kita juga banyak. Seharusnya kita bersyukur, karena kita masih bisa makan, anak kita juga tak kekurangan popok. Jadi, sabar saja dan jangan berhenti berusaha. Namun perlu digaris bawahi, rejeki itu dari Tuhan.” Ucap istrinya pelan.

Sampai suatu hari ia mulai sering pergi ke makam-makam. Menurutnya, berdiskusi dengan orang yang sudah meninggal itu lebih menenangkan. Namun hal itu tak bertahan lama, ia akhirnya mengikuti beberapa temannya yang sering pergi ke “orang pintar”, itu juga tak bertahan lama. Karena beberapa tulisannya juga tak kunjung mendapat balasan.

Sebenarnya ia sangat beruntung memiliki istri yang begitu sabar. Padahal istrinya terbilang berasal dari keluarga terpandang. Namun ia mau hidup apa adanya dengan Solikan. Ia telaten memberi semangat kepada Solikan. Ia juga turut serta dalam mengoreksi tulisan-tulisan Solikan. Ia memujinya, bahwa tulisan Solikan memang bagus. Akhirnya semangat itu muncul lagi, dan Solikan akhirnya mengirimkan lagi ke media-media yang sudah ia simpan alamat emailnya.

Malam itu, ia benar-benar terus bekerja, menuliskan ide yang tiba-tiba muncul di benaknya. Ia tak memedulikan rasa kantuknya. Jari-jemarinya seperti tak mau berhenti menekan huruf-huruf di keyboard notebooknya. Ia mengatur marginnya, ia mengatur font tulisanya, ia membaca berkali-kali sebelum ia mengirimkannya. Ia melihat anak istrinya yang sudah tertidur pulas. “Demi kalian berdua, aku akan terus menulis dan menunggu balasan.” Gumamnya.

Setelah satu tulisannya selesai, ia menutup notebooknya, lalu merebahkan tubuhnya di samping istri dan anaknya. Matanya tak kunjung memejam, rasa kantuknya benar-benar hilang. Akhirnya ia membaca lagi beberapa buku cerita yang berada di lemari bukunya. ia memaksa dirinya, agar ide-ide untuk tulisan-tulisannya muncul.

Ia tak ingin mengecewakan istrinya, ia tak ingin anaknya menggunakan popok yang dicuci ulang. Ia tak ingin hutangnya semakin menumpuk dan tak terbayar.

Agaknya setiap orang memiliki masalah yang beragam dengan kebutuhan hidup. Mereka rela menjadi apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Termasuk Solikan.

Ia akan terus menulis, sampai ia mendapat balasan. Sampai anaknya menggunakan popok yang layak, sampai istrinya tak kekurangan beras untuk dimasak. Dan Solikan masih saja menulis. Sampai ia mendapat balasan.[]

Rumah Jogo Kali, 2021


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A.Dahri

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap