Dari Mata Turun Ke Hati?


Dari Mata Turun Ke Hati? 1

Konon katanya, cinta itu dari mata turun ke kati. Benarkah?

Namanya Zafran, lelaki seuasiaku yang kini mampu memenuhi ruang hatiku. Bukan karena aku tertarik padanya lebih dahulu, atau seperti dalam cerita-cerita romance dengan bad boy berwajah mempesona. Ini hanya kisah sederhana yang karena kesederhanaan itu membuatku bertahan.

Suatu siang ditengah hari libur yang terasa singkat, aku dan teman-teman ku berbincang ria. Sebentar kemudian aku membaca pesan WhatsApp dari seorang temanku. Bukan suatu yang spesial. Seperti cewe-cewe remaja pada umumnya, kami senang membicarakan semua hal. salah satunya juga tentang Zafran. Saat itu aku belum mengenalnya walaupun aku dan Zafran sama-sama dari sekolah yang sama sampai kami lulus.

Temanku, Linda. Dia menceritakan sedikit cerita singkat tentang Zafran. Walaupun sama sekali tidak tertarik, aku sengaja berpura-pura antusias.

“benarkah? Sampaikan salamku untuknya.” Kubalas demikian ceritanya.

Temanku yang duduk di sampingku, Hea. Mengambil ponselku setelah aku membalas pesan dari Linda. Tanpa aku curiga sedikitpun, kami melanjutkan berbincang ria kami yang sempat terpotong sebelumnya.

Dari Mata Turun Ke Hati? 3

Setelah ponsel ku dikembalikan, aku melihat sebuah pesan dengan nomor tak bernama. Namun itu bukanlah sebuah pesan yang benar-benar baru. Nyatanya saat itu telah menjadi percakapan panjang dengan pemilik nomor tersebut. Zafran. Ya, pria yang kukirimkan salam barusan itu. Setelah linda menyampaikan salam ku yang sungguh itu bukanlah salam yang serius, Zafran meminta nomor WhatsApp ku. Mencoba memulai percakapan melalui chat. Namun bukan aku yang membalasnya langsung, posisinya Hea yang sedang membawa ponselku.

Tak mengapa, aku pun tak keberatan melanjutkan percakapan dari chat tersebut. Dia orang yang menyenangkan. Begitu pikirku saat itu. Satu hal sebelum itu, jauh sebelumnya aku pernah lebih dahulu mengirim pesan lewat DM Instagram. Dan kesalnya dia mengabaikan pesanku. Entahlah, mungkin dia lupa.

Secara garis besar begitulah awal dari kedekatan kami. Walaupun sampai saat ini kami hanya sebatas teman. Zafran mengaku bahwa ia mulai menyukaiku dari awal, di hari pertama itu, saat Hea membalas pesannya di ponselku. Dia menyukaiku tanpa tau seperti apa wujudku. Mungkin kami pernah bertemu di sekolah waktu dulu, tapi kami tak saling mengenal satu sama lain.

Dari Mata Turun Ke Hati? 4

Setelah hari itu kami putus komunikasi beberapa bulan karena kami sama-sama melanjutkan ke sekolah asrama. Walaupun aku tak mengakuinya, sebenarnya aku pun begitu. Mulai tertarik padanya sejak hari itu. Aku selalu memikirkannya, mengulang ingatan tentang hari itu, dan tak sabar menunggu kami dipertemukan lagi. Walau kami belum pernah bertemu langsung dalam posisi aku tahu dia dan dia tahu aku.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

muadd.aufi

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap