Chris Scott, Lelaki yang Menemukan 100 Bom di Afghanistan


Chris Scott, Lelaki yang Menemukan 100 Bom di Afghanistan 1

Sepanjang perang di Afghanistan, jutaan senjata peledak yang disimpan dalam tanah digunakan. Ratusan tentara tewas karena perangkap bom tersebut. Ada satu orang yang bertugas melacak keberadaan bom, dan menjinakannya. Chris Scott berhasil menemukan 100 bom, sebelum akhirnya berhenti karena kematian pemimpin pasukannya.

Di daerah berdebu provinsi Helmand, orang-orang Taliban menanam ribuan bom didalam tanah. Keberadaan bom tersebut jelas menjadi momok menakutkan. Terutama bagi jutaan tentara dari sekutu barat, yang beroperasi disana sepanjang tahun 2011 lalu.

“Orang yang terkena bom jebakan seperti itu akan berbentuk tak jelas. Bahkan kadang-kadang seperti tak berbentuk manusia saat melihatnya,” kata Anthony Lamber, dokter militer yang mengurus banyak korban bom di rumah sakit trauma Camp Bastion di Helmand.

Salah satu tentara yang pernah merasakan kerasnya perang bom jebakan itu, merupakan Chris Scott. Ia mulai bertugas di Afghanistan pada September 2011. Khusus ditugaskan oleh angkatan bersenjata Inggris untuk mencari peledak didalam tanah, sebelum akhirnya dijinakan.

Chris Scott yang bertugas di Afghanistan untuk mencari bom. (dok. BBC)
Chris Scott yang bertugas di Afghanistan untuk mencari bom. (dok. BBC)

Scott baru berumur 20 tahun saat menerima tugas itu. Tugas berat karena menjadi orang pertama dalam barisan serangan tentara. Ia bertanggung jawab terhadap hidup 30 tentara dibelakangnya, tiap patroli dari bahaya bom jebakan.

“Saya secara mendasar bertugas dibagian paling depan dalam patroli, orang pertama yang mengecek kondisi tanah, dan memastikan semua anggota pasukan patroli bisa aman melewati sebuah lokasi,” kata Scott.

Pasukan Scott biasa bertugas di rute 611, sebuah jalan besar yang menghubungkan dua kota besar di Helmand. Banyak tentara dan masyarakat lokal yang menggunakan jalan tersebut. Jadi kondisinya sama juga untuk kaum Taliban, daerah berbahaya karena banyak bom tertanam dibawah tanahnya.

Tak dapat terbayangkan betapa beratnya tugas yang diemban Scott. Namun menurutnya ia bisa melewati hal itu karena tak terlalu ambil pusing. “Kalau terlalu dipikirkan bisa saja saya menjadi gila. Terlalu banyak yang hadir didalam mimpi. Tekanan yang diberikan sangat tak dapat dipercaya,” kata Scott.

Tekanan secara mental tak hanya diterima oleh Scott. Ibu Scott, Lesley juga mengalami hal yang sama. Menurut Lesley apa yang dilakukan anaknya di Afghanistan merupakan hal paling mengerikan.

“Scott selalu mengabarkan saya, dan saya tahu ia menjadi orang pertama didepan pasukan patroli. Saya pikir ia merupakan sasaran empuk untuk senjata meriam yang ditembakan musuh,” urai Lesley, mengungkapkan pikirannya.

Untungnya Scott pintar dalam meraba situasi. Dalam pekerjaan yang maha berat itu, ia selalu fokus untuk menjalankan tugas. Salah satu yang terpenting merupakan melihat tanda-tanda disekitar lokasi bom ditanam.

“Taliban selalu meninggalkan tanda dekat bom ditanam. Tanda itu untuk mengingatkan mereka lokasi bom berada,” jelas Scott lagi.

Bila kemudian sebuah lokasi memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan, Scott mulai bekerja. Ia akan tiarap dan berjalan perlahan ke depan. Berusaha melindungi wajah dan kepalanya dari ledakan yang bisa kapan saja terjadi.

“Jadi bila ledakan benar terjadi, setidaknya saya hanya akan kehilangan tangan. Tapi tubuh saya akan terlempar, dan jatuh kembali ke tanah,” urai Scott.

Satu hal yang menjadi pikiran bila ia kemudian berhasil maju tiarap dengan selamat. Ia akan memberikan tanda kepada pasukan lain, kalau lokasi itu aman. Tapi tiba-tiba ada bom meledak dan membuat anggota pasukan dibelakang tewas.

“Perasaan sangat tak menentu, mengetahui kita berbuat salah mengatakan daerah itu aman tapi ternyata tidak,” kata Scott.

Operasi tentara Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Afghanistan dalam mencari bom yang masih tertanam disana. (dok. BBC)
Operasi tentara Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Afghanistan dalam mencari bom yang masih tertanam disana. (dok. BBC)

Hingga kini Scott terus menyimpan catatan pribadi, mengenai pekerjaan mencari bom di Afghanistan. Menurut catatan yang dimilikinya, setidaknya ada 100 bom dalam tanah berhasil ditemukan.

Sayangnya prestasi itu sempat tercoreng pada tugas akhir yang diembannya. Saat itu ia bersama pemimpin pasukan, Kapten Bowers sedang menjalankan inspeksi rutin. Tiba-tiba terdengar suara bom meledak tak jauh dari mereka. Scott bersama pasukan yang lain hanya bisa melakukan gerakan reflek tiarap, untuk menghindari dampak ledakan tersebut. Kemudian ia bersama pasukan lain, ternyata masih selamat. Tapi ia tak menemukan Kapten Bowers. Tak lama jasad sang Kapten ditemukan terlempar 20 meter jauhnya, tewas dengan tubuh tak berbentuk manusia lagi.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sulung

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap