Cogito Ergo Sum: Aku Berpikir, Aku Ada, dan Aku Ber Asa

Cogito Ergo Sum: Aku Berpikir, Aku Ada, dan Aku Ber Asa 1

“Aku berpikir, maka aku ada”, adalah ungkapan dari seorang filsuf asal Perancis. Apakah memang benar jika kita ingin ada, maka kita harus berpikir dan mempunyai akal sehat? Bukan kah jika ingin ada di dunia kita cuman perlu dilahirkan dari rahim Ibu? Pernyataan kedua memang tidak salah, sih. Hanya saja, konteks yang dimaksud oleh Rene Descartes disini adalah mengenai manusia yang dapat eksis dan dianggap oleh lingkungan masyarakat sebagai pribadi yang memiliki suatu peran dan berkepribadian. Maksudnya adalah bagaimana manusia memiliki tujuan dalam hidupnya, sehingga ia memiliki motivasi untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan ditemani waktu yang terus berjalan, manusia pun berproses, menemui berbagai hal baru yang mengubah pola pikirnya, pun mengalami berbagai hal sulit yang akan menjadikannya menjadi sosok yang lebih kuat.

Jika kita lihat dari sisi agama, sebenarnya hal ini cukup memberikan kejelasan bagaimana seharusnya manusia selama ia hidup, ia menggunakan pikiran dan akal sehat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan sebaik mungkin. Manusia diberikan hal spesial, yang berbeda jika dibandingkan dengan hewan, yakni adanya budi pekerti yang luhur. Bagaimana kita seharusnya bersikap, bertutur kata, mampu memahami dan menganalisis keadaan, dan mampu untuk menempatkan diri adalah buah dari pikiran “aku berpikir, maka aku ada” sebagai cikal bakal perwujudan “budi pekerti” yang lazim kita pahami saat ini.

Sebenarnya memang, hidup adalah sebuah pilihan. Kita bebas memilih bagaimana kita menjalani kehidupan selama sisa waktu yang kita punya. Kita bisa menjalani kehidupan dengan se santai mungkin tanpa memikirkan banyak hal, dan sebaliknya bahkan kita bisa menjalani kehidupan dengan memikirkan banyak hal ditambah adanya tuntutan keadaan yang memaksa kita menjadi seorang pribadi yang banyak berpikir. Ringan atau beratnya memang ditentukan dari buah pikiran kita. Meskipun diberi porsi permasalahan kehidupan yang sama pada masing-masing insan, mereka dapat menjadi pribadi yang berbeda satu sama lain karena pola pikir mereka yang memiliki perbedaan akan sudut pandang dalam memandang kehidupan.

Dengan berpikir, kita bisa menjadi pribadi yang terang. Kita memandang kehidupan layaknya sebuah arena taman bermain. Dengan berjuta pesona warna-warni nya, sehingga kita melihat bahwa dunia menyajikan berbagai hal yang menyambut kita dengan rupa warna kebahagiaan. Akan ada hikmah tersendiri dari setiap permasalahan yang ada. Karena layaknya ketika kita bermain wahana trampolin, kita merasa candu untuk melompat, jatuh, bangkit untuk melompat, jatuh, dan bangkit lagi hingga merasakan sensasi euforia yang masuk dalam raga kita ketika mencapai puncak lompatan tertinggi. Daripada memandang hasilnya nanti akan seperti apa, kita lebih peduli terhadap apa yang ada saat ini. Kita mampu menghargai apa yang Tuhan beri pada waktu sekarang, dan akan senantiasa menjaganya dengan sebaik mungkin. Dan seiring berjalannya masa, kita dapat dengan seksama memahami apa yang dimaksud ‘ikhlas’ dalam menjalani kehidupan yang sudah Tuhan berikan.

Dengan berpikir, kita bisa menjadi pribadi yang redup. Kita memandang kehidupan layaknya medan perang yang hanya berisikan siluet monokrom. Dengan berjuta pesona gelapnya, dunia menjadikan kita sebagai pribadi yang menyangkal banyak afeksi. Karena, kita mengaggap bahwa tidak ada gunanya menjalani kehidupan berkawan dengan rasa bahagia yang semata-mata hanya hadir sementara dan akan dilupakan sosoknya dikemudian hari. Tidak ada abu-abu, yang ada hanya hitam dan putih, hal mutlak yang dinggap memang sebuah kebenaran semu dan kesalahan yang hakiki. Kita menjadi lupa bahwa sebenarnya manusia adalah sosok abu-abu yang tidak bisa menjadi hitam seratus persen, dan menjadi sosok yang selalu putih. Sejahat-jahatnya manusia, pasti pernah melakukan hal baik dalam hidupnya, maka dari itulah manusia dipercaya Tuhan Yang Maha Esa untuk menjamah kehidupan. Pun, manusia tidak bisa menjadi pribadi yang selalu baik. Pasti pernah melakukan kesalahan dan kejahatan semasa ia hidup, karena itulah yang akan mengajarkan mereka bagaimana memahami arti kebaikan dan ketulusan yang sebenarnya. Ibaratkan kita mengetahui benar makna ‘bahagia’ setelah kita pernah merasakan bagaimana keterpurukan di masa lalu.

Aku berpikir, aku ada, dan aku adalah insan yang ber asa.

Berpikir bukanlah mengenai kelogisan seseorang semata. Bukan pula mengenai hilangnya perasaan manusia dikarenakan banyaknya ia memikirkan suatu hal. Justru, dengan berpikir kita bisa memaknai apa yang sebenarnya disajikan oleh dunia. Kita bisa mengetahui makna dalamnya perasaan seoarang insan yang tidak dapat dideskripsikan dengan berbagai diksi, tetapi bahkan dengan itupun kita bisa mengetahui berbagai ketulusan yang diberikan pada kita. Sekali lagi, hidup adalah pilihan. Ingin menjadi sosok yang berakal sehat dan berbudi pekerti luhur, silahkan. Pun, jika ingin menjadi sosok yang tidak ingin dianggap keberadaannya oleh dunia, silahkan. Tetapi, satu yang diingat adalah bahwa tidak ada salahnya menjalani kehidupan hingga sisa terakhir diliputi dengan berbagai asa bahagia, sedih, tulus, marah, dan ikhlas. Karena berbagai asa itulah yang membuat kita dapat terdefinisikan sebagai makhluk yang mampu berpikir, karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.