Dampak COVID-19 Mempengaruhi Daya Beli Konsumen Terhadap Kendaraan Bermobil Dan Bermotor

Dampak COVID-19 Mempengaruhi Daya Beli Konsumen Terhadap Kendaraan Bermobil Dan Bermotor

Akhir tahun 2019 lalu muncul suatu wabah yang kita dikenal dengan . adalah suatu virus baru yang menyerang hampir seluruh dunia, penyebarannya pun tergolong singkat dimana hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja sudah tercatat jutaan orang terinfeksi virus ini dari segala penjuru dunia.

Akibat dari yang berkepanjangan ini, pemerintah jadi gencar melakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) yang artinya memaksa seluruh warga negara melakukan () atau bekerja dari rumah guna menekan angka penularan . Alhasil, kebijakan ini berdampak pada penurunan pendapatan ekonomi di segala sektor terutama industri perusahaan, tak terkecuali industri otomotif.

Dilansir dari KOMPAS.com, pemerintah telah mengakui bahwa masyarakat pada dan motor saat memang melemah, penyebabnya adalah penurunan pendapatan sebagai akibat dari PSBB.

PSBB mendorong banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) demi menjaga kestabilan keuangan perusaaan. Selain PHK, penurunan gaji dan omzet usaha juga menjadi salah satu faktor turunnya masyarakat.

Baca juga  KDRT Rawan Terjadi Selama Pandemi, Perempuan & Anak Harus Dilindungi

Wabah yang terus menyebar di Indonesia sampai tahun 2020 berakibat fatal, Indonesia mengalami resisi ekonomi yang cukup mengkhawatirkan. Ekonomi benar-benar turun drastis yang jika tidak cepat diatasi, ini akan berdampak buruk bagi kestabilan negara.

Dari wawancara yang dilakukan oleh tim Japan Times, Chief Financial Officer Toyota, Kenta Kon, sebagai salah satu produsen otomotif bilang “ saya memang sudah memprediksi akibat dari ini. Prediksi labanya akan menurun hingga >79% menjadi >500 miliar yen” ucapnya.

Gabungan Industri Bermotor Indonesia (GAKAINDO) menyebutkan ada perbedaan situasi yang lumayan signifikan diantara data 2019-2020, dimana pada tahun kemarin Indonesia mampu menjual baru sebanyak lebih dari 1 juta unit, sedangkan di tahun 2020 hanya terjual setengahnya yaitu sekitar 500ribu unit. Data terakhirnya mencatat penurunan penjualan turun sebanyak >48%.

Tak cuma mempengaruhi industri , industri motor juga mengalami hal yang sama. Antonius Widiantoro, selaku Manager Marketing dari PT. Yamaha Indonesia menuturkan “Tahun 2020 memang tahun yang cukup sulit bagi kami(para produsen roda dua). Saya perkirakan jika kondisinya terus seperti ini pasti akan memberikan dampak yang besar bagi penjualan motor pada semua segmen” katanya.

Baca juga  Hobi-hobi yang Bermunculan di Masa Pandemi

Dilansir dari laman Bisnis.com Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang bidang komersilnya diketuai oleh Sigit Kumala bilang perkiraan penjualan sepeda motor tahun ini akan anjlok. “Dari bulan Januari hingga Maret, terbukti bahwa memberikan dampak penurunan sebanyak lebih dari 25% pada penjualan roda dua” kata Sigit.

Dari segi penjualan, industri otomotif atau motor benar-benar terkena hantaman berat akibat dampak . Menurut data Gaikindo, pada Januari angka penjualan masih mencapai >81 ribu unit, Februari turun menjadi 77 ribu unit, Maret turun lagi menjadi 60ribu unit. Untuk april, angkanya menurun lebih tajam hingga 60% menjadi 24ribu unit. Pada segmen ekspor, angkanya juga menurun hingga 55% dari bulan ke bulannya yang membuat seluruh perusahaan kewalahan.

Baca juga  Dampak Masalah Proses Pembelajaran Matematika Di Masa Pandemi COVID-19

Dari data diatas, bisa kita bayangkan jika indutri otomotif terus mengalami penurunan pendapatan, ini akan berdampak besar bagi ratusan industri pendukungnya. Contohnya masuknya pasokan suku cadang terhenti dan akhirnya membuat produksi atau baru juga terhenti dan hampir seluruh dunia mengalami hal yang sama.

Akhirnya, demi mengatasi penurunan ekonomi yang terus berkelanjutan ini, Agus Gumiwang K. selaku Menteri Perindustrian mengusulkan pendapat yaitu relaksasi pembelian pajak baru atau pemotongan pajak bermotor (PKB) sebesar 0% sampai akhir tahun 2020.

Beruntung pada tahun 2021 ini, sektor otomotif perlahan mulai pulih. Insentif yang diberikan Kementrian Perindustrian efektif meningkatkan penjualan dan motor dengan disusulnya pemdiskon PPnBm sebagai kesempatan terakhir untuk pemulihan pendapatan penjualan .

Pada Oktober 2021, GAIKINDO (Gabungan Industri Bermotor Indonesia), penjualan mobil dan motor telah mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, yakni berhasil menjual sebanyak 76.988 unit, atau naik 6% dibanding September hanya 72.649 unit.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rika Tri Tantri