Dia itu… Gak Jelas!

Dia itu... Gak Jelas! 1

Menurutku, setiap manusia yang hidup di bumi pasti pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Merasa bahagia karena kebahagiaan orang lain, tersenyum bahagia bukan cuma demi diri sendiri, tapi karena sosok lain yang terus bergentayangan di pikiran. Untuk sebagian orang di dunia, jatuh cinta bukan hal yang berat untuk dijalani, dan kisahnya akan semulus jalan tol. Begitu pula sebaliknya, sebagian orang merasa bahwa jatuh cinta adalah hal paling rumit untuk di hadapi. Entah karena tidak berpengalaman, atau justru karena sudah pernah mengalaminya.

Sialnya, aku terhempas ke satu titik, di mana aku tak diberi pilihan untuk tidak jatuh cinta pada sosok yang berpengalaman pahit mengenai hubungan antar perasaan manusia. Yang lebih mengenaskan lagi, aku yang bahkan tidak tahu tentang kisahnya dulu, dikaitkan dengan masa lalunya. Dari sini sudah terlihat, bahwa dia tidak jelas!

Aku masih ingat pertama kalinya pandanganku bertemu dengannya. Suasana di mana semua siswa di sekolah berlarian masuk ke dalam kelas, sedangkan aku dan dia tertahan di depan gerbang sekolah, menatap datar wakasek kesiswaan yang menatap balik dengan ekspresi menyeramkan.

“Sadar kalian terlambat?!”

“Sadar, pak.” Aku menjawab dengan santai. Dia mengangguk di sampingku.

“Jalan jongkok sampai kelas!” perintah Pak Yana.

“Baik, terima kasih, pak.”

Tanpa bersuara, aku berjongkok dan mulai berjalan ke arah kelasku. Sial, kelasku saat itu berada di gedung dua lantai dua. Tasku yang berat bagai penampung bongkahan emas memperlambat gerakanku. Kakiku mulai kebas, tapi langkahku sudah lebih jauh dari dia yang tadi berdiri di sampingku. Aku menoleh untuk memastikan. Ya… hanya memastikan apa dia masih kuat jalan jongkok sampai ke kelasnya dengan kaki jenjangnya yang kurus. Akan tetapi, tampaknya dia baik-baik saja meski kulihat dia seperti meminta tolong padaku, namun sadar tak ada yang bisa aku lakukan untuk membantunya. Akhirnya, aku hanya berjalan jongkok dengan serius hingga kelasku.

“Sial, memang seharusnya aku tak sekolah di sini. Flat banget hidupnya!” rutukku. Karena meskipun aku melakukan pelanggaran, hukumannya tak seberapa menurutku saat itu.

Dan ternyata, hukumannya bukan itu. Bukan sekadar pegal karena jalan jongkok dari gerbang depan sekolah sampai gedung dua lantai dua menggunakan rok sambil menggendong tas. Tapi fenomena di mana pandangan mataku dengannya saling bertemu, menyiptakan sebuah ruang berbeda di otak, lalu membuat perintah pada tubuh seolah aku harus memilih untuk mencari tahu tentangnya atau menunggu hingga alam semesta memaksa kami berdua bertemu kembali untuk perkenalan yang lebih ‘resmi’ dari pertemuan antar siswa yang terlambat.

Aku memang tidak menunjukkan rasa penasaranku pada orang-orang, tapi setan pasti menertawakanku yang setiap kali keluar kelas entah untuk ke kantor guru, ke kantin ataupun ke toilet pasti memperhatikan wajah orang-orang di sekitarku dan melirik nametag-nya. Sungguh bodoh. Aku tidak tahu di mana kelasnya, apalagi namanya. Wajahnya pun hanya samar, yang kuingat jelas adalah matanya yang menawan. Aku suka matanya. Caranya memandang dunia dengan sederhana.

Hingga tiba satu hari, di mana temanku datang membawa temannya ke hadapanku saat sedang berada di kantin. Aku sedang menikmati hidangan makan siang, dan Mingyu berdiri di depanku dengan sosok yang kukenali.

“Val, gue mau kenalin calon anggota ekskul kita. Ini Vernon,” ucap Mingyu.

Netraku tak bisa lepas dari sosok yang berdiri di depanku. Sosok yang selama berhari-hari kucari. Aku mengulurkan tanganku, mengajaknya berkenalan.

“Gue Valerie. Kelas 10-2. Salam kenal.”

Ia membalas uluran tanganku dan menjabatnya. Jantungku tak dapat kuatur degupnya, semakin lama semakin kacau.

“Kita makan di sini, ya?” Mingyu meminta izin lebih dulu yang langsung kusambut dengan anggukan antusias.

“Silakan, kosong kok di depan gue sama Eve.” Aku melirik Eve, ia mengedipkan sebelah matanya.

Aku mengangguk tanpa melirik sedikitpun pada Eve yang ada di sebelahku. Tatapanku masih memuja manusia yang duduk di depanku, membuka kotak bekalnya dan sibuk membersihkan sendok serta sumpitnya. Bisa-bisanya ada manusia se-menawan ini. Rasanya seperti bertemu dengan pangeran dari sebuah kerajaan yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa.

Dan semenjak hari itu, hari-hari berikutnya takkan pernah lagi terasa sama. Seperti sebuah grafik, yang awalnya statis, semenjak hari itu semua bergerak dinamis. Mengikuti seluruh candaan alam semesta beserta ledekannya.

Bersambung…

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.