Character Building dan Wajah Indonesia di Tahun 2045


Character Building dan Wajah Indonesia di Tahun 2045 1

Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus dibangun dengan mendahulukan character building (pembangunan karakter) manusianya. Character building inilah yang akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, jaya, serta bermartabat. Jika character building tidak dilakukan, menurut Bung Karno, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli.

Sejalan dengan pernyataan Bung Karno, saya menyakini bahwa krisis bangsa selalu berawal dari krisis karakter generasi mudanya. Karakter sendiri adalah perilaku relatif permanen yang bersifat baik atau tidak baik. Di satu sisi, generasi muda merupakan tonggak utama penerus masa depan bangsa. Maka, proses character building pada sebuah bangsa dapat menjadi sangat vital.

Bukannya tanpa alasan, di tahun 2045 nanti (25 tahun dari sekarang), Indonesia akan genap berusia 100 tahun. Pertanyaannya, akan seperti apa bangsa ini di usia yang seharusnya sudah “matang” tersebut? Menjadi bangsa kuli atau menjelma bangsa mandiri? Pertanyaan tersebut akan dijawab oleh karakter manusianya kelak.

Kebetulan di tahun 2045 Indonesia akan menerima bonus demografi. Kemungkinan besar, pada tahun tersebut Indonesia akan memiliki struktur penduduk yang mayoritas diisi oleh penduduk usia kerja atau usia produktif. Jika seperti itu, maka penduduk usia kerja di tahun tersebut adalah orang yang sama dengan anak usia sekolah pada tahun-tahun sekarang ini.

Oleh karena itu, character building akan lebih tepat sasaran jika ditujukan kepada generasi usia sekolah hari ini. Nah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak tahun 2016 lalu telah mengkampanyekan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK sendiri bertujuan untuk menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif anak usia sekolah tanpa merubah kurikulum yang sudah ada. Di sini kita sepakat bahwa PPK adalah bagian dari proses character building yang diusahakan oleh pemerintah.

Apa pun program dan bentuknya, harapan saya sebenarnya cuma satu, yaitu character building harus selalu berlandaskan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Lima sila dalam Pancasila memiliki lima nilai dasar yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Lima nilai dasar ini yang melambangkan sebenar-benarnya karakter bangsa Indonesia

Sebagai contoh, hampir setiap proses demokrasi di Indonesia selalu diwarnai dengan keributan. Isu yang tidak jelas dimakan mentah-mentah dan akibatnya terjadi gesekan antar golongan politik. Jangankan dengan tetangga, satu keluarga saja bisa pecah karena berbeda pandangan politik. Tentu ini menunjukkan bahwa bangsa ini tidak memprioritaskan nilai persatuan yang ada pada Pancasila.

Semoga hal seperti ini tidak akan ditemui di masa yang akan datang. Sebab, proses demokrasi yang berjalan damai adalah bukti bahwa Indonesia telah bertransformasi menjadi bangsa yang lebih dewasa. Jika 25 tahun dari sekarang proses demokrasi di Indonesia masih diwarnai keributan, maka menurut saya bangsa ini masih jalan di tempat.

Dengan begitu, character building yang berlandaskan Pancasila semestinya dapat merubah tatanan sosial di Indonesia menjadi lebih baik. Melalui apa? Melalui generasi yang berpikiran terbuka, yang mampu berpikir secara rasional, serta lebih kritis dalam menanggapi suatu isu agar tidak mudah termakan hoaks. Minimal, bisa terlahir generasi yang dapat menjaga kerukunan di lingkungan tempat tinggalnya.

Character building juga jangan sampai mengesampingkan perkembangan yang sedang terjadi hari ini. Pancasila patut dijandikan landasan, namun juga harus diimbangi dengan kecerdasan beradaptasi dengan peradaban.

Berkembangnya tren bermedia sosial, misalnya, sedikit banyak ikut menggeser pola perilaku generasi muda di Indonesia. Generasi masa kini tampak lebih percaya diri, ringan dalam berekspresi, serta punya semangat dalam mengembangkan dan menunjukkan bakatnya.

Oleh karena itu, tak usah heran jika banyak profesi kreatif baru yang bermunculan. Banyak anak muda yang berhasil mengekspresikan hobi dan bakatnya kemudian beralih menjadi content creator. Bahkan, sekarang ada profesi yang disebut youtuber, selebgram, influencer, atlet e-sports, dan sebagainya.

Selain banyaknya profesi kreatif baru yang bermunculan, profesi di bidang teknis juga mungkin akan perlahan menghilang. Betapa tidak, sekarang sebagian besar pekerjaan teknis sudah dapat dihandel oleh mesin. Di sisi lain, mesin tidak memiliki “otak kreatif” karena kreatifitas hakikatnya lahir dari buah pikir manusia. Itu artinya, kelak profesi kreatif akan semakin dibutuhkan dan profesi di bidang teknis akan semakin berkurang. Untuk itu proses character building juga harus menumbuhkan jiwa kreatif bagi generasi muda saat ini.

Lebih dari itu, character building yang tepat sasaran seharusnya juga akan ditandai dengan lahirnya generasi produktif baru yang memiliki niat tulus untuk membangun negeri. Dengan begitu, semoga akan dijumpai para pemimpin atau pemangku kepentingan yang berlaku jujur dan adil, tidak memandang status sosial dan suku bangsa, serta selalu mengedepankan kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, Bung Karno telah mengingatkan kita sejak jauh-jauh hari akan pentingnya character building pada sebuah bangsa. Harapan kita semua tak lain dan tak bukan adalah menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri di tahun 2045 nanti; menciptakan generasi yang berkarakter Pancasila sekaligus siap menjawab tantangan peradaban di masa depan.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Mister IR

   

Akan membagikan segala informasi kepada Sobat Mister semua.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments