Dear Netizen, Tahu Apa Kamu soal Berita Clikbait


Dear Netizen, Tahu Apa Kamu soal Berita Clikbait 1

Di dunia yang fana ini, ada satu spesies yang kesempurnaannya mendekati paripurna, dia pintar, baik hati, suka menabung dan selalu benar serta tak pernah salah. Dia berani bersuara lantang, tak ada ketakutan sedikitpun, jika terpaksa takut, mungkin ketakutan terbesarnya adalah nama asli dan wajahnya terpampang.

Tahu kah siapa dia?

Dia adalah netizen.

Dalam banyak hal netizen bisa berganti rupa dan wujud, contohnya saja saat membaca berita maka netizen seketika berubah menjadi dewan pers. Dalam waktu bersamaan pula netizen menjadi guru Bahasa Indonesia, dosen jurnalistik, ahli filsafat hingga menjadi pendukung paling barbar jika idolanya diberitakan buruk oleh media.

Namun hal itu pula yang membuat media online tetap hidup dan berlomba-lomba menyajikan informasi yang siap disantap oleh netizen yang budiman. Media selayaknya harus berterima kasih kepada tipe netizen garis keras seperti ini.

Karena itu para jurnalis tak perlu risih jika kolom komentar berita Anda dipenuhi komen-komen yang memaki-maki Anda. Netizen memang harus begitu, galak, gahar, dan bisa lembut dalam waktu bersamaan khususnya ketika idolanya dipuja media. Netizen berhak menggunakan haknya sebagai warganet a.k.a pembaca. Hak untuk marah, hak untuk kecewa.

Oh ya, dear netizen yang Budiman, apa Anda sudah tahu kenapa media kerap menulis berita yang bombastis, spektakuler di judul, atau kadang tidak nyambung antara judul dan isi berita?

Begini..  tak ada satupun peristiwa ini berdiri sendiri, ada hukum sebab akibat, termasuk juga kualitas jurnalisme hari ini. Sependek pengetahuan saya dalam ranah media online, saya sedikit tahu bagaimana proses produksi berita itu tercipta.

Makanya, ketika ada berita yang jadi bahan bullyan netizen, sikap saya pun biasa, alih-alih harus bersedih– saya lebih memilih menertawakan betapa industri media ini telah membunuh semuanya, ya semua-muanya, termasuk sensivitas dalam meliput bencana. Industrilah yang membuat jurnalis-jurnalisnya menjadi robot algoritma.

Perusahaan sebagai representasi dari rantai makanan teratas di dunia industri menikmatinya, dan terus menambang uang darinya, dan dalam titik ini jurnalis adalah korbannya. Korban bagaimana harus terus mengeksploitasi informasi dengan sumber terbatas, bahkan kalau perlu wawancara pohon, batu dan bertanya pada rumput yang bergoyang pun dilakukan.

Tujuan perusahaan itu apa coba? Sebagai media informasi, media edukasi, dan control sosial? Tidak seideal itu kaka, salahsatu tujuan mereka apalagi kalau bukan klik, pageview, ranking Alexa, dan pada akhirnya adalah revenue dari Google AdSense (Tuh salahin juga Google).

Kata yang terakhir ini adalah kunci dan sebab kenapa banyak bertebaran berita-berita dengan kualitas B, C, bahkan Z min , tidak lain untuk memenuhi jumlah kuantitas kiriman berita. 

Tapi bukan berarti, tidak ada perang batin dari para jurnalis yang kebetulan bekerja pada platform daring dengan target kuantitas jumlah berita.

Dalam hati mereka juga meronta-ronta, ketika editor atau pimpinan mereka memberikan setumpuk target pageview tak masuk akal agar pasokan berita online terpenuhi setiap detiknya, setiap menitnya dan setiap jamnya. Target itu terus berulang sepanjang mereka bekerja di sana.

Bukan tidak ada daya upaya dari para jurnalis untuk melawan sistem busuk ini. Senjakala media yang membunuh platform cetak atau koran agar beralih ke platform digital turut membuat makin barbar dalam berburu klik pembaca–Karena itulah sumber penghasilan termudah dan terbesar mereka.

Satu-satunya cara dengan memproduksi berita sebanyak-banyaknya, seadanya, namun agar tetap dibaca meskipun tidak relevan adalah memainkan judul atau yang kita kenal dengan klikbait. Setiap jam otak mereka diperas untuk menghasilkan 3 hal, yakni klik, klik dan klik.

Pola ini juga yang membuat editor yang dibebani target tinggi harus mencekik wartawan untuk menghasilkan banyak berita. Di sisi lain editor juga diinjak habis-habisan oleh pimpinan untuk menghasilkan target, dan pimpinan dicambuk si pemilik untuk kerja, kerja, kerja sampai tipes.  

Tugas mulia seorang jurnalis mau tak mau harus diakhiri dengan jalan ‘bunuh diri kelas’. Kelas jurnalis yang seharusnya terdidik pun pada akhirnya terdegradasi ke level yang lebih rendah, dengan membuat konten yang bisa disambar netizen yang haus akan informasi meskipun itu gibah, berdarah-darah, bahkan bernanah sekalipun.

Ini hampir terjadi di banyak media. Jika selama ini orang hanya mengkritik media Tribunnews saja yang melakukan itu, Anda salah bung. Hari ini sebagian besar media melakukan itu. Tak peduli dia media berlabel kecamatan sampai berlabel media nasional sekalipun, melakukan itu.

Lalu apa jurnalis ini tidak melawan? Siapa bilang tidak melawan, meski akhirnya mereka juga harus tumbang dengan cara berdarah-darah pula: PHK, sampai terpaksa keluar, atau terpaksa tetap bertahan karena belum ada pilihan lain. Hari ini banyak serikat pekerja media berdiri, satu di antaranya tujuan mereka selain kesejahteraan, juga bagaimana mengembalikan marwah jurnalisme pada khittoh sesungguhnya, sebagai media informasi, edukasi dan menjalankan kontrol sosial.

Apakah itu mudah? Sangat sulit, ini adalah kerja sejarah yang setiap hari diperjuangkan para jurnalis. Banyak mereka menghimpun diri di berbagai organisasi kewartawanan hingga ke serikat-serikat pekerja media.

Data Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen hingga 2014, hanya 24 media dari total 2.338 perusahaan media Indonesia yang memiliki serikat pekerja, sungguh jumlah yang tak enak dibaca. Namun 2021 ini jumlahnya dipastikan bertambah setelah beberapa tahun terakhir ini saya dengar ada deklarasi serikat di beberapa media, dari Bali, hingga Jakarta.

Dengan uraian singkat di atas apa kita sudah cukup fair kalau hanya menuding jurnalis menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas mutu jurnalisme hari ini? Industri turut berperan besar dalam semua kekacauan ini.

Industri telah membunuh banyak hal, bahkan membunuh hal terpenting dalam jurnalisme: idealisme. Meski mereka telah berjuang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, di hadapan industri hari ini mereka kalah. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab?

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

TimurJauh

   

yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap