Dari Preman Hingga Jadi Imam


Dari Preman Hingga Jadi Imam 1

Pepatah, “Buah tidak akan jauh jatuh dari induknya”,  sebuah pepatah klasik memang banyak benarnya. Pak Rudi, seorang Bapak yang kini sudah dianugerahi dengan 11 orang anak dan dua orang cucu,  dulu merupakan seorang jagoan kampung yang hampir setiap orang yang ketemu takut kepadanya. 

Setiap mendapati masalah, selalu diselesaikannya dengan jalan kekerasai, main pukul, adu jotos, atau dengan cara-cara lain yang jauh dari dari aturan yang berlaku. Jika ada salah satu keluarganya yang disakiti, Rudi tak segan-segan untuk menyakiti balik, bahkan terkadang dengan cara-cara yang sangat ekstrim, misalnya melakukan penganiayaan kepada si pelaku. Apalagi kala itu belum lahir adanya undang-undang HAM, sehingga masih banyak menggunakan pola-pola “Homo homini lupus”, (siapa yang menang, dia yang berkuasa).

Karakternya yang susah untuk mengalah, membuat banyak orang yang enggan untuk bergaul dengannya. Perangainya terlihat sangat angker saat ada masalah. Orang lain dianggap lebih lemah dimata dirinya.  Tetapi, “sepreman-premannya orang dulu, ada yang patut dibanggakan”, yakni selalu menghormati dan menghargai setiap guru yang pernah mendidiknya.

Pendidikannya meski hanya tamatan dari bangku sekolah dasar, tetapi pengalamannya dalam beberapa bidang cukup mumpuni. Pak Rudi selalu up date terhadap berita-berita perkembangan politik, dunia ekonomi, hingga soal agama. Bahkan diusianya yang kini memasuki lebih dari setengah abad, masih terus mau belajar, khususnya belajar ilmu agama. 

Meski masa mudanya banyak diwarnai dengan dunia premanisme, orang tuanya  yang kehidupannya agamis baik ayah mau pun ibunya, ternyata ada hal baik yang melekat pada diri Pak Rudi. Itulah sebabnya kenakalan yang tertanam pada diri pak Rudi ternyata tidak abadi, artinya sepak terjangnya di dunia premanisme surut seiring dengan akhir masa lajangnya. Jejak kedua orang tuanya pun ternyata Beliau ikuti. Meski tidak sepasih para santri yang berasal dari pesantren, Pak Rudi selalu belajar untuk mendalami agama, yakni agama Islam. Mulai dari belajar iqro’ kecil hingga pada juz ama (suratan pendek) senantiasa Beliau pelajari dan beliau hafalkan.  

Pak Rudi mencoba untuk mengahapus semua prilaku yang pernah dilalui pada masa lajangnya, dan berharap kelak disuatu masa bisa menjadi seorang pemimpin dalam barisan shalat, yang seorang imam masjid. 

Allah memiliki sifat “kun fayakun”, jika Allah sudah berkehendak, maka sesuatu itu pasti akan terjadi. Jika seseorang telah mendapat hidayah, maka harapan dan impiannyapun akan terkabul. 

Rupanya ini pula yang terjadi pada pak Rudi. Mimpi indah yang diinginkannya kini jadi kenyataan. Sudah lebih sepuluh tahun pak Rudi sering diminta menjadi pemimpin dalam shalat, bahkan hingga pada memimpin yasiin dan tahlil yang menjadi tradisi bagi kalangan warga nahdliyin.

Kini Pak Rudi menjalani hidup sebagai petani ikan hias, dan juga seorang wakil imam mushola jika imam pokoknya tidak bisa menjalankan tugasnya. Semua putra-putrinya tak ada satupun yang mengikti jejak masa lajang ayahnya, semua menjadi putra-putri yang santun dan hormat kepada orang lain.

Karena itulah, bagi para premanisme diluar sana, janganlah takut untuk berbuat kebaikan, jangan pernah malu untuk belajar dan belajar kebaikan, karena jika Allah telah memberikan hidayah, semua pasti terjadi. Preman bukan berarti sebuah kejahatan yang hakiki, diri kitalah yang akan merubah kita. Pak Rudi menjadi satu tauladan yang patut diikuti jejaknya bagi kawanan preman-preman di negeri kita.  


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap