Dia Adalah Pagi Untuk Rea


Dia Adalah Pagi Untuk Rea 1

Orang-orang itu memporakporandakan pagiku. Mungkin tak pernah atau bahkan tidak sama sekali terlintas dalam pikiran mereka akan bahaya mengintai akibat kepulan demi kepulan asap yang terbuang dari hidung dan mulut mereka. Mungkin hanya embel-embel kepuasan semata yang menjadi satu-satunya hal yang bisa ditawarkan untuk mereka. Bagaimana dengan orang-orang sepertiku yang selalu diintai oleh ketidaknyamanan akibat ulah mereka?

Aku adalah seorang pejuang yang harus bangun di pagi buta, mendahului ayam-ayam itu, mengurus segala keperluanku sendiri, membantu ibu menyiapkan sarapan, lalu mulai melakukan aktivitas pagiku di jalanan. Berangkat dari rumah jam empat pagi menuju rumah potong ayam. Lepas dari sana, aku menuju pasar untuk mengantarkan lima belas ekor ayam ke lapak penjual pelangganku. Sejak pandemi, otomatis aku membuka pintu rezeki lainnya dengan menawarkan jasa kurir ke lapak-lapak di pasar. Ibuku tanya soal ini. Aku hanya santai saja bilang kalau lapak-lapak di pasar dekat dengan stasiun dimana aku memulai perjalanan pagiku dengan kereta. Ibu hanya mengelus punggungku yang terasa nyeri setiap hari akibat terlalu lama berada di luar rumah.

Yang aneh di hari-hari setelah pandemi ditegakkan di seantero negeriku adalah aku jadi lebih rajin dan semangat memulai hari. Ayah sudah berpulang beberapa bulan sebelum Covid 19 menyerang. Ibu yang pensiunan guru SD sebetulnya mampu membiayai pengeluaran aku dan adik laki-lakiku yang masih SMU setiap bulannya dengan menerima pesanan catering rumahan. Namun, aku kasihan padanya karena sejak Covid merebak omsetnya turun sampai 60 persen. Saat itulah titik dimana aku merasa tak bisa lagi main-main dalam hidupku. Manfaatkan waktu sebaik mungkin.

Sayangnya, pagi ini kumulai hari dengan beribu-ribu saraf malas yang berusaha merangsangku dengan stimulan peculiar-nya.

Rea…hari ini libur dulu deh nganter ayam. Kan tabungan dah cukup buat semesteran…

Begitu beringsut dari selimut, suara lain mengingatkan.

Coba deh itu asap rokok pas ke pasar, pasti bikin kamu nyesek Re…

Aku menghembuskan napas keras hingga ibu yang sedang mengepel lantai mendengar. Ibu selalu sudah membersihkan rumah bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Ah, aku mulai rasa tak enak pada ibu yang sudah kepala 6 ini.

“Kamu sakit, Re?” tanya ibu seraya berjalan dari bibir pintu kamarku ke ranjang.

“Nggak, bu. Cuman merentek dikit. Tapi boong hehe…”

Aku langsung bangkit dari ranjang dan bergerak ala-alam Senam Kesegaran Jasmani. Ibu mencubit pipi chubby-ku yang wah ternyata lumayan sakit. Jari-jemari ibu sangat kecil dengan kulit yang sudah kisut. Seketika rasa hangat mendesak-desak pelupuk mataku. Aku harus semangat hari ini.

Dia Adalah Pagi Untuk Rea 3

Semua pesanan ayam potong sudah kuantar ke dua lapak ayam pelangganku. Tinggal menuju ke stasiun kereta dengan berjalan kaki karena motorku sudah kuparkir rapi di lapangan parkir yang menempel dengan stasiun.

Selesai men-tap kartu kereta aku bersiap melewati palang mesin. Tiba-tiba hembusan keras asap rokok melewati rambutku yang baru keluar dari hoodie jaket. Sontak aku merapatkan masker kain ke hidung. Dari sudut ekor mataku dapat kulihat dengan jelas pria bertudung hitam dan bercelak hitam itu sengaja menyemburkan asap rokok elektriknya ke arahku.

“Sori sori gak sengaja.”

Aku terus berjalan tanpa peduli pada kalimat tak bermakna pria di 25 something itu. Orang-orang di belakangku pun terasa seperti mendorongku dengan sapuan angin dari gerakan badannya yang resah. Aturan jaga jarak itu sulit banget diterapkan di rush hour seperti pagi ini.

Keretaku hampir menutup pintunya ketika aku sampai di peron. Untung ada sedikit macet di pintu. Jika aku terlambat satu detik saja, aku pasti tak akan bisa masuk. Karena masa pandemi, aku bisa duduk di bangku mana saja yang kumau selama tidak ada tanda X-nya. Sebelum duduk, aku sempat melihat wajahku di jendela. Kusut sepenuhnya. Terlihat oily dengan potongan tisu menempel di sana sini. Dan oh emji aroma rokok itu. Meskipun rokok elektrik dengan rasa buah, sepertinya sih, tapi aku tersugesti sesak napas. Untungnya aku tak lunglai tadi. Biasanya aku tak mudah menerima asap apapun di sekitarku, entah asap rokok atau asap bakaran sampah.

“Lara! Lara….woi! Gue di sini!”

Lara teman kampusku yang sejak awal mendaftar di bisnis manajemen. Kita sama-sama tak tahu mau masuk jurusan apa karena memang dana di keluarga pas-pasan. Akhirnya pertemuan di lorong kampus saat orientasi itu memunculkan ide. Saat itu Lara menggunakan tas belanja corak batik untuk membawa makanan dan minuman yang baru dia beli dari minimarket.

“Gue kayaknya mau jurusan bisnis aja, Ra. Secara keluarga gue gak kaya. Jadi harus gue yang bikin keluarga gue kaya dan hidupnya terpenuhi. Masa depan kan gak ada yang tahu ya Ra. Kali kalo gue tau soal bisnis bisa memuluskan jalan gue.”

Lara manggut-manggut mendengarkan. Tak lama kemudian, ia menyerahkan formulir untuk jurusan yang sama.

Tiga tahun setengah sudah terlampaui. Kami masih bersama-sama. Tapi, kadang aku sendirian sih soalnya Lara lagi sama pacarnya. Sepanjang kuliah, Lara hanya berpacaran dengan tiga orang dan entah mengapa ketiga orang itu selalu cemburu padaku. Makanya aku jarang kumpul bareng Lara saat ia bersama pacarnya. Beberapa teman kasak-kusuk saat pacar terakhirnya, David, posting sesuatu di IG-nya. Syok banget aku saat itu. David menuduh aku dan Lara pasangan lesbian karena saking dekatnya. Ternyata aku tahu dari Lara kalau David posesif sama dia. Sampai kalau Lara membicarakan aku di depan David, David sering menunjukkan rasa tak sukanya. Yang lebih parah lagi itu semua hanya Lara yang rasakan. Dua hari setelah Lara bilang begitu, David mendatangiku. Dia menyatakan perasaannya padaku. David mulai membandingkan betapa sulit jalan bareng Lara yang girly banget. David lebih suka aku yang katanya tampak siap di segala kondisi dengan sneakers, tas selempang, celana jeans, dan jaket bomber. David tak selalu bawa mobil. Kadang ia bawa motor sport dimana Lara selalu mengeluh tak bisa menaikinya karena roknya yang pendek. Detik itu juga David kutolak karena terlalu cengeng ia membandingkan aku dan Lara sahabatku.

Satu lagi pria cengeng yang kudengar ceritanya sekarang di aula kampus. Maxis Manuel jadi pembicara yang mengisi kuliah tamu siang ini. Manajer marketing sebuah perusahaan startup rokok elektrik yang berbasis di Cina. Ia mengeluhkan mengapa masih banyak orang yang anti sama asap rokok elektrik. Padahal produsen rokok elektrik sangat memperhatikan betul isi kandungannya sehingga yang menjadi perokok aktif dan pasif tidak terganggu akan asap buangannya.

“Seperti pagi ini saat saya menjajal transportasi baru di Jakarta. Saya sengaja menyemburkan asap vape produksi perusahaan saya ini. Eh, ada lho penumpang di depan saya yang risihnya minta ampun. Padahal ini aroma cherry. Japanese cherry blossom yang enak banget bahkan aromanya hampir menyamai parfum Japanese cherry blossom yang suka kalian pakai. Sampai pas masuk kereta, seeet, itu cewek masih kibas-kibas di depan hidungnya dan lap-lap wajahnya seolah-olah asap vape saya tuh masih nempel.”

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Keringat dingin membasahi dahi, telapak tangan, dan punggungku. Pria yang berbicara itu kan…

“Perusahaan kami sangat berhati-hati dalam menciptakan sebuah produk. Sebelum merilis produk di Indonesia, kami bahkan telah mengikuti GTNF, Global Tobacco and Nicotine Forum secara virtual di September lalu. Kami akan menciptakan produk berbasis teknologi dimana akan ada sistem pengenalan wajah semacam AI gitu di mesin penjual otomatis sehingga anak-anak di bawah umur bisa dicegah untuk membeli vape kami. Di gerai-gerai yang menjual rokok elektrik kami pun telah kami berikan SOP dimana para staf toko harus meminta ID pelanggan untuk tahu apakah si pembeli cukup umur untuk beli vape ini. Segitu pedulinya kami pada lingkungan, masa’ isi kandungannya gak diperhatiin sih? Nah, kalian para mahasiswa bisnis harus peka akan hal ini kalau mau sukses bikin bisnis. Pilih metode yang gak hanya ramah penggunaan, tapi juga ramah lingkungan.”

Jantungku semakin berdegup kencang ketika tepuk tangan riuh rendah bergemuruh di aula. Maxis Manuel, si pria bertudung hitam dan bercelak hitam itu berhasil memukulku telak.

Lara mengajakku minum es kelapa di kantin karena melihat aku sedaang tak baik-baik saja. “Rea, kamu aneh sejak di aula tadi?”

“Kayaknya aku berlebihan, Ra. Eh, tapi kan wajar aku ngibas-ngibas gitu secara aku alergi asap-asapan. Mau wangi kayak cherry kek, tekek kek bodo ama…”

Aku menoleh ke kartu nama hitam yang diletakkan seseorang di meja kantin yang sedang kududuki.

Di atas kertas hitam kartu nama itu bertuliskan MM yang diikuti sederet titel Sarjana Ekonomi, Master Bisnis, dan lain-lain. Tidak ada nama yang tercetak. Begitu aku mendongak…ah dia lagi.

Aku terjaga sekitar pukul 8 malam. Suasana kamar yang remang dan aroma vanila sangat membuatku tenang. Syukurlah aku di kamarku sendiri. Eh, tapi tadi kan aku ada di kantin.

Aku melangkah menuju lantai satu. Semua lampu menyala di bawah dan ada suara ibu, adek Pasha, serta seseorang yang tak kukenal.

“Makasih lho nak El dah anterin Rea pulang. Dia memang udah kelihatan lelah dari kemarin. Kecapekan habis kegiatannya seabrek. Ya kuliah ya anter pesanan ke sana kemari.”

“Saya tahu kok, bu. Rea suka antar ayam pesanan lapak saya.”

Jreeeng!

Aku terkejut mendengarnya. Lapak yang mana? Seingatku tak ada pemilik lapak yang suaranya serenyah dan semuda ini. Aku makin mendekat ke balik dinding pembatas ruang tamu.

“Lapak ayam saya semua Rea yang isi. Baguslah jadi saya gak perlu minta pekerja saya untuk ambil ayam. Hemat waktu dan tenaga jadinya.”

Ibu terlihat sangat mengagumi pria teman bicaranya itu. Sementara Pasha…

“Kak Rea, ini ada Pangeran penolongnya pake ngumpet segala?”

Betapa terkejutnya aku saat kutahu pria itu Maxis Manuel yang akrab disapa El. Aku ingat beberapa lapak di pasar itu sering membicarakan kemurahan hati El. Ada yang dibiayai kelahiran anaknya oleh El. Ada yang disekolahin anaknya sama El. Ada pula yang dicomblangin sama gadis pujaannya melalui El.

“Hai Rea…sudah baikan?”

Jantung ini duh…Norak banget degupnya… Apaan sih. Kayak gak pernah lihat laki ganteng sopan aja. Tapi, dia kan…

Oh iya, aku ingat sekarang. Tadi di kantin pas kulihat wajahnya, tiba-tiba ada asap rokok kretek yang dihembuskan orang lewat sampai di hidungku. Aku terbatuk-batuk dengan rasa hidung super gatal. Dan blank…everything is so dark…aku hanya mendengar suara histeris Lara dan terasa tubuhku terangkat oleh tangan kuat yang sigap. Sebelum aku benar-benar pingsan, aku bisa mencium aroma…cherry blossomJapanese cherry blossom

Sebelum pulang, El sempat meminta izin pada ibu untuk…

Mendekatiku dengan lebih intens? Waduh norak amat ini orang. Dan ibu pun mengizinkannya.

“Rea ini dah siap buat menikah juga lho, Nak El. Jadi tolong yang serius ya?”

“Siap, bu. Lagian saya udah suka Rea sejak pertama kali mengantarkan ayam. Waktu itu pekerja saya belum datang. Jadi saya yang terima ayamnya. Saya pikir anak ini lucu dan istri-able.”

Pasha dapat kesempatan mengolok-olok aku nih jadinya…

Keesokan harinya, di meja makan, Pasha terus menggodaku. Hari ini aku tak beraktivitas dulu karena kepalaku masih pening.

“Asyik nih istri-able. Wah gak nyangka bu, ternyata selama ini Kak Rea chat sama tukang ayam eh juragan lapak ayam se-Jakarta. Dah gitu dia manajer di perusahaan startup. Ketiban rezeki nih kita, bu.”

“Pasha kamu demen banget godain kakak. Udah sana berangkat nanti telat ke sekolah.”

Sebuah pesan WA masuk. Dari nomor tukang ayam yang sering chat sama aku setiap hari. Sebelumnya kuberi nama Lapak MM sesuai nama yang ditulis di lapaknya di pasar, sekarang kutulis… Maxis Manuel Cherry Blossom.

Maxis adalah pagi untuk Rea…

Kamu sudah bangun, cantik?

Dia Adalah Pagi Untuk Rea 4


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Ranisa Khanaf

   

Seorang Pluviophille yang temukan kedamaian dalam rintik hujan.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments