Cinta itu di rasakan bukan di pertanyakan

Cinta itu di rasakan bukan di pertanyakan 1

Dewasa ini, fenomena hubungan antar dua manusia yang saling mencintai itu disebut sebagai pacaran, saling menjalin kasih mengikat janji sangat populer dikalangan milenial (Istilahnya cinta monyet) padahal cuman modal sering ketemu, terus ngasih perhatian dikit, kadang ngasih contekan PR, nraktir cilok Mang Oleh pas istirahat dan sesekali nganterin pulang pake motor legend ala-ala Dilan dan Milea. Hal itu tidak jarang membuat hubungan dua sejoli menjadi lebih spesial, yang pada akhirnya terjadilah yang terjadi  …

sebuah kalimat sakral yang harusnya disimpan baik-baik, dijaga dan diucapkan pada orang dan waktu yang benar-benar tepat, akhirnya terucap dengan murah “Aku Cinta Kamu” atau dalam versi lain “Saranghae, i love you, abi bogoh kamaneh,  ana uhibbu ilaik” dan sejenisnya.

Padahal tidak sedikit dari kaula muda milenial ini yang tidak mengerti dengan perasaannya sendiri waktu itu, cintakah? atau hanya perasan tertarik biasa karena sering berinteraksi? atau mungkin hanya sekedar nafsu saja, melihat cantik/gantengnya? atau yang lebih aneh lagi, “Neng kenapa kamu cinta sama dia?”, “Motornya bagus bang..” ngeriiih …

Sadarlah heyy para bujangga, semakin sering kamu mengatakan “Aku cinta kamu, i love you, saranghae” dan sejenisnya, semakin sering kamu katakan itu, semakin sering kamu obral cinta kamu, maka kata “Cinta” darimu suatu saat akan kehilangan tajinya, karismanya, wibawanya, kata cinta itu akan kehilangan nilai dan maknanya.

Perempuan tidak akan lagi tersanjung dengan rayuanmu “kamu cantik, baik, sholehah, unyu .. aku cinta kamu” karena dia tau, bukan hanya dia saja yang pernah mendapatkan kata cinta darimu, kata cinta darimu sudah sering diobral sana sini kebanyak perempuan, udah gak asing lagi di telinganya dan cenderung kaya mainan, tiap nemu yang glowing langsung aja lidah buaya dengan mudahnya berucap “i love you”

Padahal kata “cinta” itu harusnya jadi kata-kata yang sakral, tidak sembarang diucapkan dan tidak sembarang orang juga boleh mendengarnya, karena dia (kata cinta) itu adalah luapan perasaanmu yang paling tulus. Bersama-sama dengan terucapnya kalimat itu ada semacam perasaan rela berkorban, rela menderita, rela menerima kekurangan, apapun konsekuensinya hanya agar ungkapan cinta tulusmu berbalas.

Bayangin deh, buat perempuan, jika satu waktu kamu ditembak laki-laki ganteng, tapi kamu tau laki-laki itu sering gonta-ganti pacar, kalo harus distatistikin mah kayanya sebulan sekali dia ganti pacar ─ganti pacar udah kaya ganti sendal jepit aja─ rutinan. Tiba-tiba dia datang berlutut dihadapanmu sambil senyum manis bilang “Aku cinta kamu” jujur deh, perasaan kamu waktu itu gimana, biasa ajakan?

Nah itulah yang akan terjadi, nilai sesuatu saat sudah jadi obralan akan turun harga jualnya, pun itu ucapan. Sebagaimanapun tampan dan kerennya laki-laki itu, seberapapun sungguh-sungguhnya dia mengungkapkan persasaanya, bahkan kalo perlu guling-guling dia di tanah ngemis-ngemis supaya sang wanita balas cintanya, tapi saat wanita itu tau bahwa dia bukan satu-satunya target cinta sang laki-laki, tetap saja dimata wanita mananapun kata cinta itu nggak ada harganya, murah meriah kaya baju obralan tanah abang.

Tapi seandainya datang kepada kamu (wanita) seorang laki-laki ganteng (kaya oppa korea) yang kamu tau dia jomblo dari lahir, ─bukan jomblo karena ditolak terus ya─ tapi jomblo karena dia menahan dirinya untuk tidak sembarangan mengucapkan kata cinta. Tapi pada satu waktu yang tepat, dia datang kepadamu dengan senyum lembut berkata “Aku cinta kamu”, kira-kira gimana perasaan kamu ukht? “meleleh …” apalagi kalo diujungnya ada kalimat tambahan “Maukah kamu menjadi istriku, bersama-sama menitih jalan ke syurga-Nya?” beeuuh .. “Ambulan panggil ambulan!!! ada yang mau pingsan” kayanya.

Teringat penulis pada pesan ustadz Hannan Attaki di salah satu ceramahnya, katanya “Jangan berikan dulu cinta dan hati kita, karena itu adalah hal yang paling berharga dalam hidup kita, sebelum kita mengatakan “saya terima nikahnya” baru kita kasih itu sebagai hadiah terbesar. Begitu juga perempuan, jangan mudah memberikan cinta kalian kepada laki-laki, walaupun sehebat apapun laki-laki itu, sampai dia mengatakan “saya terima nikahnya pulanah binti pulanah, dengan mahar sekian” baru pada saat itu juga kita katakan “Aku berikan hatiku kepadamu”.

Terakhir, ingat ini baik-baik, Jadikanlah kata “Cinta”mu menjadi sangat mahal dengan tidak sering diobral, di umbar ke banyak dan sembarang orang. Percaya deh akan ada yang ngehargai ucapan tulusmu itu, sebuah kalimat pendek yang kamu ucapkan akan membuat sang pujaan hati tersanjung terbang dalam kegembiraan-kegembiraan, karena dia tau bahwa dialah satu-satunya manusia dibumi ini yang mendapat kalimat tulus ungkapan cinta darimu, meskipun tau deh diterima atau engganya.

Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Rausan Fikri

   

Pemuda yang mempunyai beberapa ambisi yang harus di selesaikan, hoby menulis untuk refleksi dan meditasi juga menggiring bola/ opini