Dalam Bayang-Bayang Mitologi Klasik


Dalam Bayang-Bayang Mitologi Klasik 1

Siang itu, sepulang dari sekolah SD, aku bersama adikku bermain las-ngalas. Sebenarnya tujuan kami mencari sarang burung. Namun, tak satupun sarang burung yang kami dapatkan.

Tak terasa matahari sudah menghilang, itu artinya hari mulai malam. Kami seperti kehilangan arah untuk pulang. Kami tersesat. Di sebelah selatan desaku tak ada satupun rumah penduduk, yang ada hanya tanah lapang dengan ilalang yang membentang.

Mitos dedemit penunggu kebun-kebun warga bagiku menjadi ancaman yang mengerikan. Mitologi itu diciptakan oleh orang tua agar anaknya tidak las-ngalas. Ditambah dengan kepercayaan animisme nenek moyang, menjadi deretan panjang akan melekatnya kepercayaan itu turun-temurun hingga ke generasiku.

Aku terdiam ketakutan. Adikku yang kebetulan memiliki suara yang cukup keras itu menangis menjerit sejadi-jadinya. Sementara suara kumandang qiraat témur lirih terdengar.

Kami masih tersesat, tak tahu arah. Guruku pernah menjelaskan di sekolah. Jika tersesat di tengah hutan dan tak tahu arah, maka hadapkan wajahmu ke arah matahari terbit. Di depan berarti arah timur, di belakang arah barat, arah selatan itu berada di tangan kanan, sementara arah utara ada di sebelah kiri. Namun, kini sudah larut malam, matahari sudah padam, wajah kami mau dihadapkan ke arah mana? Batin kecilku berkecamuk. Peluhku dingin, pertanda rasa takutku semakin hebat. Sedangkan adikku masih kencang menjerit, malah semakin kencang.

Ayahku di rumah pasti menungguku? Kini pasti bukan tiga atau empat buah lidi? Namun gagang sapu kulit kelapa yang terbuat dari bambu? Pasti nanti tulang betisku yang dibuat remuk? Pertanyaan-pertanyaan itu bertubi-tubi menghantuiku berbaur dengan rasa takut akan hantu-hantu dedemit penunggu kebun-kebun warga.

Dari jauh aku seperti melihat kobaran api yang merangsek mendekat. Beberapa detik kemudian kobaran api itu semakin mendekat. Kobaran api itu seperti cahaya kunang-kunang raksasa yang berterbangan. Aku semakin takut, gemetar tak karuan.

Adikku berhenti menangis, seperti tidak punya tenaga lagi untuk menjerit. Aku memegang erat lengan adikku lalu menyeretnya ke arah pohon dan bersembunyi di sana.

Dari jauh kami memperhatikan suara teriakan seperti dari segerombolan orang. Suara itu semakin lantang terdengar. “Molé molé…. séngakana jhuko’ acan!”. Suara itu bersamaan dengan bunyi pentungan bambu.

Malam semakin mencekam. Suara-suara hewan malam saling bersahutan. Kami lelah. Kami terdera rasa kantuk yang akut. Kami tertidur pulas di bawah pohon. Bangun pagi, membuka mata dan aku telah ada di rumah.

Gerombolan orang yang semalam membawa pentungan bambu itu ternyata ayah dan sanak kerabat kami yang lain. Sementara kobaran api yang terbang rendah itu adalah mereka membawa obor tengah mencari kami. Begitu cara warga tatkala mencari anak-anak yang hilang tengah malam.

Paginya, berita beredar bahwa semalam aku diculik hantu. Kejadian anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun diculik hantu bukan sesuatu yang dianggap mustahil. Demikian itu telah menjadi semacam kepercayaan.

Menurut kepercayaan masyarakat, di berbagai tempat, di sudut-sudut tempat dihuni makhluk astral. Tak jarang jika ada salah seorang anak yang jatuh sakit, keluarga dari anak tersebut langsung membawanya ke rumah-rumah dukun. Si dukun biasanya hanya memutar-mutarkan bongkahan batu hitam miliknya yang dianggap memiliki kekuatan magis seraya komat-kamit. Entah apa yang datang membisik, tiba-tiba si dukun menyebutkan beberapa tempat yang perlu dikasih buk-sobuk. Menurutnya si anak yang sakit tersebut kesambet penunggu tempat tersebut.

Di pagi buta, banyak sekali kerabat dekatku yang berdatangan menjenguk kondisi kami, keadaanku dan juga adikku. Aku seperti orang yang baru datang dari tanah suci.

Keesokan harinya aku masuk sekolah. Rupanya teman-temanku menunggu kedatanganku, tak sabar mereka ingin mendengar langsung dariku. ‘Bagaimana ceritanya aku ‘diculik hantu’.

Di antara mereka bercerita bahwa kami diculik hantu saat tidur sore lalu ditemukan di atas pohon tua tengah malam. Aku memberikan klarifikasi, bahwa aku hanya tersesat dan tak tahu jalan pulang.

Masyarakat pesisir berketegantungan pada laut. Itu artinya, laut sebagai sumber kehidupan mereka. Sebagian Masyarakat memiliki keyakinan bahwa laut berpenghuni. Menurut mereka, penghuni laut itu bernama Bhuju’ Sannék. Konon, ia berkarakter jahat. Anak-anak yang mati tenggelam selalu dikaitkan dengannya.

Pada suatu sore, aku bersama teman-teman mandi berenang di laut. Aku yang tak bisa berenang ini hanya bermain pasir. Sekali dua kali aku mandi mencebur, jelas di tepi yang dangkal yang aku selami. Sementara teman-temanku yang lain berenang jauh hingga ke leng-cellengan.

Selang beberapa waktu, salah seorang dari temanku itu menghilang seperti terseret arus deras ke tengah laut, pahadal waktu itu ombak tenang dan angin tidak begitu kencang.

Menurut beberapa teman yang melihat langsung kejadian itu, ia berenang bersama-sama kemudian ia menyelam rendah di dasar laut. Lalu, tiba-tiba saja ia seperti terbawa arus deras di dasar laut hingga menjauh ke dasar yang dalam dengan begitu cepat.

Melihat teman yang satu itu tenggelam lalu menghilang, beberapa temanku yang lain berenang dengan cepat seperti dikejar hiu ke tepi pantai dan teriak-teriak memanggil namaku. Aku bingung, kaget, dan gemetar ketakutan berbaur menjadi satu. Ingin rasanya lari secepat kilat, namun terasa berat.

“Ada apa, ada apa?” teriakku. Setibanya di tepi, teman-temanku berteriak-teriak minta tolong. Aku pun juga berteriak-teriak seperti teriakan yang lain.

Warga berjubel berdatangan. Belum satu menit, pantai dipenuhi ratusan bahkan mencapai ribuan manusia.
Beberapa orang membaca syair Burdah, beberapa yang lain membaca surat-surat pendek. Sementara kaum lelakinya membantu mencari korban, temanku yang hilang itu.

Dengan beberapa cara pencarian itu dilakukan. Mulai dari bergantian menyelam, menggunakan sampan kecil, sampai pada menggunakan jala. Semua tidak membuahkan hasil.

Satu jam, dua jam, hingga senja mulai menampakkan wajahnya, korban belum jua ditemukan. Suara lantunan Burdah dan bacaan surat-surat pendek makin serempak bahkan makin kencang, bersama gepulan asap kemenyan.

Namun, menjelang kumandang azan Maghrib, tiba-tiba dari dasar laut seperti ada gelembung besar kemudian dengan cepat menyembul ke permukaan. “Uwa’ ro!” begitu kata yang keluar dari seseorang yang melihatnya pertama kali.
Ternyata korban ditemukan tak jauh dari tempat dimana ia tenggelam tadi. Isak tangis dari keluarga korban menjerit kencang.

Sesampainya di rumah, ibuku memarahiku. Ayah yang sedang merajut jala itu memanggilku untuk mendekat. Kemudian berkata pelan, “Jhâ’ mandiyân tasé’, satéya Bhuju’ Sannék nyaré na’kana’!”

Semenjak kejadian itu, aku seperti tidak punya keberanian lagi. Untuk sekedar membasuh kaki sekalipun ke laut aku tidak berani.

Masa kecilku seperti tidak memiliki hubungan mesra dengan laut, sekalipun aku hidup di pesisir dan mendengar suara deru ombak saban hari. Tidak seperti anak-anak seusiaku yang lain. Mereka saban waktu mencumbui laut, memeluk mesra kecamuk ombak. Atau kadang tatkala musim banyak ikan, mereka ngujhur demi mengurangi beban ekonomi.

Keterangan:

Las-ngalas: sebuah kata yang berasal dari kata “alas”. Alas sendiri bermakna “hutan liar”. Las-ngalas sendiri bermakna bermain sampai jauh dari rumah-rumah penduduk.

Qiraat témur: sebuah istilah bunyi speaker Masjid yang melantunkan tilawah Al-Quran menjelang kumandang Maghrib.
Molé molé…. séngakana jhuko’ acan!: pulang, pulang…. yang mau makan pakai lauk terasi).

Buk-sobuk: sesajen, biasanya berupa aneka makanan.
Leng-cellengan: laut yang dalam.
Uwa’ ro!: itu!
Jhâ’ mandiyân tasé’, satéya Bhuju’ Sannék nyaré na’kana’!: jangan mandi berenang di laut lagi, sekarang Bhuju’ Sannék mencari anak-anak.
Ngujhur: meminta hasil tangkapan ikan kepada para nelayan di tengah laut dengan menggunakan potongan bambu utuh sebagai alat untuk berenang.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap