Dari Dalam Cermin Itu


Dari Dalam Cermin Itu 1

Setiap pagi-pagi sekali aku bangun hanya untuk melamun. Dalam 5 atau sampai 7 menit. Aku tidak tahu pasti alasan jelasnya mengapa. Namun hal ini seperti rutinitas untuk beribadah kepada sesuatu. Hal ini sudah terjadi kepadaku sejak lama, sejak dulu, sejak aku berusia 9 tahun. Ketika malam yang hujan di Desember 2006, dan gemuruh petir saling bersahutan.

Ayahku tewas bunuh diri dengan irisan nadi lebar di tangannya, lalu ibuku mengalami syok berat dan keesokan harinya aku melihat ia tergantung memucat, tidak bernapas di lantai dua dalam kamarnya. Bagaimana kabarku kala itu? Anehnya aku tidak menangis, tidak pernah. Bahkan sampai sekarang, seolah ada yang menahan air mataku untuk jatuh. Ingatanku pun berangsur memudar, dan aku lebih pendiam dari yang sudah-sudah.

Dalam kenormalan atau kebiasaan, barangkali anak sepertiku harusnya sudah histeris melihat 2 peristiwa yang terjadi tadi. Tidak mau makan, depresi, tidak bersekolah, bermain, atau melakukan kegiatan kesukaan seperti biasanya. Tapi sekali lagi,aku tidak pula demikian. Pun sekolah atau bermain, aku juga tidak melakukan keduanya. Aku tidak memiliki teman atau bahkan keluarga. Hidupku terasa hambar. Barangkali sejak lahir, memang garisnya sudah begini. Aku, seorang perempuan yang hampir menghabiskan sisa hidupnya dengan datar-datar saja. Tidak tertawa, tidak menangis. Wajahku hanya datar. Seperti yang biasa kusaksikan dari cermin di depanku ini.  Iya, si  muka datar. 

Aku selalu mengurung diriku di dalam rumah untuk waktu yang lama. Mereka bilang aku anti sosial, tidak normal, gadis yang cacat, atau mayat hidup. Wajahku senantiasa pucat. Aku tidak mengerti caranya berdandan seperti remaja sekarang pada umumnya. Aku, sering menghabiskan sisa waktuku hanya untuk-melamun di depan cermin.

Kadang-kadang saja aku membuka tirai di jendela kamarku agar pagi bisa membersamai cahaya matahari yang masuk. Selanjutnya aku duduk, mematung, diam, dan, entahlah. Begitu terus sampai malam larut. Lalu aku tidur lagi dan bangun dan melakukan hal yang sama berulang kali.

Tidak ada yang aneh bukan? Sempat seorang tetangga, ibu-ibu, menegurku agar pergi ke psikolog. Katanya aku kena gangguan jiwa. Tidak usah khawatir untuk masalah biaya, dia mau mendanaiku katanya. Aku hanya menggelengkan kepala, yang artinya menolak. Aku tidak mengerti itu, yang jelas selama ini aku anggap bahwa aku tidak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja.

“Tapi kamu semakin kurus Nak” katanya lagi. Tapi aku hanya menggeleng dan berhambur masuk ke dalam rumah. Aku bercermin, kulihat memang pipiku kian hari kian tirus. Soal makanan, aku hanya makan seadanya.  Pemberian tetangga, memetik buah dan daun di depan rumah, atau jika tidak ada lagi, tentunya aku tidak makan. Sampai berhari-hari. Dan aku tidak apa-apa. Tidak juga ada rasa lapar yang terlalu.

Tapi suatu ketika,kebiasaanku melamun di depan cermin yang berukuran hampir sama dengan tubuhku, membuatku kaget cukup hebat. Lamat-lamat aku perhatikan, di sana-di dalam cermin, bayangan atau tampilan diriku seperti bergerak sendiri. Ia tidak mengikuti gerakanku. Ia mulai bebas. Kadang ia melambai-lambai, dan tersenyum! Ya tersenyum! Sejauh ini aku tak penah melihat diriku sendiri tersenyum, tapi dia-bayanganku di sana menampilkan itu. Lalu agak lama, dia mulai menangis. Begitu ekspresif tapi tidak bersuara. Kadang ia juga mengetuk-ngetuk kaca seolah ingin keluar atau kadang menggerak-gerakkan mulutnya seolah sedang bernyanyi ria.

Di depannya, aku, hanya menyaksikan dengan takzim. Aku pikir ini menarik dan menjadi hiburan tersendiri. Seperti melihat film. Hanya saja tokoh di dalamnya cuma seorang gadis yang tak asing untuk ku lihat sehari-hari dan tempatnya pun tak beralih-hanya kamarku.

Maka setiap hari aku semakin tidak bergerak. Terus memandangi cermin yang kian lama kian ganjil saja tingkah lakunya. Kadang ia sampai melukai dirinya sendiri hingga berdarah atau membenturkan kepalanya hingga kulitnya robek. Atau juga, ia sedang berhitung dengan tangannya lalu tersenyum-senyum sendiri dan tak jarang pula dia menatapku dengan pandangan tajam serta lekat-lekat tidak berkedip.

Anehnya, kadang aku pun ikut merasakan apa yang terjadi padanya. Sakit, senang, sedih, dan merinding ketakutan. Aku tidak tahu, tapi ini lama-kelamaan rasanya mengasyikkan. Meskipun yang aku tahu, walaupun waktu terus berjalan aku masih menjadi gadis si muka datar.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap