COVID-19 di antara Krisis Ekonomi dan Problem Kuliah Daring


COVID-19 di antara Krisis Ekonomi dan Problem Kuliah Daring 1

Covid-19 bukan lagi hal yang awam untuk seluruh masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. Masalah-masalah yang kini merajela menjadi sebuah dilema dan tantangan tersendiri baik bagi aparatur negara maupun rakyat. Setidaknya dari sekian juta penduduk Indonesia, beberapa diantaranya harus merelakan kondisi ekonomi mereka yang mulanya berjalan lancar dan semestinya kini menjadi tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak? Penyebaran virus yang semakin ganas membuat pemerintah menerapkan sistem social distancing dimana jarak dari satu orang dengan orang lainnya perlu diperhatikan untuk mecegah penularan covid-19. Secara sadar, hal ini memaksa para pekerja, seperti pedagang, pengusaha, dan pegawai harus menghadapi bisnis yang melambat, minimnya pesanan barang, pekerjaan menjadi beralih di rumah atau Work From Home, bahkan ada pula yang sampai gulung tikar.

COVID-19 di antara Krisis Ekonomi dan Problem Kuliah Daring 3

Krisis ekonomi nampaknya menjadi masalah serius yang mestinya perlu ditangani secara menyeluruh. Apalagi jumlah penduduk atau pekerja di Indonesia banyak dengan kebutuhan setiap individu yang kompleks pula. Tentunya hal ini cukup menjadi tantangan dan tamparan, baik bagi pemerintah maupun masyarakat sendiri. Bantuan pun mulai turun sana-sini, keinginan berbagi banyak terealisasi. Semakin ke sini, menariknya, sistem jual beli secara online mendadak menjadi alternatif yang diserbu oleh banyak orang. Agaknya physical distancing bukan lagi hambatan yang besar, sebab kegiatan jual beli bisa dilakukan hanya melalui sebuah teknologi canggih yang akrab dengan tangan masyarakat, yaitu ponsel android.

Semakin ke sini, bukan saja krisis ekonomi yang menjadi tantangan bagi masyarakat, tetapi bidang pendidikan juga terkena imbasnya. Dampak dari covid-19 yang semakin mengerikan membuat banyak Perguruan Tinggi membuat kebijakan pembelajaran daring. Mau tidak mau, hal ini menjadi sebuah alternatif selama masa pandemi berlangsung. Sebab tidak ada pilihan lain yang lebih mendukung. Jika kuliah diliburkan tentu saja akan menjadi sangat aneh, oleh karena itu pemerintah mencari sistem atau cara untuk mengurangi pertemuan tetapi pembelajaran masih tetap bisa dilaksanakan. Namun, realitanya pembelajaran kuliah daring seolah membuat internet dan jaringan adalah nyawa bagi mahasiswa.

Pembelajaran daring menuntut kecepatan akses. Seorang mahasiswa dituntut untuk memiliki ponsel atau laptop dengan jaringan internet yang memadai. Persoalan sinyal bukan lagi hal yang asing bagi mahasiswa selama perkuliahan berlangsung. Bahkan ada satu kisah mahasiswa yang tinggal di Dusun Malaka, Desa Cenrana Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang harus naik ke pegunungan yang berjarak dua kilometer dari perkampungan warga untuk mencari jaringan internet. Sebab, hanya di lokasi tinggi ini sinyal internet bisa diperoleh sehingga mereka bisa belajar online. Hal ini tentunya menjadi sebuah harapan yang besar bagi para mahasiswa dalam mendapatkan jasa layanan telekomunikasi dan kuota gratis dari pemerintah untuk menunjang kegiatan kuliah secara daring.

Seiring berjalannya waktu, mestinya kini makin membaik, dengan statistika kesembuhan yang menaik. Tapi nyatanya terbalik, segala tampak mengecewakan. Ruang edukasi tak kunjung dibuka, hingga mahasiswa rela belajar tanpa tatap muka. Area wisata banyak dibuka, hingga slogan physical distancing seolah tak lagi ada. Jalanan tampak riuh oleh manusia yang berlalu lalang, hingga musibah yang terjadi seolah bukan apa-apa. Seharusnya ini menjadi tamparan berat untuk Indonesia dalam memulai era baru selama dan setelah masa pandemi. Namun, krisis ekonomi nampaknya bisa dialihkan dengan alternatif lain yang bisa mengugah kembali kegiatan bisnis dan perekonomian dalam negeri. Pembelajaran daring kiranya semakin membuat mahasiswa maupun dosen melek akan kecanggihan teknologi di zaman milenial.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Syifa Khoirul Hafidz

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments