Dia Yang Menjadi Suamiku


Dia Yang Menjadi Suamiku 1

“Saya terima nikah dan kawinnya Adeeva Afsheen Myesha binti Bapak Abdullah Afsheen Rabbani dengan mas kawin yang tersebut dibayar Tunai!!”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“SAH!!!”

Aku meringis saat kalimat ijab kabul itu keluar dengan lantang dari mulut seorang lelaki yang kini tengah duduk tepat disebelahku. Jantungku berdegub tidak beraturan didalam sana. Memompa seluruh aliran darahku dengan sangat cepat, membuat seluruh darahku merambat naik hingga terasa sampai keubun-ubunku. Sekujur tubuhku sudah sangat basah karna keringat dingin dan nafasku pun sudah tidak beraturan seperti habis lari maraton dilapangan Gelora Bung Karno. Haduh rasanya aku pengen pingsan sekarang juga, kuremas tanganku yang saling bertautan dengan cemas. Sekilas dapat kudengar dengan sangat jelas saat dia mengucapkan kalimat Alhamdulillah karena telah berhasil mengucapkan kalimat yang sangat sakral tersebut dengan sekali tarikan nafas, anehnya ada perasaan lega dan bangga yang menggelitik hatiku.

Dan aku memberanikan diriku meliriknya sekilas, dia yang kini telah Sah menjadi mahramku itu tengah tersenyum sangat lebar. Bahkan senyumnya terlalu lebar menurutku, seolah-olah dia tengah mengungkapkan kepada semua orang betapa bahagianya dia  hari ini. Walaupun aku melihat ada beberapa gelas kosong air mineral yang telah dia minum sebelum dimulainya acara akad nikah ini, ya dia pasti merasakan gugup yang luar biasa menghadapi hari besar baginya dan tentu juga bagi diriku sendiri.

“Ayo dicium dulu tangan suaminya nak Adeeva,”

Eh?dicium?apanya yang dicium?

Aku terdiam bingung karna beberapa saat aku melamun karna pikiranku melanglang buana entah kemana. Aku menatap bapak penghulu yang berada dihadapanku dengan wajah yang tidak yakin, mataku mengerjap-kerjap kebingungan.

“Loh kok malah bengong?ayo dicium tangan suaminya dulu,”

“Eh, iya pak”

Tubuhku seketika terasa sangat kaku, mataku ikut melebar saat bapak penghulu kembali menyuruhku untuk mencium tangan suamiku. Sungguh jantungku terasa berpacu sangat cepat,  ketika aku mulai mencium tangan lelaki yang telah Sah menjadi suamiku. Setelah kami selesai menandatangani surat-surat nikah yang tadi telah diberikan oleh bapak penghulu,  akhirnya aku telah sah menjadi seorang istri dari lelaki yang telah aku impi-impikan untuk menjadi istri darinya. Kami berdua tidak melalui tahap berpacaran karna didalam agamaku tidak diajarkan untuk berpacaran melainkan proses ta’aruf, kami berdua pun melewati proses ta’aruf tersebut. Sebelumnya aku dan dia tidak terlalu dekat hanya kenal biasa saja, aku hanya mengenal dia sebagai sahabat dari kakak- sepupuku yang bernama Muhammad Rizal. Tanpa sepengetahuanku dia dengan berani menghadap langsung kepada ayah serta ibuku untuk meminta aku menjadi istrinya dengan proses yang sangat cepat bagiku, hanya dalam waktu dalam 5 bulan untuk kami mengenal satu sama lain. Aku menatapnya dengan ragu, yaa perbedaan usia diantara kami terpaut jarak 7 tahun saat ini suamiku “eh sudah bisakah aku menyebutnya sebagai suamiku?” ucapku dalam hati. Saat ini suamiku berusia 29 tahun sedangkan aku 22 tahun, perbedaan usia bagi kami tidak menjadi masalah yang terlalu penting karna menurutku menikah dengan lelaki yang berusia diatasku  adalah hal yang terbaik yang pernah aku rasakan. Aku melihat pancaran cintanya padaku begitu terlihat di kedua mata bening laki-laki yang bernama Adnan Khiar Ardhani, pantulan wajahku terlihat dikedua bola mata beningnya cukup menjelaskan bahwa hanya ada aku disana, di dalam hatinya. Aku tersenyum saat merasakan kedua ibu jarinya dengan lembut menghapus jejak-jejak air mata yang masih saja betah menetes dipipiku, tanpa terasa aku kembali terisak haru. Dadaku semakin terasa sesak saat aku merasa beruntung sekali mendapatkan suami sepertinya.

Aku teringat wejangan-wejangan dari ayahku tepat sebelum acara akad nikah dilaksanakan, ayah berkata dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru “Deev, gerbang kehidupanmu baru dimulai detik dan hari ini juga seterusnya, kedepannya akan ada seseorang yang selalu menggenggam tanganmu disaat susah dan senang nanti, akan ada tempat berbagi masalah juga sandaran ketika kamu sudah sangat rapuh. Hatimu adalah wadah dari semua keluh kesah mu, perasaanmu adalah tempat, kalbumu adalah ruang untuk menampung segala masalahmu nantinya. Dan jangan kamu  jadikan hatimu itu seperti gelas yang hanya menampung sedikit sekali masalah yang  nantinya akan meluber kesegala tempat, tetapi jadikanlah hatimu laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan yang ada itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan untuk kehidupanmu kedepannya, karena didalam pernikahaan dan didalam sebuah keluarga pasti akan ada masalah yang hadir silih berganti.”

“Ayah hanya bisa memberikanmu wejangan-wejangan seperti ini untukmu, karna ayah sangat beruntung memiliki putri seperti dirimu, yang sejak dulu selalu mandiri dengan caramu sendiri. Siap tidak siap ayah tau pasti suatu saat akan ada seorang pria yang memintamu untuk dinikahi, tugas ayah sebagai orang tua telah selesai untuk membimbingmu menjadi anak yang sholeha nak.” Aku terdiam dengan menahan seluruh tangisan yang akan tumpah saat itu juga.

“Selanjutnya akan ada nak adnan yang akan menggantikan tugas serta tanggung jawab ayah yang selama ini ayah berikan kepadamu deev, jadilah istri yang sholeha untuk suami mu, selalu mendengarkan apa kata suami mu.” Aku sudah tidak kuat berhadapan dengan ayah yang sudah berlinang air mata, langsung saja aku memeluk ayah dengan kasih sayang yang selama ini tak pernah aku ungkapkan kepada ayah karna gengsiku yang terlalu besar.

“No matter how old a woman, she will always be her daddy’s little princess”

Mas Adnan yang akan menggantikan tugas ayah, dia yang akan menanggung seluruh kebutuhan hidupku. Dia juga yang akan membimbingku seumur hidupku, aku siap mengabdi untukmu mas seumur hidupku. Saat ini kami tengah melakukan ritual sungkeman, aku dan mas Adnan bergantian sungkem dengan ayah, ibu, serta  mama, papanya mas Adnan, lagi-lagi aku tak kuasa menahan tangisanku saat berhadapan dan berpelukan dengan ibu.

Hari ini para tamu undangan sangat ramai, mulai dari kolega-kolega ayah serta rekan bisnis mas Adnan, teman-temanku juga turut hadir dan paling heboh. Aku juga heran kenapa teman-temanku bisa seramai itu dengan lelucon-lelucon mereka yang sampah abis, ya itu juga karna memang dikantor kelakuan mereka tak ada bedanya tapi aku sangat bahagia hari ini. Aku ingin berkata pada dunia bahwa aku bahagiaaaa hari ini dan aku bersyukur mendapatkan suami seperti mas Adnan, aku tak pernah menyesal menikah muda dengan seorang lelaki yang terpaut usia cukup jauh. Aku hanya ingin bilang “Kalau kalian berfikir menikah itu harus semata-mata karena cinta dan memandang usia, haaah, aku iba sekali pada siapapun yang punya pemikiran dangkal semacam itu.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sofyan Sauri

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap