Dalam Setiap Detik Yang Mengandung Detak Namamu

Dalam Setiap Detik Yang Mengandung Detak Namamu

Ketika bumi berdesir di ujung sore, bunga-bunga melati yang senantiasa memutih, dan dedaunan pohon yang berterbangan dengan ikhlas. Selembar kertas usang dan lusuh berkibar kaku di genggaman tangan kananku, ia berisi tulisan-tulisan lawas yang mengandung sejarah dan juga, kobaran mimpi kala itu. Yang belum terpejam maupun hangus, yang belum mati maupun pergi.

Kertas ini seolah akan terus membangunkanku setiap pagi pada butiran beras yang ditampi oleh ibu-ibu desa, atau padi yang menguning, atau dataran hijau rumput di lapangan, atau caping sawah milik bapak, atau kidung siang dari ibu.

Kertas ini masih saja manis, masih saja bersih, masih saja suci. Aku tak pernah sekalipun tidur dalam sebait doa dan Al Fatihah sekaligus. Serta lipatan dua kali dan memasukkan kertas ini ke bawah sarung bantalku. Percayalah, aku masih tak melupakannya. Tak akan, dan tak pernah akan.

Ini, perihal cerita yang akan terus berlanjut. Sampai kapanpun usiaku, sampai kapanpun garis kehidupan harus tertawa atau sedih bersamaku. Sampai gunung habis dimakan letus, sampai laut surut dan menjadi pulau yang beribu. Barang kali di sana, aku, yang sudah tua bahkan menjadi pikun, tapi akan masih tetap berdiri dan membawa segala kenangan ini. untuk menjadi bulan, tahun, bahkan dasawarsa menuju abad selanjutnya.

Menuliskan ini adalah menuliskan ulang. Menuliskanmu adalah seperti menulis puisi yang haram untuk dibaca terkecuali aku dan Tuhan. Namun teruntuk sejarah, ini adalah cerita panjang yang mampu menggulung ingatan, memeras keringat, atau menumpahkan danau dari ujung-ujung sudut kedua mataku. Kepada mereka? Bolehkah? Izinkanlah.

Siang yang terik waktu itu, di luar kereta yang sedang melaju pelan. Samar-samar bayangan yang sudah biasa aku kenal mulai menghilang dengan halus. Ia nampak pergi ke dalam dan berhambur bersama orang-orang. Yang sebelumnya, di  dua bulan  menjelang hari ini tiga buah martabak manis masih dapat terkunyah dengan enak dan semerdu dialog lama didengar membincangkan mimpi-mimpi melangit di bumi Paman Sam sana. Seperti anak-anak yang riang bersahutan dengan dongeng kancil atau kisah pilu malin kundang. Kita, adalah asyik di dalam tumpahan sarjana dan gelar doktor. Skripsi atau lah tesis, bahasa asing atau lah oleh-oleh benda-benda imporan.

Saat itu kau bilang kalau bule adalah jenis manusia unik dengan rambut berwarna pirang yang juga cantik. “Saya ingin menyemir rambut dan mirip seperti bule” katamu. Tapi aku hanya bisa terbahak. Seorang  gadis desa itu sudah cukuplah ayu dengan rambut aslinya, ditambah dengan tudung menjuntai nan anggun. Tidak ada harapan lagi untuk yang aneh-aneh, sebab  kesemua itu telah sempurna dalam segalanya-batinku.

“Atau mungkin nanti saya bisa tambah putih seperti mereka” katamu. Tapi aku sekali lagi hanya terbahak. Sebab engkau sendiri pun sudah kuning langsat yang menarik dan pas bagi penduduk asli bumi permai Tuban ini batinku, yang lagi-lagi tak akan pernah mengaku dan mengucapkannya.

Ada banyak gemuruh yang teruraikan satu-satu dengan rinci perihal cita-citamu saat itu. Pakaian toga yang sangat bergaya, gelar cumalaude  atau apa saja yang tak pernah dapat kupahami dengan isi kepala yang  hanya sempat singgah di SMP saja, lalu pidato-pidato yang ingin kau gaungkan semerdu mungkin, lebih merdu daripada ceramah kecilku di selasar balai dusun setiap sabtu. Dan makanan mahal, dan fasilitas canggih, dan pemandangan baru, dan jalanan yang akan berisik dengan bahasa-bahasa dunia yang menyatu.

Tidak  Anjani, aku tidak pernah berpaling bahkan menolehkan kepalaku sejenak agar meghindar dari kata-katamu yang banyak itu. Mataku selalu berbinar dan telingaku selalu mencerna. Sebab aku percaya, doa-doa yang engkau langitkan dan harapan-harapan itu tidak akan pernah terbang dengan sia-sia.

Janganlah menyerah, sampai kapanpun-kataku  ketika engkau sudah duduk di bangku kereta yang pas di sampingnya jendela kaca menyemburkan bayangan wajahmu yang berwarna. Ceria sekali. Aku melambai dengan hati berat untuk melepas. Agar segala yang kau tulis di buku catatan belakang sendiri itu senantiasa menjadi amin yang terwujudkan nyatanya. Sebisa mungkin lelaki ini tidak lah menangis di depanmu, Anjani. Dari desa ke kota, kita berangkat dengan mengharap izin Sang Maha Kuasa dan tekad yang kuat. Serta ketersediaan batin yang sesungguhnya hendak pecah untuk menunggu selama 4 tahun lebih lamanya, dengan menyebut nama Allah aku mengantarmu.

Berulangkali, kubilangkan, kuingatkan untuk jangan lupa mengirim pesan singkat dalam SMS atau sesekali sempatlah menelepon, atau mungkin surat seperti kesukaanmu sejak sekolah kita yang sama-sama masih di bangku dasar. Tulislah Anjani, menulislah sesukamu. Sampaikan pada ibu, bapakmu, lalu aku di sini. Lelaki yang dari desa ke kota membawa tabah dan janji kepada puannya. Maka pintaku, semoga engkau kembali esok dengan selamat tanpa lupa, atau tanpa siapa-siapa jua.

Januari 2001, aku, stasiun, dan kepergianmu di empat tahun mulai kuhitung.

Tapi hingga di penghujung Maret yang sore, matahari panas sekali di  tahun 2005. Aku datang kembali ke kota ini. Di tepi stasiun, di sebuah kursi kayu panjang nan kokoh. Dan hamparan hangat matahari. Setelah waktu-waktu yang lamanya telah berlalu, tanpa ada geming suara dari benua yang luas atau sebutir pesan di telepon jadul ini tentang adamu seolah menjadi nihil rasanya. Kau tahu Anjani, khawatirku mungkin sama sebanding dengan dahsyatnya sapuan ombak kepada pulau tetangga di Desember 2004. Meluluhlantakkan hal-hal yang ada, membuatnya kacau kemana-mana.

Sama sekali, engkau seperti hilang ditelan apa. Lenyap. Aku yang was-was berlari ke sana ke mari, bagaimana caranya yang mungkin saja jika nekad kususul engkau sejadi-jadinya. Tapi aku bukanlah lelaki yang pandai berilmu setinggi angkasa seperti engkau. Lalu bagaimana lagi, bagaimana dengan ibumu, bapakmu, mereka menjadi tua dengan ragu, Anjani. Lupakah engkau kepada kami? Apakah lampu-lampu berkilauan emas di jalanan seperti katamu dulu, makanan lezat seperti katamu dulu, bahasa indah dan asing seperti katamu dulu, atau semuanya tentang negeri itu seperti katamu dulu mampu membuyarkan keinginanmu untuk kembali untuk pulang? Juga kepadaku?

Maka Juli yang siang dan jauh sudah di 2030, sepucuk kertas akhirnya sampai.  Aku kira engkau kini menyukai dandan sehingga ada cipratan merah tua yang mungkin bekas bibir atau bedakmu yang  sengaja tertoreh di sini. Aku kira di sana engkau tak lagi membutuhkan buku sehingga yang ada hanyalah seperti sobekan kertas ala kadarnya yang  tiba-tiba diberikan teman lamamu di sana yang sengaja lalu ke sini, datang khusus untukku. Aku kira engkau telah membuat mata temanmu yang berdiri di sampingku ini habis mengiris banyak bawang, karena ia selalu saja tersedu sepanjang waktu. Dan di 60 tahunku ini hai Anjani, aku masih sengaja tersenyum bahagia untuk kabar yang pertama kalinya datang darimu. Setelah sekian lama, kuulangi, ini, adalah yang pertama. Bayangan-bayangan buruk dalam mimpi senantiasa hadir, tapi segera kutepis. Aku masih berbaik sangka jika engkau tak akan pernah lupa. Pun kepada ibu dan bapakmu yang sudah lama pulang, tapi engkau malah belum pulang-pulang. Ah, bagaimana kau ini Anjani.

“Akan kujewer telingamu nanti jika kau sudah tiba di sini” Batinku.

Maka di stasiun yang sama, aku pun duduk lagi di kursi kayu panjang yang agaknya sudah banyak debunya. Sedikit reot dan keropos. Di depanku teknologi sudah bagus-bagus. Banyak anak muda yang berlalu lalang dengan wah dan menarik. Jika engkau ingat Anjani, tentang Lukman, Sri, Zainab, dan Ahmad, semuanya sudah memiliki cucu bahkan. Atau sempat dulu-karena mereka yang tak percaya engkau akan kembali dan mengirimi kabar, mau menjodohkanku dengan Siti, putri sang Kyai. Tapi lekas kutolak cepat-cepat. Aku bilang dengan sengaja dan keyakinan teguh juga gila, jika sabarku tak akan pernah luntur atau pun mati. Sampai kapanpun, hanya ada Anjani. Hingga usia yang keriput kecut di enam puluh tahunku kini, masih saja engkau, teruntuk  Anjani saja.

Sekarang, kubacalah riang sepucuk surat di selembar kertas lusuh dari Amerika yang berharga di tanganku. Dan kubiarkan ini, Sinta, temanmu, yan masih saja menangis dari tadi. Aku kira dia terahru, sebab tak bilang sepatah katapun dari mulutnya. Ya sudah, aku tak memperdulikannya.

San Francisco, 09 September 2004

Untuk  Kang Harun

Di Tuban

Assalamu’alaikum Kang, maaf saya lama tak mengirim surat, kabar, atau berita. Maaf sudah membuat ibuk, bapak, dan Kang Harun jadi menunggu lama. Maaf tak pernah telepon ataupun sms, maaf bukan maksudnya Anjani tidak memiliki pulsa atau cukup uang untuk itu semua. Maaf saya menulis ini di kertas yang ala kadarnya. Maaf saya membuat khawatir semua orang. Maaf jika saya selalu membuat Kang Harun selalu merasa khawatir. Maaf karena Anjani tidak bisa menulis semuanya tentang segalanya selama empat tahun ini. Maaf jika saya telat sekali dan maaf jika Sinta yang harus menjadi perantara. Maaf Kang, maaf, maaf, dan maaf. Maaf yang sebesar-besarnya.

Kau kenapa Anjani, satu pintu maaf pun akan kuberikan meskipun sepuluh ribu kesalahan yang sudah kau sodorkan. Mengapa kalimatmu senantiasa dimulai dengan kata maaf?  Bagaimana sejujurnya gerangan di sana terjadi?

Maaf jika Anjani selalu saja berbelit, tidak pernah jelas seperti dulu. Maaf Anjani lebih buruk dari sebelumnya. Maaf Kang…. Maaf.

Maafkan Anjani yang tak bisa pulang lagi, dan mungkin tidak akan pernah lagi. Benua ini memanglah luas, negeri ini memang lah indah, dan hatiku memanglah mengagumi segala cipta-Nya dalam tumpahan alam serta keberadaan. Kota dan segala isinya. Saya pun menjumpai indahnya langit senja yang kemerahan dan memantukan cahayanya di atas butir-butir salju, atau pagi dengan hujan daun di musim gugur, atau keriangan tiada tara di musim-musim lainnya pula. Tidak Kang, Anjani tidak melupa untuk kembali. Kapanpun di sini, di kepala ini, yang ada hanya bumi Tuban dan orang-orangnya.  Segera setelah belajar, saya hendak lekas pulang tapi,

Tapi?

Tapi demikian adalah hal yang mustahil. Nasi telah menjadi bubur, air kopi tak bisa menjadi jernih lagi Kang. Maaf, ini mungkin menjadi kabar yang terakhir. Tragedi di sini tak dapat membantah terjadinya takdir. Anjani tertawan, dan besok, Anjani sudah dipastikan menghadap Allah selamanya, Anjani divonis hukuman mati. Tidak Kang, Anjani tak bersalah sedikit pun, satu pun, sepeser pun. Tanyakanlah semuanya pada Sinta, dia saksi yang jujur. Anjani dalam fitnah terbesar Kang. Saya minta doanya selalu, doa yang leih tulus dari biasanya. Maaf banyak sekali merepotkan. Saya tak bisa menulis lebih panjang lagi dari ini. Semoga Kang Harun sehat-sehat di sana, dan dapat mencari pengganti Anjani lebih baik lagi. Maaf, maaf dan maaf bila seandainya surat ini tak datang tepat pada waktu yang seharusnya.

Sang Pemimpi

Anjani Huda

“Maafkan aku Harun…” kata temanmu Sinta sambil terisak.

“Untuk apa? Aku malah senang, dan berterima kasih. Apakah kau akan mengira jika aku akan memarahimu karena mungkin engkau terlambat memberikan surat ini dari Anjani? Tidak, aku tahu apa alasanmu dalam memberi yang terlambat. Caramu pulang dari sana, kutahu tidak lah lama. Terimakasih sudah bersama Anjani dan menjadi yang terbaik. Jika kau bertanya bagaimana hatiku, pastinya remuk. Tapi itu di beberapa waktu yang lalu. Karena di detik-detik selanjutnya yang kurapalkan hanya keikhlasan yang  tidak akan pernah berhenti.. Doa-doa dan harapan yang masih ada. Terkaan jika seandainya ia benar-benar pulang. Tidak Sinta, aku memang sudahlah tua. Dan umurku sampai kini bukanlah untuk siapa-siapa. Jika Anjani di sana berpulang dan berpamit hanya untuk Harun, maka di sini, Harun pun akan menua dan mungkin esok tetap berpulang dan juga berpamit hanya untuk Anjani seorang. Tidak kepada yang lain”.

Maka, Anjani, temanmu itu semakin menjadi tangisnya di sebelahku. Dan kubiarkan ia hingga larut lalu tenang. Sedang aku, masih senantiasa menyulam masa ke masa menunggu waktu yang tepat agar lekas bertemu. Di mana saat itu pastinya, aku akan sekali lagi mendengarkanmu bercerita lebih banyak tentang mimpi-mimpimu, pengalamanmu, muluk- muluk macam-macam dari mulutmu, atau segalanya tentang tawa tangismu seperti di kaki-kaki yang menapaki jalanan desa yang tengah sorean kala dulu itu.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore