Dahsyatnya Puasa Bagi Kesehatan


Dahsyatnya Puasa Bagi Kesehatan

Dahsyatnya puasa bagi kesehatan pada sistem pencernaan, Rasulullah Saw bersabda, “Berpuasalah niscaya kalian akan sehat.”

Secara periwayatan, hadis ini lemah. Namun, pengaplikasiannya, sejalan dengan manfaat ibadah, yaitu meraih kesehatan jasmani dan rohani, serta seirama dengan berbagai kajian medis yang menyatakan bahwa puasa dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh dan juga memperbaiki sistem pencernaan.

Seiring perkembangan zaman dan juga makin majunya teknologi, banyak umat Islam mencari fadilat dari puasa itu sendiri, seperti sabda Rasulullah di atas.

Mulai dari segi kesehatan jasmani, kesehatan rohani, hingga pada kesehatan organ – organ dalam di tubuh kita.

Susunan saluran pencernaan pada manusia meliputi: Mulut, Lambung, Hati, Kantung Empedu, Pankreas, Usus Halus, dan Usus Besar.

Organ pencernaan ialah salah satu bagian tubuh yang mendapat dampak dari puasa. Namun, teramat disayangkan, minimnya pengetahuan masyarakat awam terkait kesehatan pencernaan, sering kali masih dianggap sebelah mata.

Banyak orang yang beranggapan jika mereka mampu menjalani ibadah puasa tanpa makan sahur.

Apabila aktivitas ini terus-menerus dilakukan bisa mengancam berbagai gangguan kesehatan.

Keluhan berkaitan dengan organ cerna sering kali kita dengar. Contohnya seperti rasa tidak nyaman perut atas, mual dan keluhan lainnya sering kali dijumpai.

Dengan makan sahur, akan melancarkan kegiatan puasa dari awal hingga berbuka nanti.

Selain itu, dapat juga membuat tubuh tetap semangat bekerja karena tubuh masih memiliki fokus yang tinggi.

Apabila lupa sahur dan tetap meneruskan berpuasa, maka asam lambung kita terus diproduksi, yang berdampak terlalu berlebihan dan bisa menimbulkan masalah saluran cerna.

Rasa makanan terlalu asam, pedas, berminyak, berlemak dan produk susu, sebaiknya dibatasi selama berpuasa.

Karena bisa menibulkan iritasi dan gejala dyspepsia. Maka dari itu, jangan sampai lupa sahur.

Saat berpuasa, tubuh tidak menerima asupan air selama 12 jam. Namun, demikian, saliva di rongga mulut tetap bekerja sehingga akan terhindar dari kering.

Puasa juga mengakibatkan lambung tidak terisi makanan.

Pada waktu itu, menurunnya produksi asam lambung akan mencegah pengikisan dinding lambung. Dengan kata lain, lambung bebas dari iritasi.

Organ hati beralih fungsi menjadi pemecahkan glukosa yang disimpan. Hasilnya, tubuh tetap memperoleh nutrisi yang cukup untuk melakukan kegiatan.

Cairan empedu menjadi lebih gelap ketika seseorang berpuasa. Bertujuan sebagai pemecah lemak ketika berbuka puasa.

Pankreas menghasilkan hormon insulin, berguna dalam hal pemecahan glukosa dalam darah.

Pankreas berhenti memproduksi insulin selama puasa. Sebagai gantinya, tubuh memerintahkan hati pemecah glukosa yang tersimpan.

Karena sedikitnya makanan yang dikonsumsi, absorpsi nutrisi di usus halus akan berhenti dan bergerak normal 4 jam sekali, bentuknya menyusut pada saat berpuasa.

Akibat terbatasnya cairan yang masuk, penyerapan air di usus besar bisa terpantau. Efeknya, cairan dalam tubuh tetap balance.

Makan saat sahur dan berbuka memberi kecukupan waktu untuk mengisi ulang energi.

Hal ini juga memungkinkan tubuh untuk mengalami transisi bertahap dalam menggunakan glukosa, lalu lemak sebagai sumber energi.

Dengan begitu, tubuh terhindar dari fase kelaparan.

Metode berbuka puasa yang aman bagi kesehatan saluran gastrousus, yaitu, tidak diperkenankan memulai makan makanan berat.

Awali seperti sunah Rasulullah SAW dengan kurma, dan tunggulah 1 sampai 2 jam.

Pun, saat menguyah makanan dilakukan dengan perlahan. Setelah setengah hari tidak mengonsumsi apa pun, saluran cerna perlu beradaptasi kembali menerima makanan.

Mengunyah dengan cepat dan menelannya secara terburu – buru dapat menjadikan sistem cerna terkejut, sehingga tidak dapat memproses nutrisi dengan baik.

Lagi pula tidak akan ada keluhan perut seperti begah.

Itulah, dahsyatnya puasa bagi kesehatan yang telah menjadikan badan kita tetap sehat dalan berkegiatan sehari – hari.