Dengarkan Bisikan Langit Biru


Dengarkan Bisikan Langit Biru 1

Terlihat seseorang dari kejauhan. Memakai kerudung berwarna merah sedang tersenyum kepadaku sambil meneteng sebuah rantang berisi makanan siangku. Dialah kakak perempuanku. Miran. “Selamat siang, pak dokter tampan.” Katanya sambil memberiku elusan pada kepalaku. Tanpa sebuah aba-aba. Aku langsung saja membuka rantang itu dan melahap makanan yang berada di depanku.

Hari ini terasa sangat lelah, curhatku pada Kak Miran. Hari ini memang terlalu banyak pasien yang harus di operasi. Beberapa dokter spesialis yang lain sedang berada di luar kota, sehingga yang mengoordinasikan semua pasien hanyalah sedikit dan salah satunya adalah aku. Tak ada satupun respon dari Kak Miran kecuali dengan senyuman. Aku tahu bahwa apa yang aku lakukan ini tidak sepadan dengan apa yang dilakukannya dulu.

Wanita separuh baya itu pun pulang dan membawa kembali rantang makanannya. Begitupun dengan aku yang harus kembali pada wajah lesu masuk ke dalam ruanganku. Tak sengaja aku melirik sebuah foto usang zaman dulu. Terlihat kelima saudaraku disana dan Kak Miran yang sedang menggendongku. Tak lama, mata ini meneteskan air mata yang membasahi pipi.

Seketika pikiranku mengingat dimana masa dimana aku lahir pada 27 tahun silam. Saat itu aku lahir dari orang tua yang lengkap. Kala itu aku diberikan nama Mirdad Anugerah. Namun, disaat umurku 10 hari 8 jam, tuhan mengambil ibuku. Dimana kakak-kakakku masih di usia belia. Pada saat itu kakak sulungku, Kak Miran masih menduduki bangku sekolah dasar kelas 5 dan tepat berumur 9 tahun.

Sejak sepeninggal ibu kami, ayah kamilah yang berperan dalam merawat kami. Tak tanggung-tanggung beliau menjaga dan menghidupi kami . Dimulai dari matahari menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Ayah kami menjadi koki untuk janu dibantu Kak Miran selepas beliau berkebun dan bertani sampai senja mendatangkan kerinduan. Kemudian, malamnya beliau mendongengkan kami hingga terlelap tidur dengan pulas. Belum lagi kalau aku bangun di waktu ayahku istirahat karena pipis di celana, ingin minum susu dan lain sebagainya.

Semuanya sudah dituliskan dalam kitab kekal-Nya. Begitupun kehidupanku. 10 bulan setelah ibuku menghadap-Nya. DIA mengambil ayahku dan meninggalkan kami berlima keadaan masih membutuhkan sosok orang tua.  Pada saat itu kami berlima tidak tahu apapun, akan tetapi Kak Miran yang 9 tahun, dia dipaksa oleh keadaan untuk mengerti akan keadaan. Dimana dia harus mengurusi keempat adiknya yang masih sangat kecil. Iyahh, karena kedua orang tua kami adalah anak tunggal maka tak ada seorangpun ingin mengurusi ataupun mengadopsi kami.

Di hari-hari kematian ayah. Kak Miran yang seharusnya bermain dan bersekolah malah menjadi seorang ibu yang sekaligus ayah untuk adik-adiknya. Setiap selepas subuh, dia mencuci di sumur belakang rumah kami, lalu bolak-balik mengambil air sampai semua baskom dan tempat penampungan air penuh, kemudian Kak Miran masak dengan bahan seadanya dan sayur yang tumbuh liar di belakang rumah kami, memandikan adik-adiknya dan kemudian menyuapi kami, lalu mencari uang demi menghidupi kami.

Dengarkan Bisikan Langit Biru 3

Kak Miran banyak berkorban demi kami. Dia putus sekolah demi mencari pekerjaan dan menyekolahkan kami. Terbayang betapa pedihnya kehidupan Kak Miran kala itu. Kerasnya kehidupan yang dia harus lalui sendirian tanpa seseorang disampingnya, tapi hal ini menjadikannya dewasa dikala umurnya masih terlalu belia.

Delapan tahun Kak Miran menggeluti aktivitas yang semestinya belum dia lakukan. Seorang pekerja membuat kasur yang hanya mendapatkan upah 3000 rupiah per minggu pada waktu itu, mampu menabung di setiap 1000nya untuk modal usaha. Di usianya yang 17 tahun dia menjual pakaian ukuran anak-anak dan keliling kampung. Lagi-lagi untungnya bukan untuk dia melainkan untuk saudaranya.

Terkadang usahanya tidak semujur yang dia pikirkan. Dia pernah kemalingan, baju jualannya pernah dibakar oleh oknum yang iri dan dia juga pernah difitnah mencuri. Tapi karena semangatnya dia mampu menyekolahkan adik-adiknya hingga ke luar negeri.

Kami adiknya selalu ingin sekali membantu beban hidup yang harus dipikulnya, tapi Kak Miran selalu marah ketika kami ingin membantunya. Terkadang kami sampai harus sembunyi-sembunyi mengamen di tempat umum dan diam-diam pula memasukkan hasil ngamen kam dicelengan ayam Kak Miran. Sungguh kerjasama yang sangat sempurna dari keempat adiknya.

Tibalah dimana si kembar Kak Feby yang merupakan anak kedua dan Kak Rian yang merupakan anak ketiga bersekolah ke Negeri Sakura. Negeri yang dimana terkenal dengan canggihnya teknologi dan pendidikan yang maju. Mereka berdua menuntut ilmu dengan jurusan agrobisnis dengan beasiswa dan meninggalkan kami bertiga di kampung. Terlihat Kak Miran pecah menumpahkan air mata di kala itu.  Ia merasa berat harus ditinggal adiknya ke luar negeri.  Lalu, si kembar berjanji untuk kembali ke tanah air dan menemui Kak Miran apabila telah selesai menuntut ilmu.

Dengarkan Bisikan Langit Biru 4

Hari tanggal 25 Juli 2010, aku harus berangkat meninggalkan Kak Zul yang merupakan anak keempat dan Kak Miran untuk terbang demi melanjutkan pendidikanku di Negeri Tirai Bambu karena beasiswa kedokteran. Kak Zul tidak bersekolah ke luar negeri sebab dia tidak tega meninggalkan Kak Miran seorang diri di kampung sehingga Ia memilih berkuliah di Universitas Gadjah Mada jurusan Ilmu Hukum dengan program beasiswa.

3 tahun setengah, aku harus menjalani studi di negeri orang yang berbeda budaya dengan tanah air. Disaat aku berada disana. Satu pesan yang sangat aku ingat dari Kak Miran yaitu ketika disana dan kamu sedih karena masalah, kamu gundah dan lelah tapi tidak tahu mau apa dan bagaimana, disitulah kamu perlu mendengarkan bisikan langit bahwa Allah selalu ada buat kita. Ketika kamu mendengarkan bisikan itu, kamu jangan lari tapi kamu hanya melemparkan doa ke langit, dan percayalah bahwa Allah akan memeluk doamu.

Tiba-tiba seorang menepuk bahuku. “ Dok, kok nangis?” kata seorang anak kecil berkursi roda. “Eh, Rey.” Dengan nada kaget dan mengusap air mata, aku balik dan menatap anak itu. Rey melihatku melamun dibalik jendela ruanganku sehingga dia masuk dan menegurku. Takut aku kesambet katanya. “Dokter tidak apa-apa, dek. Dokter hanya sedikit lelah.” Kataku pada Rey.

Dengarkan Bisikan Langit Biru 5

Dengan senyuman aku memberikan benih melati pada anak pengidap gagal ginjal itu. “Rey harus rawat benih ini, jadi Rey harus kuat lawan penyakitnya Rey.” Anak yang berurusan dengan siuman setelah cuci darah itu hanya mengangguk tersenyum dan mengusap air mataku yang tak sengaja mengalir melihat anak ‘berkulit putih itu.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Naufal Luthfi Afif Habibullah

   

Seorang perangkai kata dan penggiat literasi dengan penuh impian yang perlu diperjuangkan.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments