Destinasi Wisata Rawa Pening dan Asal-Usul Legenda Rawa Pening

Destinasi Wisata Rawa Pening dan Asal-Usul Legenda Rawa Pening 1

Kota Semarang memiliki banyak destinasi wisata terkenal indah dengan panorama alamnya yang menajubkan. Salah satunya yanh paling terkenal adalah Rawa Pening merupakan danau yang luas lengkap pemandangan yang membentang di empat kecamatan Kabupaten Semarang, yaitu Ambarawa, Bawen, Tuntang, serta Bawen.

Rawa pening memiliki luas sekitar 2.670 hektar membentang luas. Jika kalian melewati jalur alternatif Kota Salatiga, kalian akan disuguhkan pemandangan indah Rawa Pening. Namun dibalik pemandangannya yang indah, Wisata rawa pening menyimpan cerita legenda, sering dinamakan Legenda Rawa Pening.
Legenda rawa pening mengisahkan seorang bernama Ngasem, mengisahkan perempuan bernama Endang Sawitri yang telah melahirkan seorang anak berbentuk naga. Naga yang bisa berbicara seperti halnya manusia itu bernama Klinthing.

Ketika menginjak dewasa, Klinthing menanyakan kepada bapaknya bernama Ki Hajar Salokantara sedang semedi di Pegunungan Telomoyo Salatiga. Barulah ia diijinkan untuk menjenguk ke tempat ayahnya bersemedi, dengan membawa klinthingan yang merupakan peninggalan bapaknya. Kemudian ia menyerahkan barang itu kepada ayahnya memastikan bahwa ia benar-benar anaknya dari bapaknya.

Kemudian ayahnya meminta Klinthing memutari gung telomoyo, akhirnya bisa barulah, Klinthing diakui sebagai anaknya. Ki Hajar Salokantara lalu menyuruh Klinthing untuk bersemedi di dalam lereng gunung di hutan.

Kemudian Klinthing pun menyanggupi perintah ayahnya. Dan setelah itu Klinthing bertapa di lereng hutan tersebut. Kemudian sesaat setelah itu di suatu penduduk Desa namanya Desa Pathok mengadakan pesta sedekah bumi setelah masa panen.

Kemudian warga berbondong-bondong meramaikan pesta tersebut dengan mencaru hewan untuk di sajikan dalam pesta. Namun hal aneh terjadi, tak satupun warga menemukan hewan untuk diburu.

Warga malah menemukan seekor naga besar, kemudian memotong dagingnya dan di bawa untuk disajikan dalam pesta. Namun ketika pesta mulai diadakan, kuncuk seorang anak yang merupakan jelmaan Klinthing baru.

Niat anak tersebut juga ingin menikmati pesta tersebut, namun ada warga yang sombong dan jijik melihat anak tersebut, kemudian mengusirnya. Barulah anak itu pergi.

Namun anak itu bertemu dengan seorang janda yang baik hati, menawarkan makanan pesta kepada anak tersebut, dia memberi pesan kepada janda itu kalau terjadi gemuruh besar, nenek harus menyiapkan  barang berupa lesung, janda itupun menyanggupi.

Anak itu kembali mencoba ikut dalam pesta, namun ia kembali ditolak dam ditendang pergi, anak itu kemudian menancapkan lidi ke dalam tanah, dan menantang siapa yang bisa mencabut lidi tersebut, tak ada satupun warga yang bisa mencabut lidi itu, hanya Klinthing atau anak itu yang bisa mencabut, kemudian barulah air deras memancar dan menggenangi warga, semua warga tewas, kecuali Janda yang baik, ia selamat setelah diberi pesan oleh anak itu. Air yang memancar menggenangi warga menjadi rawa yang airnya bening, maka itu disebut Rawa Pening.  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

BLUTS