Dario Dubois, Pesepakbola Pemuja Setan yang Berakhir Tragis


Dario Dubois, Pesepakbola Pemuja Setan yang Berakhir Tragis 1

Nama Dario Dubois pada pada era 90-an di Argentina jadi pusat perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, berprofesi sebagai seorang pesepakbola, Dubois pernah mewarnai wajahnya dengan cat mirip dengan personil grup Heavy Metal, Kiss.

Kelakuan tak lazim Dubois segera menjadi pemberitaan media di Argentina. Ia dianggap bak seorang badut di lapangan hijau. Dubois memiliki alasan tersendiri mengapa ia bertingkat aneh tersebut. Satu waktu, seorang wasit bertanya kepadanya mengapa ia melukis wajahnya seperti itu.

Dubois menjawab, “Saya adalah orang yang gemar musik Heavy Metal dan pengagum Setan,” Sontak jawabannya bikin kaget banyak orang. Tentu tak ada yang salah dengan seorang pemain bola gemar dengan musik Heavy Metal, tapi bagaimana dengan menjadi pengagum setan? Tentu bikin semua orang mengerutkan dahi.

“Ini memberi energi bagi saya. Saat Anda melukis wajahmu, dan Anda pergi berperang, Anda seolah siap untuk membunuh musuhmu,” kata Dubois lagi.

Di luar sepakbola, Dubois memang seorang anggota band. Memiliki rambut gondrong bak seorang rock star, Dubois ternyata pernah bermain untuk tiga grup band beraliran Heavy Metal. Menariknya, dari tiga band yang gawangi oleh Dubois, mayoritas menyanyikan lagu dari band rock asal Argentina, Vox Dei yang populer di era 70-an.

“Awalnya para personil menamai band ini Dubois Dei tapi kemudian berganti nama menjadi Tributo Rock,” kata Dubois seperti dikutip dari The Guardian.

Menariknya ternyata anggota band dari Tributo Rock ialah rekan Dubois di lapangan hijau. Sejumlah pemain dari klub Deportivo Paraguay bergabung pada band ini. Di band ini sendiri, Dubois bertugas menjadi pembetot bass.

Dubois memang sosok kontroversial di sepak bola Argentina. Popularitasnya lebih banyak disorot karena aktivitasnya yang sama sekali tidak ada hubungan dengan sepakbola. Dubois sendiri sempat mengaku bahwa ia sebenarnya tidak terlalu suka dengan sepakbola.

Bagi Dubois terjun ke sepakbola karena dirinya suka dengan iklim kompetitif di lapangan hijau. Selebihnya ia merasa hidup saat bermusik dan menerapkan hidup yang berbeda. Pernah ada satu momen, si pemuja setan ini justru bertingkah bak malaikat.

Dubois menceritakan bahwa ia sempat pernah ditawari sejumlah uang oleh salah satu petinggi klub lawan untuk mengalah saat bermain. Seharusnya sebagai pemuja setan, ia menerima tawaran menggiurkan itu. Sayangnya, si petinggi klub lawan itu malah mendapat perlakuaan tak mengenakkan dari Dubois.

Dobuis meludahi muka orang tersebut dan memanggilnya sebagai tikus bajingan. Momen itu kemudian ia beberkan ke salah satu media lokal di Argentina. Dobuis pun mendapat banyak pujian dari banyak pihak.

Pada kesempatan lain, Dobuis pernah menunjukkan sisi liarnya bak seorang setan. Ia pernah memberikan uang 500 peso kepada wasit yang memimpin laga antara Midland vs Excursionitas. Sontak saja kelakuannya ini membuat ia mendapat kartu merah dari wasit. Dobuis memiliki alasan tersendiri mengapa ia berkelakuan liar seperti itu.

Ia merasa bahwa tidak melakukan pelanggaran saat mendapat kartu kuning pertama dan kedua. Dobuis menganggap bahwa wasit memang sengaja ingin memberikan kartu merah kepadanya.

“Itu uang yang telah kau curi dariku dengan sengaja memberi kartu merah, ambil ini semua brengsek,” ucap Dobuis kepada si wasit.

Komitmen Dobuis pada sepakbola dianggap publik Argentina sangat mengagumkan. Ia misalnya pernah memutuskan untuk menutup logo klub pada jersey yang dikenaknya. Hal itu terjadi saat ia membela klub Lugano. Rupanya pihak klub belum membayarkan bonus kepada Dobuis dan kawan-kawan. Tindakan menutup logo klub pada jersey yang digunakan saat bertanding adalah bentuk protes Dobuis pada manajemen klub.

Sepanjang kariernya sebagai seorang pesepakbola, Dobuis tercatat telah melakoni 146 pertandingan. Ada setidaknya 8 klub di kasta terendah Liga Argentina yang pernah dibelanya. Setelah menjadi pro kontra di Argentina karena bertanding bak personil band KISS, Dobuis tak bisa melanjutkan pesonanya.

Hal itu lantaran federasi sepakbola Argentina, AFA memutuskan untuk melarang pemain mencat wajahnya. Alasannya karena wasit akan kesulitan untuk mengindetifikasi pemain yang bertanding. Pada 1999, Dobuis pensiun dari sepakbola.

Setelah tak lagi menjadi pesepakbola dan band Heavy Metalnya tak kunjung berhasil, Dobuis diketahui sempat bekerja di sebuah bar dan menjadi crew panggung di pinggiran Buenos Aires. Nahas tak dapat ditolak, pada Maret 2008, Dobuis menghembuskan nafas terakhirnya.

Dua minggu sebelumnya, ia dirampok saat tengah bersepeda. Si perampok menembak kaki dan perut si pemuja setan ini. Ia masuk rumah sakit dan mengalami koma sebelum akhirnya meninggal dunia pada usia 37 tahun.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Pria Ibra

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap