Dari Privilege Hingga Beban, Inilah yang Dirasakan Ketika Menjadi Mahasiswa

Dari Privilege Hingga Beban, Inilah yang Dirasakan Ketika Menjadi Mahasiswa 1

Pendidikan merupakan salah satu jalan yang dapat digunakan untuk mengantarkan manusia untuk sukses. INGAT, hanya salah satu cara saja. Masih banyak cara dan peluang lain yang bisa mengantarkan manusia ke jenjang pintu kesuksesan. Biasanya pendidikan menjadi wadah yang digadang mampu mengantarkan manusia menggapai harapannya tersebut. Oleh karena itu, banyak orang berbondong-bondong disekolahkan oleh orang tuanya agar dapat menjadi orang sukses di masa depan. Masa depan, adalah dua kata yang akan ditempuh dalam periode waktu jangka panjang dengan (biasanya) mengandung sebuah nilai-nilai harapan yakni seperti indah, cerah, bahagia, dan kata-kata positif lainnya. Begitulah sekelebat opini mini saya tentang masa depan.  

Oke. Mari kita balik ke topik tentang pendidikan. Di Indonesia sendiri, perjalanan panjang manusia di bidang pendidikan harus melewati jalan yang berliku, terjal, dan penuh liku (kayak kisah cinta ya, hehe). Maksudnya adalah pendidikan yang harus ditempuh yakni dari Sekolah Dasar (SD) selama enam tahun, lalu Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) selama enam tahun. Dari SD hingga SMA jika ditotal sudah menghabiskan waktu 12 tahun. WOW! Waktu yang lama, kan ?

Tidak puas sampai disitu, pada era saat ini banyak orang yang melanjutkan ke jenjang pendidikan setelah itu, yakni perguruan tinggi. Suatu perasaan tersendiri ketika sudah memasuki ke dalam tahap ini. Namun sadar atau tidak, menjadi mahasiswa adalah tidak mudah. Di sini saya sedikit memuntahkan poin-poin yang dirasakan selama menjadi mahasiswa. Yuk disimak!

1. Menjadi mahasiswa, salah satu hal yang patut disyukuri

Saya memiliki argumen tersendiri mengapa menjadi menjadi mahasiswa wajib bersyukur. Begini, tidak semua orang memiliki hak istimewa untuk merasakan menjadi mahasiswa selama hidupnya. Yaps, tidak semua orang bisa berkesempatan kuliah dan merasakan drama nano-nano di perguruan tinggi. Di luaran sana masih terdapat anak muda usia produktif yang begitu mendambakan bisa berkuliah di masa hidupnya.

Maka dari itu, bersyukur adalah energi positif yang sebaiknya dirasakan oleh mahasiswa. Selain itu selama menjadi mahasiswa, seseorang dapat memanfaatkan berbagai momen dan kesempatan seperti berorganisasi, magang di berbagai institusi, membangun relasi dengan berbagai kalangan dan sejuta kegiatan positif lain.

2. Menjadi mahasiswa, dapat menghantarkan manusia ke jenjang kehidupan yang mapan a.k.a sukses

Setelah lulus dan terbebas dari drama perkuliahan, manusia dapat melanjutkan kehidupannya dengan bekerja. Lulus dari kuliah dapat menjadi lolosnya ke persyaratan perekrutan sebuah lowongan pekerjaan. Banyak lowongan yang biasanya mewajibkan para pelamarnya sudah lulus dari perguruan tinggi. Oleh karena itu, peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan sesuai harapa dapat dicapai. Dengan kata lain, perguruan tinggi dapat menjadi pintu gerbang yang dapat menghantarkan manusia ke jenjang keberhasilan duniawi. 

3. Menjadi mahasiswa, harus siap dituntut ini itu

Tidak seperti poin-poin sebelumnya, poin ketiga ini saya ingin menegaskan bahwa menjadi mahasiswa adalah tidak serta merta mudah. Kendati mendapatkan banyak “privilege” namun label “kaum intelektual”, seringkali mahasiswa mendapatkan tuntutan harus mampu melakukan berbagai hal. Misalnya tuntutan seperti mahasiswa harus ahli mengoperasikan komputer, ahli berbahasa asing, dan sebagainya. Memang sih, menjadi mahasiswa adalah waktu yang bagus untuk mencari dan meningkatkan kemampuan (di luar jurusan yang dibidanginya).

Namun jika saya diijinkan beropini, maka tuntutan yang terlalu dibebankan tanpa melihat minat dan bakat si mahasiswa yang bersangkutan itu sama saja bentuk kekerasan yang dibungkus dengan perkataan halus. Hal ini dikarenakan yang dinamakan “tuntutan” itu selalu terkesan bersifat memaksa. 

4. Menjadi mahasiswa, seringkali mendapat stereotip bahwa mahasiswa adalah manusia yang serba bisa dan serba tahu

Poin keempat ini adalah asumsi keliru yang masih saja melekat di benak masyarakat umum. Sebagai mahasiswa di salah satu universitas negeri, saya pun tidak hanya sekali atau dua kali mengalami hal demikian. Banyak orang mengira bahwa menjadi mahasiswa apalagi universitas favorit dan ternama (kata orang) sudah pasti paham semua hal dan bisa melakukan berbagai hal. Sikap terlalu berekspetasi lebih semacam ini merupakan salah satu stereotip yang tidak bagus disematkan dalam benak orang lain. Bagi yang belum tahu, stereotip adalah pandangan atau persepsi yang disematkan kepada individu atau kelompok lain hanya berdasarkan asumsi belaka. Adanya stereotip bahwa mahasiswa adalah manusia yang serba tahu dan serba bisa adalah kesalahan besar.

Persepsi tersebut terkesan terlalu menglorifikasi  manusia yang berstatus mahasiswa dengan ekspetasi yang tinggi serta mengeksklusi manusia lain. Sayangnya, orang-orang yang menstereotip ini lupa bahwa mahasiswa adalah juga manusia biasa. INGAT ya, mahasiswa adalah MANUSIA BIASA. Terlepas mereka memiliki banyak privilege, namun tetap saja namanya juga manusia yang memiliki keterbatasan dalam banyak hal. Belum tentu mahasiswa akan langsung paham dan tanggap atas topik yang orang lain bicarakan.   

5. Menjadi mahasiswa, merasakan beban berlapis yang membuat rentan stres atau depresi

Selain beberapa poin beratnya menjadi mahasiswa yang telah dijabarkan di atas, saya merasakan perlu memasukkan poin kelima ini. Mengapa demikian ?. Oke, saya akan menjelaskannya di sini. Alasannya sebenarnya sudah dituliskan di atas. Namun, di sini akan diperjelas kembali. Jika diteliti sedikit saja, mahasiswa terdiri dari dua suku kata, yakni “maha” dan “siswa”. Tentu ada makna tersendiri dari kata tersebut. Lalu secara singkat dapat diartikan sebagai siswa yang tingkatnya paling tinggi atau “maha”. Dari segi pemaknaan kata-katanya saja sudah berbeda, maka tentu dalam proses dan dinamikanya juga pastinya berbeda.

Menjabat sebagai posisi tertinggi siswa, maka menjadi mahasiswa bukanlah beban yang ringan. Selain yang sudah diketahui bersama, bahwa menjadi mahasiswa harus mampu menyelesaikan bertubi-tubi tugas dan tanggung jawab lain sebagai civitas akademika. Belum lagi beban tugas lain yang diemban, misal dalam kancah organisasi yang diikuti, tanggung jawab sebagai penerima beasiswa, sebagai anggota masyarakat, dan mungkin tanggung jawab untuk berkomitmen dengan sang kekasih (loh, kok sampai kisah cinta ya, wkwk). 

Selain itu, dalam benak mahasiswa sebenarnya menyimpan beban tanggung jawab yang berlapis. Di setiap benak mahasiswa, terdapat tanggung jawab berupa beban moral yang harus ditanggung karena mereka diberikan berbagai privilege dan prestis yang diterima selama kuliah. Mereka mempunyai beban moral yang harus bisa dijawab selepas lulus kuliah. Setiap insan mahasiswa yang telah dibekali ilmu selama di perguruan tinggi diharapkan mampu bermanfaat dan memberikan solusi untuk masyarakat luas serta bisa menjawab tantangan zaman. Hal inilah yang kemudian menjadikan alasan saya mengapa menjadi mahasiswa adalah status dan peran yang tidak mudah. 

Berbagai tanggung jawab dan tekanan yang berlapis tersebut kemudian menjadikan mahasiswa menjadi kaum rentan stres dan atau bahkan bisa depresi. Diperlukan kesehatan fisik dan mental yang kuat untuk mampu menyandang status mahasiswa. Bukan kalimat yang bermaksud menakuti, namun beginilah faktanya.

Oleh karena itu, saya berharap masyarakat menjadi lebih sadar dan paham berdasarkan apa saja yang sudah saya jelaskan panjang dan lebar di atas. Saya juga berharap bahwa setiap mahasiswa yang membaca artikel ini menjadi lebih sadar lagi akan tanggung jawab yang diemban. Terima kasih sudah membaca. Tabik.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nourma Dewi Fatmawati