Dampak Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental

Dampak Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental 1

Toxic masculinity mungkin bagi sebagian orang merupakan issue yang baru diketahui, hal ini menjadi perhatian banyak orang ketika toxic masculinity dijadikan sebuah topic content media berbagi video.

Toxic masculinity sendiri merupakan anggapan sempit mengenai standar ‘kelelakian”. Selama ini orang memandang masculinity ini sebagai sifat pria yang identik dengan kekuatan ,kekerasan , agresif dan tidak boleh menunjukan emosi.

Lelaki atau pria dituntut masyarakat harus menyukai hal tertentu ,seperti olahraga sepak bola , tinju atau hal – hal yang berkaitan dengan kekuatan dan petualangan,  harus berpenampilan seperti ini atau itu demi mendapatkan label kejantanan. 

Dari definisi diatas dapat dilihat bahwa cara pandang terhadap  laki – laki yang sempit , yang menganggap bahwa laki – laki harus kuat secara fisik, tidak boleh mengekspresikan perasaan sedih secara terbuka , agresif dalam hal sexualitas mengambil peran dominan dan seterusnya.

Dampaknya tentunya akan sangat berbahaya bagi laki – laki yang tidak memenuhi “standar” maskulin tersebut. Banyak laki – laki yang denial terhadap dirinya sendiri bahkan depresi merasa dirinya tidak layak.

Salah satu korbannya adalah saya sendiri yang sudah merasakan toxic masculinity ini sejak saya masih kecil sampai dewasa, dampaknya sangat terasa, menimbulkan semacam trauma dalam diri saya.

Dalam kasus saya pelakunya adalah orang sekitar saya , teman – teman sekolah dan lingkungan pekerjaan , tidak hanya pria yang melakukannya teman wanita pun tidak berbeda.Mereka merasa paling jantan dan paling tahu harus bagaimana seorang pria itu.

Banyak contoh toxic masculinity yang saya rasakan seperti,cowok gak boleh lemah , harus jago olah raga terutama sepak bola kalau tidak bisa ? Bencong !, cowok harus meroko , kalo ngga Banci ! kata – kata sepeti itu yang sering saya terima , karena saya anak rumahan tidak suka bergaul , tidak suka olahraga, hanya hobi baca buku.

Contoh lain bahwa  cowok harus tegas tidak boleh cengeng, tidak boleh menangis , cowok harus maen PS , cowok harus berkulit gelap, cowok tidak boleh skincare-an , cowok harus berotot atau cowok harus kuat begadang dan banyak hal yang lainnya jika tidak memenuhi standar seperti itu maka akan mendapatkan prejudice yang sexsis , bencong , kaya perempuan, gak laki dsb.

Dampaknya sangat besar sekali terhadap kejiwaan saya  karena terus dilabel “banci’, saya menjadi orang yang sangat  tertutup, tidak percaya diri, rapuh dan meragukan kemampuan diri saya sendiri.Sering merasakan konflik batin dan konflik dengan orang lain.

Yang paling berat adalah ketika merasakan depresi dan penyesalan terhadap diri sendiri mengapa tidak seperti lelaki yang lain, merasakan gagal dan terpikir untuk bunuh diri.

Banyak usaha yang saya lakukan untuk mengahapus label tersebut, contohnya dengan memaksakan ikut berolah raga basket , merokok dan nonton sepak bola , hanya karena tidak ingin disebut gak laki .Namun apa yang terjadi tetap saja saya memang tidak suka hal – hal yang cowok banget tersebut, tidak nyaman. Akhirnya saya menjauh dan memilih membca buku di rumah atau bantuin ibu memasak.

Beruntung saya mendapatkan support dari keluarga  , lalu saya akhirnya tersadar bahwa itu adalah toxic , racun yang dilabelkan  kepada diri saya oleh lingkungan yang berpikiran sempit.

Dampak Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental 3

Tidak mudah dan tidak sebentar untuk healing dari kondisi tersebut, sampai saat ini masih ada perasaan insecure dalam diri saya, yang saya sadari bahwa hal ini tidak baik bagi saya.Tetapi saya telah lebih berdamai saat ini dan lebih bisa menerima diri saya sendiri berkat dorongan keluarga dan buku – buku yang saya baca.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ivan