Dampak Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental

Dampak Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental

Toxic masculinity mungkin bagi sebagian orang merupakan issue baru diketahui, hal ini menjadi banyak orang ketika toxic masculinity dijadikan sebuah topic content media berbagi .

Toxic masculinity sendiri merupakan anggapan sempit mengenai standar ‘kelelakian”. Selama ini orang memandang masculinity ini sebagai pria yang identik dengan ,kekerasan , agresif dan tidak boleh menunjukan emosi.

Lelaki atau pria dituntut masyarakat harus menyukai hal tertentu ,seperti olahraga , tinju atau hal – hal yang berkaitan dengan kekuatan dan petualangan,  harus berpenampilan seperti ini atau itu demi mendapatkan label kejantanan. 

Dari diatas dapat dilihat bahwa cara pandang terhadap  laki – laki yang sempit , yang menganggap bahwa laki – laki harus kuat secara fisik, tidak boleh mengekspresikan perasaan sedih secara terbuka , agresif dalam hal sexualitas mengambil peran dominan dan seterusnya.

Dampaknya tentunya akan sangat bagi laki – laki yang tidak memenuhi “standar” maskulin tersebut. Banyak laki – laki yang denial terhadap dirinya sendiri bahkan depresi merasa dirinya tidak layak.

Baca juga  7 Gejala Yang Harus Kamu Ketahui, Saat Mengalami Stres Berat

Salah satu korbannya adalah saya sendiri yang sudah merasakan toxic masculinity ini sejak saya masih kecil sampai dewasa, dampaknya sangat terasa, menimbulkan semacam trauma dalam diri saya.

Dalam kasus saya pelakunya adalah orang sekitar saya , teman – teman sekolah dan lingkungan pekerjaan , tidak hanya pria yang melakukannya teman wanita pun tidak .Mereka merasa paling jantan dan paling tahu harus bagaimana seorang pria itu.

Banyak toxic masculinity yang saya rasakan seperti, gak boleh lemah , harus jago olah raga terutama sepak bola kalau tidak bisa ? Bencong !, cowok harus meroko , kalo ngga Banci ! kata – kata sepeti itu yang sering saya terima , karena saya anak rumahan tidak suka , tidak suka olahraga, hanya hobi buku.

Baca juga  Ketika Seseorang Merasa Dirinya Paling Pintar

Contoh lain bahwa  cowok harus tegas tidak boleh cengeng, tidak boleh menangis , cowok harus maen , cowok harus berkulit gelap, cowok tidak boleh skincare-an , cowok harus berotot atau cowok harus kuat begadang dan banyak hal yang lainnya jika tidak memenuhi standar seperti itu maka akan mendapatkan prejudice yang sexsis , bencong , kaya perempuan, gak laki dsb.

Dampaknya sangat sekali terhadap kejiwaan saya  karena terus dilabel “banci’, saya menjadi sangat  tertutup, tidak percaya diri, rapuh dan meragukan kemampuan diri saya sendiri.Sering merasakan konflik batin dan konflik dengan orang lain.

Yang paling berat adalah ketika merasakan depresi dan penyesalan terhadap mengapa tidak seperti lelaki yang lain, merasakan gagal dan terpikir untuk .

Banyak usaha yang saya lakukan untuk mengahapus label tersebut, contohnya dengan memaksakan ikut berolah raga basket , merokok dan nonton sepak bola , hanya karena tidak ingin disebut gak laki .Namun apa yang terjadi tetap saja saya memang tidak suka hal – hal yang cowok banget tersebut, tidak . Akhirnya saya menjauh dan memilih membca buku di rumah atau bantuin memasak.

Baca juga  Pahami Kesehatan Mental Anak dan Usia Lanjut di Sekitarmu

Beruntung saya mendapatkan support dari keluarga  , lalu saya akhirnya tersadar bahwa itu adalah toxic , racun yang dilabelkan  kepada diri saya oleh lingkungan yang berpikiran sempit.

Dampak Toxic Masculinity Bagi Kesehatan Mental

Tidak mudah dan tidak sebentar untuk healing dari kondisi tersebut, sampai saat ini masih ada perasaan insecure dalam diri saya, yang saya sadari bahwa hal ini tidak baik bagi saya.Tetapi saya telah lebih berdamai saat ini dan lebih bisa menerima diri saya sendiri berkat dorongan keluarga dan buku – buku yang saya baca.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ivan