Dari Wabah Sampai Tafsir Tentang “Diang” yang Dibakar di Depan Rumah

Dari Wabah Sampai Tafsir Tentang "Diang" yang Dibakar di Depan Rumah 1

Wabah Covid-19 selalu menjadi topik unggulan sampai hari ini. Kita tahu bahwa berbagai pihak menilai covid-19 sebagai virus bawaan dari Wuhan yang menggemparkan seluruh dunia. Adanya covid-19 membuat berbagai sumber dan sisi kehidupan melumpuh. Khususnya perekonomian.

Ada yang takut dan parno dengan fenomena covid-19, namun ada juga yang biasa-biasa saja bahkan cenderung abai. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor kampanye akan kesehatan dan bebas dari covid-19 dengan menerapkan vaksinasi dan protokol kesehatan. Ada juga yang abai dengan alasan jika tidak bekerja dan hanya mengandalkan bantuan sosial maka sampai kapan?

Artinya ada dua sisi yang keduanya sebenarnya sama-sama benarnya. Di satu sisi, kesehatan adalah satu hal yang penting dan sangat besar peranannya. Di sisi lain tanggung jawab moral dan sosial menjadi hak setiap personal untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing atau keluarganya.

Jika anda orang desa, maka anda akan mengenal istilah “diang” yang mana hal ini selalu ada ketika kondisi pagebluk. Covid-19 dipercaya sebagai pagebluk bagi banyak masyarakat akar rumpun. Karena di samping tersendatnya perekonomian, ternyata juga banyak orang sakit dan orang meninggal mendadak. Oleh karena itu, sebagian masyarakat ada yang membakar diang, membuat ketupat dan serabi, keliling kampung membaca burdah, dan ada juga yang menumbali desanya dengan uborampe yang beragam.

“Diang” berasala dari kalimat nedhi marang sang hyang, atau meminta kepada Tuhan. Bentuk permintaannya digambarkan dengan membakar kayu sengon putih di depan rumah dengan harapan asapnya bisa menyelimuti rumah dan menerpa badan sehingga dijauhkan dari segala macam bentuk pagebluk. Interpretasi ini muncul bukan semata sebagai kepercayaan, melainkan ritus ini adalah wujud penghambaan kepada Tuhan, dengan hanya berharap kepadaNya bukan kepada selainNya.

Masyarakat yang berbondong-bondong membakar diang di depan rumahnya mempercayai bahwa upaya ini adalah bentuk ikhtiar mencegah kondisi buruk yang melanda negeri, melanda kehidupan sosial. Dan jika dipahami secara mendalam, sebenarnya wabah adalah bentuk proses mempererat dan mempersatukan umat. Mengapa? Karena semua satu rasa dan satu nasib. Tidak ada orang kaya atau miskin, semuanya terpapar dan terdampak kondisi pandemi hari ini.

Dari pemaknaan bahwa diang adalah nedhi marang sang hyang atau meminta kepada Tuhan, maka ada nilai spiritualitas yang dibangun oleh masyarakat lintas agama, lintas kepercayaan, agar apa yang sedang melanda segera hilang dan sirna. Agar kondisi kembali normal seperti sedia kala.

Jika sebagian masyarakat memandang pagebluk ini adalah bentuk teguran dari Tuhan atas kecongkahan dan kesalah manusia, maka alangkah baiknya jika memang harus merenungkannya dan melakukan introspeksi diri, karena dengan hal itu kita sebagai manusia bisa membuka pintu menuju kesadaran dan kedewasaan dalam menjalani hidup yang beragam perjalanannya.

Diang yang memang sudah menjadi tradisi luhur sejak dulu, tidak sepantasnya dihukumi syirik atau menyalahi ajaran. Karena bentuk keimanan bukan terletak pada tekstualitasnya melainkan kontekstualitas atas ajarannya. Keyakinan berada dalam sanubari, sedankan apa yang ada di depan mata adalah wujud dariupaya dan ikhtiar manusia.

Oleh sebab itu, diang adalah bentuk kesadaran manusia untuk berupaya dan berikhtiar, selebihnya adalah berserah diri kepada Tuhan. Karena bagaimanapun manusia hidup di dunia tidak lepas dari kekuatan yang oleh Thales disebut sebagai apoiron atau kekuatan yang tidak ada ukurannya.[]

Catatan:

Nedhi Marang Sang Hyang (Ungkapan jawa meminta kepada Tuhan)

Apoiron (Istilah filosofis terhadap kekuatan Tuhan)

Uborampe (Istilah jawa untuk perlengkapan persembahan)

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A.Dahri