Di Balik Tawa Jenaka Sesosok Badut Jalanan

Di Balik Tawa Jenaka Sesosok Badut Jalanan 1

Sosoknya lucu, jenaka, riang  dan menggemaskan. Mereka menghibur anak-anak dengan kostum yang gombrang, mencolok dan meriah penuh warna . Kadangkala mereka menari lincah dan melakukan gerakan lucu untuk memancing tawa.  Itulah badut badut jalanan. Mereka biasa mangkal di persimpangan jalan atau  taman hiburan . Yah semua orang tahu, profesi badut jalanan bukan pekerjaan yang menjadi pilihan utama banyak orang. Bahkan badut jalanan merupakan profesi yang terpinggirkan.  Namun, siapa sangka, siapa nyana , di balik keceriaan dan keriangan sosok badut jenaka ada sekelumit kisah pilu dan haru mengenai  perjuangan bertahan  hidup .

Badut badut ini biasa mangkal di Taman , perempatan jalan,pusat keramaian hingga pasar . Ada banyak sekali tokoh tokoh yang diperankan menjadi badut seperti si kembar pintar, Upin Ipin, Marsha, Bo Bo Boy, Pikachu dan lainnya. Mereka bebas menghibur anak anak tanpa takut untuk diamankan Satpol PP atau diganggu preman.

Nah pertanyaannya, mengapa mereka , orang di balik kostum badut ini mau bersusah payah melakoni sosok badut. Alasannya cukup klasik, tidak ada keahlian atau ketrampilan yang mampu diandalkan untuk bekerja di bidang lainnya. Pun dengan latar belakang yang seadanya , tamatan SMA, SMP bahkan SD. Belum lagi alasan susahnya mencari pekerjaan yang kini menuntut setumpuk ijazah, pengalaman dan juga keahlian.

Salah satunya adalah Nur Hasanah, perempuan paruh baya berdarah Banjar , yang ikut memainkan badut bersama anaknya. Nur Hasanah memerankan sosok Shifa, tokoh kartun yang khas dengan sepedanya sedangkan anaknya yang masih SMP melakoni sosok Doraemon, tokoh Kucing Ajaib asal Jepang. Mereka biasa mangkal di Taman Pasok Kameloh Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Keduanya mengaku menjadi badut jalanan untuk meringankan beban kepala keluarga  mencari nafkah. Dari jam lima sore hingga jam delapan malam, Nur Hasanah menjalankan tugasnya. Ditemani sang putri yang meluangkan waktunya dari kesibukan sekolah , mereka berdua memerankan sosok badut yang tampak bergembira dan ceria walaupun di balik kostum ini, mereka seakan bersembunyi dari kerasnya kehidupan. Setiap harinya , Nur Hasanah mampu mengumpulkan recehan uang dari Rp. 60.000,00 hingga Rp. 80.000,00  ribu rupiah. Namun, uang ini pun harus dibagi dua dengan pemilik kostum sehingga Nur Hasanah sehari hari hanya  bisa mengumpulkan uang dari 40 hingga 50 ribu rupiah.

Menjalani profesi menjadi badut jalanan memang gampang gampang susah. Menjadi badut jalanan hanya membutuhkan kepiawaian untuk menciptakan gerakan lucu, menghibur dan menyenangkan. Namun susahnya, kostum badut dirancang sangat tebal sehingga sangat berat untuk disandang. Bahkan ada kostum badut yang beratnya hingga lima  kilogram . Jika dipakai berjam jam tentu saja menjadi beban yang sangat berat bagi pemakainya. Belum lagi karena ketebalan kostum sesok badut, Pemakainya harus menahan sumpek dan panas berada di dalam kostum badut. Inilah yang biasa dirasakan oleh Nur Hasanah. Namun demikian, ia mengaku jerih payahnya ini akan terbayar dengan tumpukan recehan di dalam kardus yang disiapkan ketika usai bekerja. Yah Nur Hasanah dan badut lainya di Taman Pasok Kameloh memang menyiapkan kardus bagi siapapun yang suka rela ingin memberi uang kepada  sang badut. Terlebih jika anak anak ingin berfoto bersama dengan sang badut. Nur Hasanah mengaku, Terkadang ada yang senang berlama lama bercengkrama dengan sang badut, namun tak jarang ada pula anak anak yang justru ketakutan melihat badut karena sosoknya yang besar dan bentuknya yang aneh.  Tantangan berat menjadi badut , jelas Hasanah, adalah ketika hujan datang mengguyur. Tentu saja, para badut harus berteduh agar kostumnya tidak basah tersiram air hujan.

Walau sudah setahun menjalani pekerjaan menjadi badut, Nur Hasanah mengaku tak sedikitpun merasa malu menjadi sesosok badut. Pekerjaan ini selain mendatangkan rejeki secara halal, juga mendatangkan keceriaan karena menghibur banyak anak anak. Menjadi badut jelas Hasanah lebih bermartabat daripada mencuri atau mengemis di jalanan. Hanya saja , Hingga kini Nur Hasanah masih belum terpikirkan beralih pekerjaan lain. Ia masih menikmati asyiknya beraksi dan berakting di balik tebalnya kostum badut.

Yah memang bagi segelintir orang, badut jalanan merupakan profesi yang dipandang sebelah mata. Tapi bagi sebagian orang lainnya, menjadi badut menjadi pilihan pekerjaan yang halal untuk menggantungkan nasib meraup rejeki. Terlebih profesi ini banyak menghibur dan mendatangkan tawa. Apapun itu tak sepantasnyalah kita menghujat atau menyingkirkan mereka yang sedang berjuang mencari sekeping rupiah di jalan yang halal. Dari mereka jugalah kita bisa belajar ketegaran menghadapi kerasnya cobaan hidup dengan sedikit menyisakan tawa dan canda riang. (NATA)

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Christof Nata