Dia dan Rokoknya yang Kubenci


Dia dan Rokoknya yang Kubenci 1

Suara rintik hujan di luar terdengar menggema di kamarku saat ini. Seolah-olah sengaja datang memberitahuku untuk tidak terlelap lagi.

Dia sudah tidak lagi di sampingmu.

Sebenarnya aku sudah mengetahui hal tersebut. Hangat tubuhnya yang semalam merengkuhku, kini tak kurasakan lagi. Namun dasar keras kepala, aku tetap mencoba meraba-raba sisi kasur di sebelahku.

Dia dan Rokoknya yang Kubenci 3

Dan benar saja, hanya aku seorang yang berada di kasur empuk ini. Sebaliknya, dia yang aku cari, ternyata sedang berdiri mengisap rokok di tangan kirinya. Tangan kanannya tampak memijit-mijit layar ponsel. Kurasa aku dapat menduga siapa yang dihubunginya saat dini hari begini.

Mungkin dia menyadari jika saat aku tengah memperhatikannya karena tak lama kemudian ia menengok ke arahku. Saling bertatapan, aku dan dia larut dalam pikiran masing-masing. Dia, yang aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya saat ini. Dan aku, yang berusaha menerka jalan pikirannya.

Dia menaruh ponselnya ke meja di dekatnya kemudian memindahkan rokok ke tangan kanannya yang sudah bebas. Mataku mengikuti pergerakannya. Lalu ia menghampiriku yang masih berbaring di kasur. Masih dengan menggenggam rokok di tangannya.

Dia dan Rokoknya yang Kubenci 4

Sejujurnya, aku membenci saat dimana ia menghampiriku dengan rokoknya itu.

Kutahan diriku untuk tidak mengeluarkan komentar itu. Dia berkata bahwa akulah satu-satunya wanita yang mampu menerima ia dengan rokoknya itu, membuatku merasa memiliki tempat tersendiri di hatinya.

“Terbangun?” tanyanya. Aku mengangguk tanda mengiyakan. Menggumam paham, dia mendudukkan dirinya di pinggir kasur, lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Mau?” ujarnya menawarkan rokok yang diisapnya kepadaku. Aku menggeleng. “Tidak, terima kasih,” jawabku.

“Apa kau baik-baik saja?”

Mendengar pertanyaan itu, aku menoleh ke arahnya. Aku meraba-raba maksud dari pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulutnya. Apakah ia menyadari kerisauan yang ada di hatiku atau ia hanya sekadar bertanya?

“Kalau aku jawab ‘aku tidak baik-baik saja’, apa yang akan kamu lakukan?” jawabku sembari bertanya balik ke dia.

Dia tidak langsung memberikanku respons. Sebagai gantinya, dia menaruh puntung rokok ke asbak yang berada di atas meja nakas dekat kasur, lalu berpindah posisi menjadi setengah berbaring di sebelahku. Aku hanya memperhatikannya.

Tangan kanannya terangkat ke atas. Rupanya untuk mengusap kepalaku dengan perlahan. Dua bola matanya menatapku lekat-lekat. Kuakui, aku sangat menyukainya saat dia melakukan hal ini.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

“Banyak hal,” jawabku acuh tak acuh.

“Mau berbagi beberapa di antaranya denganku?”

Suaranya saat melontarkan satu kalimat pertanyaan itu sangat menggangguku. Suaranya dalam namun lembut dan penuh perhatian. Aku gusar. Bagaimana jika aku menjadi serakah?

Padahal lelaki ini tahu persis, aku adalah bencana bagi dirinya. Tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha, tidak akan pernah merubah satu fakta.

Fakta bahwa aku tidak dapat berdiri sejajar dengan dirinya. Yang lebih menyakitkan, dia tahu bahwa aku tidak akan pernah cukup baik bagi dirinya tetapi dia tetap merengkuhku dalam tubuh hangatnya.

Betapa egoisnya pria di sampingku ini.

Ragu-ragu, aku akhirnya membuka mulutku. “Aku tahu kamu mencintaiku juga. Seperti halnya aku mencintaimu,”

Dia menatapku dalam-dalam. Memperhatikan dengan seksama tiap kata yang keluar dari bibirku.

“…bagaimana jika aku berhenti mencintaimu?”

Dia hanya terdiam. Tangannya yang tadinya mengusap kepalaku, perlahan berhenti. Aku mengalihkan pandanganku darinya.

Aku tidak keberatan sama sekali jika dia harus pergi dari hidupku. Yang kurisaukan adalah lagi-lagi aku ditinggalkan seorang diri. Seperti dulu, saat semua orang yang kusayangi perlahan meninggalkanku.

Pikiranku terpecah saat dia akhirnya mengeluarkan pertanyaan. “Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”

Aku ingin sekali membalas pertanyaannya itu, tetapi suaraku tercekat di tenggorokan. Rasanya seperti ada batu besar yang menghalangi suaraku untuk keluar. Aku hanya menatap dirinya, berharap dia menangkap pesan bahwa aku serius.

Ah, kenapa semuanya tiba-tiba terasa sangat rumit.

“Kau serius ingin mengakhiri ini semua?”

Aku mengangguk.

“Apa yang kuberikan selama ini belum cukup untukmu?”

Kali ini aku berusaha menjawab pertanyaannya. “Kamu sudah memberikan lebih dari cukup kepadaku. Kapan lagi aku bisa mempunyai pesawat jet pribadi kalau bukan darimu?” ujarku mencoba berkelakar.

Tanpa kusadari, ternyata mataku sudah memanas. Pantas saja suaraku tadi tidak dapat keluar. Kuharap air mata di pelupuk mataku tidak turun saat ini juga.

Untuk menghalau air mataku turun, aku memfokuskan penglihatan dan pikiranku pada dia. Kulihat bola mata hitam legamnya bergetar, menandakan kebingungan dengan tindakanku saat ini. Sebelum ia bertanya kenapa, aku mendahuluinya.

“Tetapi aku tahu. Pada akhirnya, tujuan akhirmu bukanlah diriku. Tetapi dia,”

Kulihat pupil matanya membesar. Dia pun tidak memberikan respons apa pun.

Saat itulah aku tahu bahwa aku melakukan hal yang tepat. Jika sebelumnya aku sering mengabaikan keberadaan cincin di jari manis kirinya, kini aku tidak bisa lagi melakukan itu. Aku harus menerima kenyataan di depan mataku.

Dia dan Rokoknya yang Kubenci 5

Dia sudah memiliki orang lain.

Mataku semakin memanas rasanya saat mengingat orang lain itu lebih baik dan lebih sepadan untuk bersanding dengan pria di hadapanku ini.

Aku tersenyum pahit. Kuharap senyumku masih tampak manis di matanya.

“Terima kasih,” ujarku. Dia memilih menundukkan pandangannya.

“…telah menerimaku,” sambungku. Sepertinya dia tahu kata-kata apapun tidak akan mampu mengubah keputusanku kali ini. Kuraih kedua sisi kepalanya agar aku dapat melihat seluruh fitur wajahnya, yang sangat kusukai, untuk terakhir kalinya.

Kudaratkan kecupan di pipi kanannya lalu berbisik,

“Aku bersyukur telah mengenalmu.”


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Kaya Skavinia

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments