Covid Dystopia atau utopia


Covid Dystopia atau utopia 1

Sebuah kisah dan persepsi, maret itu kita digemparkan dengan berita bahwa telah diduga 2 orang warga Indonesia terinfeksi covid 19. Pada tanggal 2 maret 2020 di Kawasan depok, jawa barat. Menjadikannya kasus pertama yang ada di Indonesia.                 

Lalu tidak berselang lama, ternyata sekolah dan perkuliahan pun digantikan dengan pembelajaran jarak jauh. Begitu pula dengan sector beberapa perkantoran yang menyusul dengan kebijakannya work from home. Yang katanya untuk meminimalisir terjangkitnya virus covid 19, pada waktu itu virus covid sudah menjangkiti ratusan warga depok dan sekitarnya.

Begitu pula dengan sector perdagangan, warung, warteg, restoran, resort, hotel, motel, mall, bioskop pada awalnya diterapkan dengan kebijakan psbb. ada beberapa pedagang yang menutup tokonya. Ada beberapa warung, warteg dan restoran yang buka dan tutup. Dan untuk resort, hotel, mall, bioskop ditutup untuk sementara. Mungkin pada awalnya maksud pemerintah positif untuk mengurangi terinfeksinya covid 19 yang ada di Jakarta dan depok sekitarnya.

Akan tetapi ternyata ekspetasi memang tidak seindah realita, pada waktu itu berangsur – angsur banyak warga yang kehilangan pekerjaan, stress, tidak punya uang, tidak boleh kemana – mana, setiap saat check suhu dan tentu saja cuci tangan, yang ujung – ujungnya ada yang tangannya terkelupas hingga memerah dan berdarah akibat terlalu sering mencuci tangan dengan sabun.

Sebuah problematika dan dilemma .. jika tidak mencuci tangan nanti tangannmu terjangkiti droplet virus covid 19, jika kamu tidak memakai masker nanti terinfeksi covid 19, dan campaign yang besar – besaran tentang bahayanya covid dimana – mana dan setiap saat baik skala media elektronik maupun cetak dan banyak mitos yang berkembang tentang cara ampuh mengobati covid 19 dengan meminum air segalon, memakan buah tertentu, lalu ada berita peneliti yang telah menemukan obat yang manjur untuk covid 19. Hmm, makin runyam dan pusing kitanya yah..

Tidak berlangsung lama disusul dengan pariwisata, jasa travel, perhotelan, restoran, perusahaan retail, perusahaan skala industry besar, perusahaan multicompany dan mall pun mulai berangsur – angsur terkena imbasnya. Ratusan ribu karyawan di phk, dikarenakan psbb yang diterapkan didaerah depok dan Jakarta. 

Disusul dengan kebijakan dari pemerintah yang memerintahkan mengvaksinasi tenaga medis dan Kesehatan pada tahap pertama, kemudian pada tahap selanjutnya petugas damkar, BPBD,BUMN,BPJS kepala atau perangkat desa, pedagang pasar, pendidik (guru, dosen, tenaga pendidik), tokoh agama dll.

Mungkin covid 19 membawa utopia (kebahagiaan, kesempurnaan, kebaikan) untuk hidup kita seperti kita lebih mengenal diri sendiri, lebih tau kemampuan kita sebenarnya, me time untuk rehat dari kepenatan dan kebisingan, belajar skill baru seperti memakai video conference, webinar, mengetahui virus yang ternyata variannya cukup banyak dan saya rasa itu menjadi edukasi bagi masyarakat kita, lebih menjaga kebersihan, menjaga pola makan menjadi lebih sehat, membuat masyarakat lebih berdikari dalam artian masyarakat yang mandiri dan berpikir kreatif dalam mencari uang, menjadikan masyarakat yang waspada dan hati – hati dalam memilah makanan, berita, dan gaya hidup, meningkatnya pendapatan profit untuk perusahaan yang bergerak dibidang health care,  bantuan hidup yang diberikan pemerintah seperti memberikan uang Rp. 150.000 pada awal terjadinya covid, bantuan pulsa yang diberikan pemerintah jumlahnya cukup banyak mulai dari 10 GB, bantuan hidup yang diberikan pemerintah berupa uang pra kerja, ukm, dan masyarakat pra sejahtera, lalu banyaknya badan amal yang bergerak dibidang sosial membantu masyarakat yang terdampak covid dengan jumlahnya lumayan banyak yang membuktikan bahwa masih banyak orang – orang baik dan peduli dengan kesejahteraan masyarakat,

Akan tetapi covid 19 juga membawa sisi dystopia (ketidakbahagiaan, ketidaksempurnaan, dan keburukan) untuk hidup kita seperti karena terlalu sering memerhatikan layar di laptop mata kita perih, memerah dan pinggang kita sakit, pusing dan stress karena deadline tugas yang banyak dan menumpuk, bagi sebagian masyarakat ada yang terkena phk, kesulitan mencari sesuap nasi, kesulitan untuk berfikir jernih mungkin karena penatnya hidup yang masyarakat alami, kerinduan yang amat mendalam dengan bersosialisasi dengan teman, tidak bisa pulang yang dirasakan sebagian perantau, sulit untuk membedakan mana berita bohong/ hoax dan mana berita yang benar, sulitnya untuk mengemukakan pendapat dan solusi yang bisa diberikan untuk pemerintah, karena efek yang terlalu lama berdiam diri di rumah munculah side effect dari beberapa pelajar dan mahasiswa yaitu kurangnya kepedulian, tenggang rasa terhadap sesama, anti sosial, anxiety, kecemasan yang berlebih, keegoisan dan individual yang semakin meningkat dengan dimanjakan banyaknya saluran dan media sosial yang menghibur pelajar dan mahasiswa.

Mungkin pemerintah sudah berkerja dengan keras dan memberikan solusi yang terbaik bagi masyarakatnya, saya sebagai observan mengapresiasi dan menghormati kebijakan pemerintah

Mungkin pemerintah sudah berbaik hati, memikirkan dengan matang baik dan buruknya tentang vaksinasi, saya sebagai observan mengakui dan menjungjung tinggi persepsi pemerintah.

Tapi, seperti kebijakan yang sebelum – belumnya selalu ada celah dari setiap kebijakan yang mungkin tidak disadari pemerintah memberikan efek side effect yang luar biasa, untuk itu kita perlu solusi yang lebih tinggi dari kebijakan itu seperti MEMANUSIAKAN MANUSIA, berfikir bagaimana di posisi mereka, berfikir untuk jangka panjang dari pada hanya memikirkan diri sendiri atau kepentingan, memutuskan dengan penuh kehati – hatian, setiap kebijakan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Mungkin kata – kata saya lebih terdengar seperti protes tapi percayalah saya selalu berusaha berbaik sangka dengan pemerintah dan mendoakan semoga negara ini disejahterakan, diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Karena kita negara yang berasaskan PANCASILA.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sena nisa

   

hopefully can help fellow reader and always spread kindness

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap