Cerpen: Teduh Tatap Arina


Cerpen: Teduh Tatap Arina 1

Sudah lebih dari setengah jam kami duduk di sini. Hanya hening yang menelusupi jarak antara aku dan dia. Entah, apa yang menjadi maksud dari pertemuan ini. Aku masih menebak-nebak. Hidangan sudah lama tersaji, kepulan asap dari makanan tak lagi menampakkan diri. Kami masih terdiam tidak berani saling tatap.

Sore ini keadaan kota begitu tenang. Di bawah guratan awan yang menguning, membasuh kota dengan kemilaunya. Hanya perlu menoleh ke arah kiri untuk menikmati semua itu. Di lantai dua tempat makan, semuanya semakin nampak nyata dan luar biasa.

Banyak pasangan muda-mudi, suami istri dan gerombolan orang yang saling bertukar cerita setelah sibuk menjalani kegiatan seharian ini. Tapi tetap saja suasananya masih terasa sepi, mungkin karena jarak antar meja yang begitu lengang dan luas ruangan yang terbilang cukup lebar.

Kembali aku ingat pertama kali ke sini seorang diri. Aku yang saat itu sangat dipenuhi emosi menghabiskan waktu di sini. Saat itu keadaan rumah mulai kehilangan arah, tidak ada lagi kasih sayang yang menaungiku. Ayah dan ibu tidak lagi bertegur sapa dan memutuskan berpisah untuk selamanya. Sedang aku hanya menjadi korban dari retaknya hubungan itu. Mereka tidak lagi memberikan kasih sayang. Sibuk dalam bekerja selalu menjadi alasan klasik yang menghantui setiap tanda tanya di lubuk hatiku.

Akhirnya dengan segala keegoisan aku memutuskan untuk terbang mencari kasih sayang itu ke berbagai macam pelukan. Sejak masa sekolah menengah atas hingga sekarang sudah mendekati akhir perkuliahan, aku melakukan itu berulang kali. Bergonta-ganti pasangan bagiku sudah menjadi hal biasa, singgah ke banyak pelukan menjadikanku semakin haus akan kasih sayang. Tapi semua itu bukan berarti merubah aku menjadi manusia yang kehilang moral. Masih ada kebaikan yang tersisa dari dalam diriku. Cukup bagiku sebuah panggilan sayang dan pelukan hangat sudah mampu membasuh sedikit luka, tidak lebih.

Semuanya semakin menjadi-jadi saat kedua orang tuaku tidak lagi pulang ke rumah. Semua yang mereka berikan tidak lagi berarti bagiku, aku bahkan merasa benci untuk mengakuinya. Semua uang dan fasilitas terkumpul tanpa pernah aku gunakan sedikitpun. Bagiku, apalah artinya semua itu jika rasa nyaman tidak bisa aku dapatkan sama sekali dari mereka. Hanya rasa kasih sayanglah yang aku perlukan. Tapi semuanya sudah terasa seperti berada di ujung tanduk. Mau tidak mau aku harus berdiri di atas kakiku sendiri. Sebuah usaha kecil-kecilan yang aku bangun sejak awal perkuliahan berjalan dengan lancar saat itu. Dari sinilah aku masih dapat hidup dan bertahan sampai hari ini.

Berbagai macam cerita cinta sudah aku lalui, semuanya berujung dengan perpisahan yang aku ucapkan. Sebentar bagiku untuk merasakan kesedihan saat melihat air mata seseorang meleleh, lalu kembali berpetualang untuk mencari pelukan yang lain. Bukan berarti aku adalah orang yang tidak memiliki belas kasihan saat mengucapkan perpisahan tersebut. Hanya saja kejadian yang menimpa kedua orang tuaku selalu saja menjadi bayang-bayang nyata yang memenuhi pikiran dalam waktu yang sangat lama. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, aku takut akan hal itu. Membuat sebuah hubungan menjadi serius dan melangkah terlalu jauh adalah ketakutan yang terus menjadi momok bagi pikiran saat itu.

Sampai perasaan gundah dan ragu itu berhenti kala aku mengenal Arina, kaka satu tingkat di atasku saat itu. Lewat teduh tatapnya aku merasakan ketenangan yang selama ini kucari. Pencarianku perlahan berhenti saat itu, pelukan dan kasih sayang dari Arina yang mampu mengisi semuanya. Hanya karena aku sering melihatnya berjalan di hadapanku dengan langkah anggun, bersama senyuman tipis dan tolehan wajah menatap teduh kepadaku. Semuanya membuatku mampu tenggelam lebih lama dari biasanya, lebih dari wanita-wanita yang aku tambat sebelumnya.

 Semuanya menjadi sangat indah sejak hari itu. Semangatku kembali tumbuh dan pijakanku untuk terus menjalani hidup menjadi sempurna kembali. Arina menjadi sosok malaikat yang menarikku ke dalam hal yang selama ini aku rindukan. Sebuah hal yang sudah lama kucari dan kudambakan. Sejak saat itu juga aku selalu merasa seperti pulang ke rumah ketika menemukan teduh matanya menatapku.

Namun, di tengah perjalanan aku kembali bertemu dengan Ratna. Seorang mantan kekasih yang masih cinta mati kepadaku. Sudah banyak cerita masa laluku yang Ratna tahu lebih dari Arina. Karena dia juga merasakan sakit yang sama. Kehilangan arti tentang apa itu kasih sayang dan rumah membuatku kembali terbuka kepada Ratna. Tidak lain hanya rasa nyaman sebab memiliki latar belakang rasa sakit yang sama, membuatku menjalani hubungan kembali dengannya.

Tanpa sadar saat itu aku sudah membagi hati menjadi dua. Pertemuan dengan Ratna membuatku memiliki dua sisi yang harus kusembunyikan satu sama lain. Aku tidak bisa lagi melepaskan keduanya. Karena ada dua kunci yang mereka pegang tentang kehidupanku. Di satu sisi Ratna hadir sebagai pelukan dari pelarian masalah hidup yang sama dan di sisi yang lain Arina hadir dengan tatapan teduh yang mampu membuatku tenang. Menjadi beban tersendiri bagiku saat itu, saat harus berbohong kepada keduanya. Kepada Ratna aku selalu mengatakan bahwa dialah yang aku punya dan kepada Arina aku katakan bahwa aku akan selalu menjaga hatiku hanya untuk dirinya seorang.

Namun, kebohongan yang selalu berkembang biak harus kalah juga pada akhirnya. Dengan mata kepala sendiri Arina melihatku sudah mempermainkannya. Entah, apa yang terjadi padanya sejak saat itu. Kami berjalan seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Membuat aku percaya bahwa Arina masih menungguku kembali. Menjadikannya sebagai satu-satunya rumah yang aku punya. Teduh matanya masih saja menyimpan banyak rahasia sampai saat ini, seolah dia mampu menutupi segala rasa kecewa yang dia rasakan.

Keadaan tempat makan semakin gelap, perlahan kemilau sore mulai kehilangan tajinya di batas cakrawala, sekejap sore mencapai penghujungnya dan dengan cepat hari berganti menjadi malam. Seluruh meja sudah terisi dengan anak-anak muda yang nongkrong. Sudah lebih dari satu jam aku dan Arina bertemu di sini. Saling berhadapan tanpa sedikitpun aku dapati pandangan teduh itu. Makanan perlahan mulai habis kami lahap. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda pembicaraan yang akan dibuka.

Kini hanya tersisa piring yang kosong dihadapan kami. Aku masih belum menemukan titik terang dari ajakan pertemuan yang diberikan Arina. Sekeliling kami saat ini sudah mulai dipenuhi lilin yang menyala khas suasana pasangan yang tenggelam dalam romantisme hubungan. Tak lupa juga suara alunan denting piano yang semakin menambah hangat suasana. Tapi tidak serta-merta membuat keberadaan kami menjadi nyaman saat itu. Hanya diam yang sedari tadi menjadi rahasia darinya, rasa yang kurang mengenakkan ini masih belum kutemukan titik temunya.

Sekilas cahaya jawaban itu aku temukan kala matanya menoleh pandang kepadaku. Tapi ada yang berbeda kali ini. Tanpa senyum dan sambutan hangat yang sering aku dapati selalu saat berjumpa dengannya kini tidak ada. Aku mulai merasakan sesuatu. Jawaban dari pertemuan ini akan tiba di akhirnya. Sebuah tarikan napas dan pejaman mata kemudian kembali menatap kepadaku, Arina kali ini memasang wajah serius.

“Aku sudah kehabisan rasa sabar dan untuk semuanya, dirasa cukup!” Sebuah jawaban yang baru aku sadari dalam pertemuan hari ini. Sejak saat itu juga aku menyadari bahwa penyesalan tidak akan mengembalikan semuanya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Zaidan Fadhlani

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap