Cinta Tak Kasat Mata


Cinta Tak Kasat Mata 1

Hari itu adalah hari pertamaku magang di sebuah perusahaan Korea. Aku Hani, 16 tahun, siswi kelas 11 dan sekolahku mewajibkan seluruh siswa di kelas tersebut untuk magang selama satu bulan. Aku memilih perusahaan Korea bukan karena aku seorang kpopers, melainkan cerita dari pamanku yang bekerja disana bahwa suasana dan pekerjaannya sangat mengasyikkan. Kita seperti tidak sedang bekerja karena orang-orangnya yang ramah. Jabatan pamanku disana sebagai manajer pemasaran dan tentu aku akan berada di divisinya saat magang agar lebih mudah. Sebenarnya aku tidak mau karena ingin mandiri, namun pamanku yang meminta. Aku selalu menuruti paman karena kedua orang tuaku sudah tidak ada. Mereka kehilangan nyawa saat pulang dari luar kota.

Pukul 7 pagi, aku sudah sampai disana dan langsung menemui Pak Hongseok. Ia adalah bawahan pamanku yang akan membantuku dalam proses magang. Ia berusia 10 tahun lebih tua dariku. Ia juga bercerita bahwa sudah tinggal di Indonesia sejak usia 19 tahun. Ia lulusan Universitas Indonesia. Bicara Indonesianya sudah lancar namun masih dengan logat Koreanya. Lucu! Aku pertama kali diarahkan untuk mengenal apa itu pemasaran dan bagaimana cara pemasaran versi perusahaan tersebut. Aku juga diajak berkeliling dan diperkenalkan dengan seluruh karyawan disana.

Seminggu menjadi karyawan magang, aku sungguh betah. Pamanku memang benar. Orang-orangnya sunggung menyenangkan. Aku sudah akrab dengan yang lainnya selain Pak Hongseok. Saat itu juga, Pak Hongseok menyuruhku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Bapak, melainkan Kakak saja. Aku setuju karena sepertinya akan lebih santai dan sejak saat itu aku mulai menyukainya. Aku selalu mengirimkan pesan modus seperti menanyakan pekerjaan padahal sebenarnya hanya ingin bertukar pesan dengannya. Hani! Memalukan!

Hidupku menjadi lebih ceria setelah magang disana, tepatnya setelah mengenal Hongseok. Pamanku selalu curiga dan bertanya, namun aku tidak pernah menceritakannya. Paman bisa saja menyebarkan gossip ini jika tahu aku menyukai salah satu karyawannya. Aku tidak mau. Hongseok pun akan merasa malu.

Selain membahas pekerjaan, aku dan Hongseok selalu bertukar cerita mengenai pengalaman hidup kami dari yang lucu, membuat emosi, dan cerita sedih. Ia selalu memberikan respon baik dan membangun. Hal itulah yang membuatku semakin suka dan nyaman berada di dekatnya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya kepadaku sampai akhirnya saat pelepasan masa magangku, ia menyatakan bahwa ia menyukaiku. Aku sangat terkejut dan terharu. Pertama kalinya aku tidak bertepuk sebelah tangan. Hongseok mengatakan itu di depan semua karyawan kantor. Wajahku memerah karena malu, namun amat sangat senang. Tanpa menunggu lama-lama, aku langsung menerimanya dan kita resmi berpacaran saat itu. hari itu menjadi hari yang paling bahagia untuk kami, selain hari jadian, aku dilepas dari masa magang dengan baik, ia juga naik jabatan. Sungguh mengharukan dan membanggakan!

Dikarenakan sudah tidak berada di tempat yang sama, aku hanya bisa bertemu Hongseok saat akhir pekan. Terkadang, ia mengajakku makan saat dirinya selesai kerja. Aku saat itu masih tidak menyangka bisa merasakan apa itu pacaran, bagaimana memiliki seorang kekasih. Aku sangat bahagia sampai dimana aku menyadari hubungan ini bukan seperti hubungan yang lainnya sejak awal.

Sejak meresmikan bahwa kami berpacaran, kami tidak pernah melakukan skinship. Minimal pegangan tangan. Itu tidak pernah kami lakukan. Aku selalu berpikir apakah ia malu atau memang tidak suka melakukan hal itu? Akan tetapi, hanya berpegangan tangan, loh! Aku bahkan ingin memeluknya saat merasa rindu atau lelah akan pekerjaan sekolahku. namun, aku merasa canggung karena ia tidak pernah memulainya. Ia juga tidak pernah mengirimkan pesan duluan sebelum aku yang memulai. Kami juga tidak memiliki panggilan sayang. Saat itu, aku bingung. Apakah aku dan Hongseok benar berada di dalam sebuah hubungan percintaan? Semuanya sangat berbeda dengan apa yang aku lihat di film, drama, bahkan kehidupan percintaan temanku.

Akhir pekan keempat sejak aku berpacaran dengan Hongseok, aku mengajaknya ke sebuah tempat bermain dan mengajaknya berfoto. Ia menolak untuk bermain karena tidak suka dan hanya menyetujui untuk berfoto lalu makan. Selama 4 minggu, aku hanya makan dengannya untuk berkencan dan kini ia meminta seperti itu lagi. Namun, aku tidak sedih karena bisa berfoto dengannya. Sesuai dugaanku, kami berfoto dengan sangat kaku. Bahkan dinilai sebagai teman dekat pun tidak bisa jika dilihat dari hasilnya. Aku kecewa tapi tidak aku tunjukkan karena Hongseok sepertinya biasa saja. Aku tersenyum dan mengatakan hasilnya bagus. Aku bahkan memberinya figura dan memajangnya di meja belajarku.

Oh, iya. Mengapa aku tidak pernah makan siang dengannya? Selain makan siang di kantin kantornya, aku selalu membuat dan mengiriminya masakan. Setelah magang, aku mengambil program belajar di rumah. Jadi, aku ada waktu untuk membuatkannya makan siang. Aku tidak pandai memasak sebenarnya, tapi aku menjadi memiliki minat dengan dunia kuliner sejak berpacaran dengan Hongseok. Aku selalu melihat resep di internet. Ia juga bilang masakanku tidak buruk untuk seorang pemula. Itulah yang membuatku semakin rajin memasak. Untuk pengiriman biasanya aku menggunakan layanan jasa antar. Hongseok merekomendasikannya karena jarak dari rumahku ke kantornya cukup jauh dan aku tidak memiliki kendaraan pribadi. Pacarku sangat perhatian.

Pada suatu hari di hari Jum’at, aku dan Hongseok berencana akan menonton film bioskop untuk pertama kalinya. Kami berencana bertemu di sore hari saat dirinya sudah selesai bekerja. Namun, karena ada keperluan di dekat sana, saat siang hari aku diam-diam ke kantornya dan memberikan langsung makan siang yang biasa aku kirim melalui layanan jasa antar. Aku ingin mengantarkan langsung kepadanya, namun resepsionis disana mengatakan bahwa Hongseok tengah rapat dengan klien. Aku hanya bisa menitipkannya. Aku tidak mempermasalahkannya hingga saat aku ingin pergi ke toilet, aku mendengar suara Hongseok yang bercerita sesuatu kepada rekannya. Sesuatu itu menyayat hatiku.

“GUA CAPEK. GUA RELA DEH TURUN JABATAN ASAL NGGAK BERHUBUNGAN LAGI SAMA BOCAH ITU,” teriak Hongseok.

“Emang dia kenapa, sih? Bukannya lo baik-baik aja selama ini?” tanya rekannya.

“Nggak baik-baik aja. Dia bukan tipe gua. Dia terlalu kekanakan. Lagian beda 10 tahun, apa nggak gila? Gua udah nggak bisa nerusin ini lagi. Bagi nomor Pak Hengki. Gua nggak simpen nomornya di hape ini,” keluhnya.

Aku benar-benar lemas mendengarnya. Pak Hengki adalah nama pamanku.

“Apa ini? Pamanku terlibat dengan hubunganku? Apa maksudnya? “ batinku dalam hati.

Aku kembali terkejut saat Hongseok terdengar melempar dan membuang masakanku saat resepsionis memberikan itu kepadanya.

“Kok dibuang sih?” tanya rekannya lagi.

“Gua nggak pernah suka sama masakannya. Aneh. Dia bahkan selalu membuatnya dengan asin,” jawab Hongseok.

“Jadi, selama ini lo buang makanannya?”

“Iyalah. Cukup sekali aja gua icipin.”

Dadaku terasa sesak dan spontan mengeluarkan air mata serta berlari menuju toilet. Aku tutup toilet dan menangis tanpa suara agar tidak ada yang tahu. Bodoh memang. Seharusnya aku pulang, tapi aku malah menuju ke toilet sampai sore hari. Sampai dimana akhirnya aku melihat wajahnya pertama kali dengan perasaan yang hancur. Iya. Kami jadi menonton film. Selama disana, aku menahan rasa sakit dan sedihku. Entah mengapa. Seharusnya aku marah dan memakinya, namun aku tidak bisa. Ragaku lebih memilih diam.

Saat film berlangsung, aku menatapnya.

Ia bertanya, “Ada apa?”

Aku menggelengkan kepala yang menandakan tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya dalam hati mengapa ia begitu tega melakukan ini.

Selesai menonton, aku memohon kepadanya untuk mengunjungi area bermain dan ia setuju. Saat itu, aku benar-benar melupakan rasa sakit itu. Aku banyak tertawa bahkan menganggap Hongseok benar-benar mencintaiku. Semua itu terhenti saat sesampainya di rumah. Aku merasa hancur lagi, tapi aku tutupi dengan senyuman hingga ia menganggap aku baik-baik saja. Sebelum pulang, aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Ia terkejut dan langsung berkata, “A-aku juga.”

Semenjak kejadian itu, aku lebih banyak diam. Aku bahkan tidak berbicara dengan pamanku. Aku tidak menanyakan apa sebenarnya yang terjadi? Apa rencana dari ini semua? Aku hanya bisa diam sampai pamanku menebak apa yang terjadi.

“Kamu kenapa, Han? Apa mungkin kamu udah tahu?” tanya Paman.

Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan kesal.

“Ah, benar. Kamu udah tahu, ya? maafkan paman. Paman hanya ingin kamu selalu bahagia. Kamu menjadi lebih ceria saat mengenal dan bersama Hongseok.”

“Tapi karenanya juga saat ini aku berubah menjadi tidak ceria,” kataku lirih.

“Mengapa paman memaksanya untuk memacari Hani? Aku lebih baik ditolak dari awal jika harus menerima kenyataan memiliki kenangan indah lalu dijatuhkan seperti ini!” kataku lagi dengan nada lebih keras.

Aku menangis dan paman langsung memelukku. Berulang kali ia ucapkan kata maaf. Aku memang kesal tapi aku tidak bisa membencinya bahkan membenci Hongseok. Aku mengetahui dirinya akan segera bertunangan dengan kekasih aslinya. Wanita itu bekerja sebagai manajer sebuah band dan sedang menjalankan tour keliling kota. maka dari itu, ia jarang berada di satu tempat dengan Hongseok.

Malam itu malam dua hari sebelum pertunangannya, Hongseok mengajakku bertemu. aku sudah tahu bahwa ia akan memutuskan hubungannya denganku.

“Selamat!” ucapku sambil tersenyum.

Ia bingung mengapa secara tiba-tiba aku menyelamatinya.

“Dua hari lagi hari tunanganmu. Benar, kan?”

Ia terkejut dan mungkin terheran-heran, darimana aku bisa tahu informasi ini. Aku tersenyum.

“K-kamu tahu darimana?” tanyanya.

“Ada, deh. Aku juga tahu kok kalo kamu memacariku hanya karena diimingi naik jabatan oleh Paman. Kamu jangan salahin Paman. Bukan dia yang membocorkan hal ini.”

“Lalu?”

“Kamu sendiri. Aku nggak sengaja denger obrolan kamu sama rekanmu di hari kita akan menonton film. Aku juga denger kamu buang masakanku. Maaf, ya masakanku nggak enak. Padahal menurutku enak. Mungkin emang kita ditakdirin ngga sefrekuensi, sampe urusan rasa makanan aja beda.”

“A-aku….”

“Udah, ya. kamu harus banyak istirahat biar fit saat hari tunanganmu nanti,” kataku lagi sambil berupaya berdiri dan meninggalkannya.

Ia menarik tanganku, “Maaf… aku nggak sengaja. Aku kepalang nggak enak sama Pak Hengki dan saat itu juga aku butuh jabatan itu. Aku tahu ini bakal nyakitin kamu. Aku…aku…nggak tahu harus gimana.”

Aku melepaskan tangannya dari tanganku. Aku berbalik dengan wajah penuh air mata. Aku menggigit bibir bawahku berupaya tidak mengeluarkan suara tangisan. Hongseok menatapku dan mencoba memelukku. Aku tolak.

“Kamu hanya perlu fokus dengan kekasihmu. Kamu nggak boleh kayak gini lagi. Kamu jangan nyakitin dia dan cewek lainnya lagi. Cukup aku. Aku emang sakit dan hancur tapi aku nggak akan bisa maksain hati kamu yang justru udah ditaruh dalam kehidupan orang lain. Makasih buat kenangan indah dengan ngasih aku kesempatan gimana rasanya punya pacar meskipun beda dari yang lain. Semoga kamu selalu diperlancar dalam segala urusan. Begitu juga aku. Sampai jumpa.”

Aku langsung berlari menjauhinya setelah mengatakan kalimat panjang itu. Hongseok tidak mengejarku karena paham kami benar-benar harus berpisah dan kembali menjalani kehidupan sebelum saling mengenal satu sama lain. Aku tidak menyangka bahwa cinta dalam hubunganku ini tak kasat mata. Hubungan tanpa adanya cinta oleh dua pihak benar-benar menyakitkan.


xandrajunia

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap