Cerpen : Walk You Home

Cerpen : Walk You Home 1

Dia datang lagi. Lebih dari seminggu netra ku menangkap siluetnya yang menaiki kereta ini. di jam 4 setelah pulang sekolah, selalu dia yang berhasil menarik wajahku untuk melihatnya lebih lama. Kulitnya kuning langsat, terdapat lesung pipit di kedua pipi nya. Nada suaranya yang lucu serta rambut sebahu nya yang bergelombang. Entahlah, semua yang ada pada dirinya sangat pas dan cantik. Entah mantra apa yang dia berikan terhadapku sehingga aku selau melihatnya dan tak bisa berpaling.

sudah waktunya aku turun di pemberhentian ini. dan coba tebak, perempuan manis itu, yap dia juga berada di pemberhentian yang sama denganku. Yang aku tau dia berbeda sekolah dengan ku. Dapat dilihat dari seragam nya yang bewarna merah sedangkan diriku bewarna hijau. Kami berjalan berdampingan tak saling menyapa dan mengobrol sedikitpun. Dia selalu bersama teman perempuannya yang sedikit lebih pendek dari dirinya.

Aku selalu merasa nyaman dan tenang saat berjalan berdampingan dengannya. Di pertigaan depan, ia selalu berpisah dengan temannya dan berjalan lurus berdua dengan diriku. Sebenarnya aku ingin sekali membuka obrolan dengan makhluk disampingku ini, tetapi rasa canggung ku lebih dominan hingga akhirnya hanya bisa membatin saja untuk mengagumi nya.

Saat berada di seberang halte bus, tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya, reflek saja tangan nakal ku ini menarik perempuan disebelahku dan membawanya untuk berteduh di halte. Ah sial sekali ,malu mulai menguasai ku. Aku mencoba untuk tidak bertatapan dengannya. Wajahku sudah memerah dan hatiku berteriak kencang. Bodoh memang. Kulirik dari ekor mataku dia tersenyum bodoh sambil melihat tangan yang kupegang tadi.

Sejenak aku tertawa dalam hati, ekspresinya sangat menggemaskan. Dadaku tiba tiba bergemuruh kencang setelah melihat senyumannya. Cih, dasar lelaki lemah. “makasih” haduh, suaranya sangat cantik. Aku mendadak terdiam tak menjawab nya. Terlalu malu dan gugup. Mencoba membalas ucapan nya aku berdehem untuk meminimalisir rasa gugup ku.”sama sama”. Ah lega juga dan lumayan lah walau cukup jelas bahwa suaraku bergetar. “ kamu kedinginan? Aku ada jaket, suaramu seperti orang kedinginan.” Ah sial, sungguh sial. Apakah terlalu ketara bahwa aku gugup? Aku mau menghilang saja kalau seperti ini.

Hujan berhenti, dan aku memutuskan untuk berlari kencang menerobos rintik rintik. Tak apalah jika seragam ku sedikit basah, toh besok sudah tidak terpakai. Kupercepat langkah kaki ku, sedikit melompat demi menghindari kubangan air di jalan. “aduh” ku pelan kan langkah kaki ku, berusaha menoleh ke belakang tubuh, terlihat dia sudah jatuuh terduduk akibat berlari mengikuti ku. Anak ini benar benar sedikit merepotkan ternyata.

Sambil sedikit mendengus, aku menolong perempuan ini. “ceroboh” kataku singkat. Lagi lagi ia hanya tersenyum bodoh seakan tindakan ceroboh yang ia alami barusan tidak sakit. “hehehe makasih nalen”. Aku sedikit tercengang, ia tau namaku? Apakah aku ini seorang artis terkenal sehingga ia tahu nama ku. “nalen ga tau namaku?” tanya nya. Ya tentu saja aku tidak mengenalnya, anak ini sungguh bodoh. “ga”. “nalen, tau ga?” tanya nya tibaa tiba. “ga tau” “ihh belom tau nalen. Nalen tau ga kalau aku tetangga nalen?”.

Seminggu setelah kejadian itu aku jadi tau kalau dena ternyata tetangga depan rumah ku yang baru saja pindahan. Yap, namanya dena. Lebih tepatnya denallie fyneen, sangat cantik dan pas untuk nya. Artinya juga pas “anak perempuan cantik yang luar biasa” . sudah sekitar seminggu ini aku pulang pergi dengannya, yah walaupun kita beda sekolah, tetapi kan tetap searah.

Dena itu lucu dan menggemaskan, sifatnya polos, dan sedikit ceroboh. Berulang kali ia meminta ku untuk mengantarkan nya membeli buku. Ibunya seorang wanita karir, ayahnya? Sudah bersama dengan keluarga baru. Yang artinya ia hanya tinggal sendiri di rumah jika ibunya tidak ada. Dan sudah seminggu ini pula ia merecoki ku menonton film.

Sungguh aku sangat jengkel jika ia ikut menonton film denganku. Bukannya apa, dia itu sangat cerewet. Karakter di film selalu saja ia komentari, dan itu menganggu konsentrasiku. Mama ku suka dengan dena, karena nya aku jadi jarang keluar rumah. Bagaimana mau keluar rumah? Ia saja sepanjang pulang sekolah sampai waktu malam pun terkadang masih disini.

“alen, pengen cilok. Beli yuk” “ga, ga ada, kemaren beli cilok kamunnya muntah trus diare ya.” Dia merajuk. Sangat lucu. “ish apa apa ga boleh apa apa ga boleh. Pelit” . kenapa ia selalu bersikap menggemaskan? Sial aku ingin mencubit bibirnya yang maju. “jangan cilok dena, yang lainnya. Bubur kek apa kek” “ya kan mau nya cilok ga bisa ganggu gugat” ternyata membujuk dena sangat susah dan berakhir aku membelikannya cilok.

Dena sangat suka pantai. Terbukti sudah selama 8 bulan aku berteman dengannya, sudah lebih dari 10 kali aku ke pantai yang sama. Dan ia tidak pernah bosan. Katanya “pantai itu heeling buat aku alen. Dan aku Cuma ngerasa tenang kalo udah ketemu sama pantai” dan karenanya juga aku suka pantai. Aku ingat betapa girangnya setelah ia tau ada pantai tak jauh dari daerah rumah kami. Dia sampai memeluk mama ku dan berkata harus kesana sesering mungkin.

4 hari setelah aku ke pantai dengannya. Dena jarang sekali ke rumah, bahkan sudah 3 hari ini ia tak kerumah, sudah berulang kali ku chat, ia tetap tidak membalas. Takut kalau dia marah terhadapku. Padahal aku ingat kalau aku tidak merasa kalau membuat salah. Kemana anak ini. rumahnya juga selalu sepi. Aku sempat berpapasan dengan tante meira yang merupakan mama dari dena. Katanya dia di rumah.

Setelah aku telusuri, ternyata dena sakit. Dan di haruskan ia menginap di rumah sakit. Aku tau dena pasti benci, dia tidak suka rumah sakit dan obat. Memikirkannya saja membuatku sangat khawatir. Berhubung hari ini sekolah ku pulang cepat, aku cepat cepat ke rumah sakit tempat dena di rawat. Tante meira bilang ia hari ini sendiri dikarenakan beliau harus bekerja.

Aku cepat memarkirkan sepeda motor ku. Akhir akhir ini aku lebih suka memakai sepeda motor dibandingkan menaiki kereta. Aku menahan napas sejenak setelah membuka ruang rawat inap dena. Terlihat ia sedang bersama dengan lelaki yang tak kutehui namanya. Ku pejamkan mataku sejenak dan menarik napas untuk menenangkan diri. Dena melihat ku sekilas lalu tersenyum. “alen masuk sini”

“alen sama siapa? Oh ya kenalin ini renan, pacar dena” deg, jantungku berhenti sejenak tak menerima fakta bahwa laki laki yang ada di depan ku adalah pacar dari dena. Mencoba sekuat tenaga agar tidak terlihat kaget, aku tersenyum dan mengelus kepala dena “gitu ya, ga bilang kalau udah punya pawang. Jahat bener, mana ga ngabarin kalo sakit” . dena tersenyum bodoh, tetapi senyuman itu menyakitkan untuk ku. Saat ini aku hanya perlu mengontrol ekspresi sedihku. Huh susah juga, aku sungguh ingin meninggalkan tempat ini. “hehehe ya maaf, aku lupa kalau alen belom ku beritahu. Alen udah makan? Ini renan bawain dena makan, Cuma dena ga boleh makan itu. Renan, boleh ga kalau makanan nya di kasih ke alen?” “gausah, ga laper kok den” sial, nada bicara ku tiba tiba saja terlalu ketus. Segera aku berpamitan dengan alasan mau kerja kelompok dirumah teman daripada hawa disekitar tubuhku lebih panas.

4 bulan berlalu, hubungan ku dengan dena nampaknya tambah jauh. dena terlalu sibuk dengan pacar barunya. sejenak aku memang sedikit rindu sih sama cerewet dan cerobohnya anak satu itu. kadang aku juga heran, kenapa aku suka sama dena, dia itu jauh dari tipe ku. aku lebih sering keluar rumah, karena dena memang sudah jarang atau malah lebih tepatnya tidak pernah untuk sekedar meminta tolong kepadaku. 

tetapi, sore ini dena datang kepadaku dengan keadaan yang mengenaskan, dia menangis tersedu sedu dan nampak berantakan sekali. dia baik baik saja kan? “alennnnn hueeeee” tangisnya, dia kenapa sih? aku mengernyit bingung. “kenapa?” dena tidak menjawab ku, mungkin sedikit pelukan bisa menenangkanya? ku peluk dia dan kubiarkan menangis sepuasnya. posisi kami masih berada di depan televisi dengan suara tangisan dena beradu dengan kartun doraemon yang tidak kutonton. 

“alenn, dena di buat mainan sama renan. renan selingkuh sama sahabat dena” katanya lirih. aku sedikit kaget dengan pernyataan nya. bagaimana mungkin lelaki berwajah polos itu selingkuh? sungguh diluar dugaan ku selama ini. kukira saja lelaki itu tulus kepada dena, tetapi apa nyatanya? astaga aku ingin sekali membogem wajah sok polosnya itu. 

“mau ku apakan renan? ku bogem sajakah dia?” “jangan alen, dena ga mau sampai alen terluka, dena juga mau minta maaf sudah menjauhi alen 4 bulan ini. kesannya dena cuma mau alen pas dena butuh doang” astaga wajah anak ini benar benar imut. mulutnya mengerucut dan matanya sembab. aku terkekeh “kenapa ketawa? lucu?” “iya dena lucu. mukanya kayak badut”. dena tiba tiba terdiam seakan memikirkan sesuatu

“alen, suka ga sama dena?” hah apa katanya? aku tidak salah dengar kan? “ya…. suka. alen suka sama dena sejak dena naik kereta yang sama dengan alen.” “sebenernya dena suka juga sama alen, cuma dena ga mau buat kita jadi renggang” aku tersentak mendengar pernyataan dena. dia sungguh menyukaiku? 

“alen, dena gamau pacaran. tapi kita coba buat komitmen aja gimana? ” “emang dena ga mau ada status?” dena menggelengkan kepalanya lucu ” engga, cukup komitmen aja. ya alen ? bisa kan jadi rumah tempat berpulang dena?” sepertinya memang benar. kalau rumah akan menjadi tempat berpulang sekalipun mereka menetap. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Novanda Lylyan Putri