Cinta dari Masa Depan


Cinta dari Masa Depan 1

Suara klakson yang memekakkan telinga serta kata makian terdengar dari penegndara yang tak sabar dengan kemacetan yang sudah hampir satu jam, sedangkan jam kantor akan dimulai lima belas menit lagi. Pandanganku asyik mengamati pengendara motor yang nakal, mereka menggunakan trotoar agar tetap bisa melaju dengan lancar. Ingin rasanya aku keluar dari mobil ini lalu ikut salah satu pengendara tersebut agar terbebas dari kemacetan yang entah kapan akan berakhir.

Kendaraan di depan mulai maju perlahan, aku pun mengikutinya. Namun, baru beberapa meter berjalan kaca spion sebelah kiri mobilku patah, tersenggol mobil berwarna merah yang sudah melaju dengan kencang. Hati ini bergemuruh dengan dada naik turun, menahan emosi. Kuinjak gas dengan kekuatan penuh untuk menyusul mobilnya. Aku menurunkan kaca mobil dan berteriak, berusaha menghentikan laju mobil tersebut. Mobil tersebut mulai melambat, lalu menepi. Seorang pria muda berjas biru tua turun dari mobil sambil mengendorkan dasi, lalu melangkah mendekat .

“Hei, Tuan! Anda telah melakukan kesalahan, lalu pergi begitu saja,” kataku berapi-api sambil menunjuk muka pria tersebut.

“Berapa?” tanyanya datar sambil mengeluarkan dompet di saku belakang celananya.

 Diri yang dari tadi sudah bersusah payah menahan gejolak di dada, justru dipancing seperti itu. Kupasang wajah sejutek mungkin dengan tatapan tajam tepat ke netranya yang berwarna cokelat. Berharap pria bertubuh tinggi tersebut mengerti maksudku. Namun, dia hanya diam, lalu berbalik arah.

“Hei, Tuan! Anda mau ke mana? Masalah kita belum selesai!” teriakku dengan nada tinggi.

“Dasar wanita aneh, waktuku tidak banyak. cepat katakan berapa nominal yang kau butuhkan,” ujarnya dengan nada dingin.

“Aku tak perlu uangmu, Tuan. Di mana sopan santunmu itu? Pakaian saja seperti orang berpendidikan, tetapi etika nol besar,” kataku dengan nada mengejek.

Pria tersebut mendekat ke arahku, perlahan wajahnya mendekat dengan senyum miring menghiasi. Embusan napasnya menyentuh wajahku karena posisi kami yang terlalu dekat. Aku berusaha mundur, menjauhkan diri. Namun, tanngan pria tersebut menahan dengan memegang punggung yang berbalut blazer hitam. Pandangan pria bertubuh tinggi itu beralih ke arah nama yang tertempel  di dada sebelah kanan.

“Zeline Ayudia, nama yang cantik seperti orangnya,” puji pria di depanku ini sambil menatap mata hitamku.

Emosi yang meluap-luap tadi, tergantikan dengan jantung yang berdetak semakin kencang dan pipi yang terasa menghangat. Aku tak berani menatap mata tajamnya. Tiba-tiba otakku teringat permasalahan kami. Tanganku berusaha mendorong tubuh tegap pria di depanku ini. Namun, tangan pria tersebut lebih cepat untuk menggengam tangan ini.

 “Hei, Tuan tanpa nama! Kau harus menyelesaikan masalah ini!” kataku tegas dengan napas yang memburu.

“Tenang, Nona. Kau lupa siapa yang membuat masalah lebih dulu?”

“Menyebalkan!” umpatku penuh penekanan.

 “Kau lupa denganku, Ze? Oh, iya. Saat ini kau belum mengenalku,” katanya yang membuatku  bingung.

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa bisa mengenalku?” tanyaku dengan mimik bingung sambil menjauh darinya.

“Aku Aldari Reynand, suamimu di masa depan,” jawabnya lembut.

“Kamu bercanda?” tanyaku tak percaya dengan ucapannya.

“Ze, kamu lupa kalau kita bisa melakukan perjalanan waktu hanya dengan menekan tombbol merah dikunci mobil, lalu mengucapkan waktu tujuan kita?”

Aku tahu kalau setiap manusia di bumi ini dapat menjelajahi waktu  ke masa lalu atau pun masa depan. Banyak dari teman-temanku sudah melakukan perjalanan tersebut hanya untuk menyaksikan kehidupannya di masa depan, seperti bagaimana pencapaian karirnya atau siapa jodohnya. Namun, aku tak pernah tertarik untuk melakukan itu. Bagiku hidup tak menyenangkan, jika tahu akan jadi apa diri ini di masa depan.

“Lalu untuk apa kamu ke sini?” tanyaku penasaran.

“Ikut lah denganku, Ze. Kamu harus lihat apa yang terjadi dengan dirimu—“

“Aku tidak mau, biarkan semuanya berjalan sesuai dengan garis Tuhan,” kataku memotong kalimat yang belum diselesaikan oleh Aldari.

***

Pria bertbuh tinggi tersebut sangat gigih dalam membujukku, sehingga sekarang aku berada di sini, di dalam mobilnya di masa lima tahun ke depan dari masaku saat ini. Jalanan yang sepi, hanya dilewati beberapa kendaraan saja. Kecepatan mobil ini pun tak terlalu cepat walaupun jalanan sepi. Kuperhatikan sekitar, terlihat mobil yang sama denganku melaju dengan cepat. Kemudian, kehilangan keseimbangan, sehingga menabrak pembatas jalan. Jantungku seakan berhenti tiba-tiba melihat adegan kecelakaan tepat di depan mata. Kualihkan penglihatan ke arah Aldari yang hanya diam melihat hal tersebut.

“Apakah yang di dalam sana kita?” tanyaku hati-hati.

 “Kita bertengkar di sana. Aku ingin memperbaiki semuanya. Kamu sekarang hanya diam, terbujur kaku di rumah sakit,” jelasnya dengan suara parau menahan isak tangis.

“Maksudmu aku tak bisa diselamatkan dari kecelakaan tersebut?” Sambil menatap mata cokelatnya yang sudah berkaca-kaca.

“Aku minta maaf, Ze. Seharusnya aku percaya dengan kata-katamu.” Tangannya menggenggam tanganku erat.

 Diri ini kecewa mendengar semua penjelasannya. Rongga dada seakan terhimpit, tak mampu menghirup oksigen. Sesak yang kurasakan, ternyata orang yang kucinta di masa depan tidak mempercayaiku. Aku memukul-mukul dada, berharap rasa sesak itu pergi perlahan. Aldari menahan pergerakan tanganku dengan kembali menggenggam tangan ini.

“Ada satu cara, Ze agar kecelakaan itu tak pernah terjadi, waktunya hanya satu jam dari sekarang. Kamu batalin pertemuan dengan teman priamu itu setelah kamu kembali ke masamu. Aku mohon, Ze lakukan,” mohonnya dengan mencium punggung tanganku.

“Aku tidak bisa melakukannya, Al karena pria tersebut adalah sepupuku sendiri. Biarkan saja akhir hidupku seperti itu. Aku tak keberatan.”

Aldari Reynand terus saja membujukku dengan alasan dia tak dapat kehilanganku dengan cara seperti itu. Aku hanya bergeming. Semakin lama mobil yang dikendarai semakin tak terkendali karena Aldari tidak fokus ke jalan, tetapi fokus ke arahku. Berulangkali aku mengingatkan bahwa bahaya menyetir dalam keadaan tidak stabil, tetapi dia tak mendengarkan, sehingga mobil pun menabrak kendaraan di depan. Rasa nyeri menjalar ke kepalaku serta kulihat darah mengalir dari kepala Aldari. Dia tersenyum ke arahku, berusaha meraih kepalaku dan mengusapnya.

“Kamu benar, biarkan semuanya berjalan sesuai garis Tuhan. Kembalilah ke masamu dan menikahlah dengan pria baik, jangan seperti diriku. Aku akan selalu mencintaimu, Ze. Maaf telah mengecewakanmu,” katanya lirih, lalu matanya tertutup rapat.

***

Aku memandang fotonya dengan hati sesak karena perjumpaan itu menjadi perjumpaan pertama sekaligus terakhir. Hati ini senang bisa mencintanya walaupun tak akan pernah bisa memiliki karena perjalan waktu itu merubah sejarah hidup ini. Biarkan cinta itu tersimpan rapat di daam hati sampai nanti aku bisa benar-benar melupakannya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Permata_S

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap