Dalam Diam, Merajut Asa Mengukir Mimpi


Dalam Diam, Merajut Asa Mengukir Mimpi 1

Kadar keikhlasan seseorang memang tak pernah mampu terukur dengan pasti. Menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan saat tak benar-benar sepenuh hati.

Jujur, aku sedikit merasa canggung jika nanti tulisan ini kurang mengesankan untuk sebuah kisah yang sangat menginspirasi. Aku sungguh merasa terhormat saat mendapatkan izin untuk mengangkat sebuah cerita tentang beliau dan membagikannya pada seantero bumi.

Bagiku, beliau bukan hanya seorang pekerja keras. Tapi lebih kepada, seorang relawan pengabdi yang berjiwa pujangga. Mungkin terdengar berlebihan, tapi aku berani menjamin bahwa saat kalian mengenalnya, kita akan berpikir hal yang sama.

Beliau tidak pernah merasa malu untuk mengakui kekurangannya, bahkan saat pertama kali kami mendapat amanah untuk saling bermitra, pesan beliau adalah “Tolong mbak, sering-sering mengingatkanku. Aku seorang yang pelupa.”

Menjadi seorang pelupa tak lantas membuat beliau tak mampu bekerja dengan baik. Justru sebaliknya, dengan berbagai amanah yang ditempatkan di pundak, beliau selalu memasukkan dalam hati untuk mendamaikannya dengan rasa ikhlas.

Beberapa tahun lalu beliau pernah berkata, “Justru saya yang harus belajar dengan anda. Prinsip saya tentu siap belajar dan berusaha sedaya yang termampu agar kebutuhan mereka akan layanan kita terpenuhi, tidak memandang bidang apapun.” Sungguh tak segan mengatakannya pada seseorang yang usianya 15 tahun di bawah beliau.

Aku bersyukur berada di lingkungan dengan orang-orang yang luar biasa, termasuk beliau. Selain mitra, pantas jika aku menyebutnya seorang guru. Berdamai dengan sabar dan ikhlas lalu menjadikannya sebagai ibadah adalah hal yang selalu beliau ajarkan padaku. Tak melulu ambisi, tapi tetap menjadi pemimpi.

“Hari ini, langkah kecil kita itu ada dalam kerangka sebuah cita-cita besar. Walaupun tentu akan berdepan jalan terjal. Tapi setidaknya, inilah wujud khidmah kita kepada negara, mulai dari lingkup yang kita kuasai. Semangatnya seperti itu. Walaupun tak seberapa, tapi tetap disyukuri saja dengan terus berperan sebisanya, sekuatnya, semampunya kita. Mungkin memang terkadang upaya kita tak berbayar, tapi semoga lebihnya menjadi barokah.”

Selalu terselip hal yang dapat diaminkan dari pesan-pesan beliau. Itulah mengapa aku senang mendengarkan cerita beliau, selain karena alasan beliau suka bercerita dan aku lebih cenderung suka mendengarkan.

Dalam hal menempatkan diri kepada semua kalangan pun, beliau termasuk seseorang yang mampu beradaptasi dengan cepat. Menghadapi orang-orang dengan berbagai latar belakang, baik dan buruknya selalu dianggap seimbang.

“Aku bukan orang yang baik. Kuncinya bersama-sama, mudah-mudahan tetap bisa bersinergi. Jangankan dengan anda, dengan orang yang dinilai kurang baik di mata awam pun aku tetap senang dapat bekerja sama, walau tetap dengan lebih berhati-hati. Setiap orang yang tepat berada di tempat yang tepat. Apapun latar belakang mereka, pasti punya sisi positif, tergantung pada bagaimana sikap kita untuk memperlakukannya dengan tepat.”

Mungkin kalian berpikir, bahwa aku terlalu menyanjung beliau. Sudah kukatakan sejak awal tentang kekurangan beliau, karena memang tak ada manusia yang sempurna, dan beliau mengakuinya sejak awal kami berkenalan. Baiklah, mungkin juga ada satu hal lain, yaitu beliau sangat sering membut agenda tanpa melihat jarum jam dinding atau angka jam pada layar ponsel.

Bukan tanpa alasan, bisa jadi karena butuh respon yang cepat atau supaya tidak terlupa dengan setumpuk agenda lainnya. Merasa kesal? Mungkin hampir tak pernah, karena beliau bukan tipe pemarah jika aku tak meresponnya secepat kilat. Justru selalu berpesan padaku untuk menjaga kesehatan dan cukup beristirahat. Karena dengan kondisi prima, maka kami dapat bermitra dengan maksimal.

Menyikapi sesuatu dengan tenang, seminim mungkin untuk menyalahkan orang lain adalah prinsip yang selalu beliau gunakan untuk menjalani segala aktivitas. Selain itu, berjalan dengan mantap untuk dapat bermanfaat bagi orang lain adalah salah satu hal yang selalu beliau prioritaskan.

“Yang terpenting semuanya sudah terkondisi dan terakomodir kepentingannya. Biasa mbak, tak apa. Terkadang banyak improvisasi dalam pelaksanaan suatu kegiatan, segala sesuatunya tidak selalu sesuai dengan apa yang kita rancang. Lagipula, aku bukan orang yang banyak harta, hanya membantu semampunya, dengan tenaga agar dapat meringankan beban mereka.”

Mungkin kalian pikir aku membual, tapi aku menyampaikan berdasar apa yang beliau pernah katakan padaku. Pujangga sekali bukan auranya? Itulah, tak hanya aku yang menganggap bahwa beliau punya banyak energi positif yang dengan sukarela dibagikan untuk orang-orang di sekitarnya. Hampir semua orang yang pernah bercerita padaku, memiliki kesan yang baik dengan beliau. Ya, tanpa beliau perlihatkan. Betul. Dalam diam, merajut asa mengukir mimpi.

Jika bagiku hal ini sungguh menginspirasi, semoga hal yang sama tumbuh pada benak kalian, ya. Aku sangat percaya bahwa masih banyak orang-orang luar biasa di sekitar kalian. Peluk pesannya, resapi maknanya, dan aplikasikan pada semesta. Seperti pesan beliau, “Semoga keberadaan kita tidak menghalangi kemaslahatan, tapi bermanfaat bagi masyarakat.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Annisa Istika

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap