Diam di Rumah, Selalu Bikin Tenang

Diam di Rumah, Selalu Bikin Tenang 1

Ada keajaiban yang mampu memberikan ketenangan dari bilik rumah, hatta sesempit petak kandang kambing sekalipun. Ini soal ketenangan hati, tak pernah ada logika yang memiliki kemistri dengan bentuk-bentuk materi. Soal hati, maka segala yang beraroma profan menjadi tak penting. Makanya, Nabi Saw bersabda, “Baiti jannati…” (rumahku [keluargaku] adalah surgaku [kebahagianku dan kebanggaanku]).

Bukan tanpa alasan dawuh agung itu beliau hadirkan. Sebab, sepanjang hidup beliau penuh selaksa surga. Di rumah beliau yang (menurut) ukurannya amat sederhana dan dengan prabot pelengkap yang seadanya.

Lagi-lagi ini soal hati, soal ketenangan jiwa, tentu sama sekali tak berkorelasi dengan panjang kali lebar. Ketenangan hati selalau beriringan dengan “rasa” (dalam istilah Arab: dzauq) dan isinya, yang sering disebut sebagai perasaan (dihn). Dan, keduanya lahir dari orang-orang dekat dan respons diri mengeksplorasi sikap mereka.

Oleh sebab itulah, Syekh Aidh Al-Qarni berkata, “Rumah adalah pelukan termesra untuk jiwa yang rindu akan ketenangan.”

Ini pesan Sufyan Al-Tsauri, tokoh ulama terkemuka era tabiin, ketika memandang kehidupan yang tak lazim di zamannya, “Hadza zamanu al sukut (sekarang zaman diam), wa luzumu al buyut (menetapi /diam di rumah), wa al ridha bi al qut (menerima dengan rela pemberian dari Allah Swt yang apa adanya) ila an tamut (sampai kematian datang).

Jika di zaman Al-Tsauri (yakni ratusan tahun lalu) keadaan sudah kacau balau dan ulama sekaliber Al-Tsauri sendiri memandang bahwa “di luar” sudah bukan lahan yang subur untuk kita tempati, lalu bagaimana dengan keadaan sekarang?

Keluar halaman saja sudah petaka mengintai, bahkan di dalam rumah saja kita diserbu konsumerisme dan esek-esek maksiat lewat layar kaca bernama tivi dan sepetak kecil disebut android.

Maka tentu, lebih dipertajam lagi pesan Al-Tsauri tadi menjadi potongan terakhir, “ila an tamut”, yakni lebih baik mati dibanding hidup diserbu deretan “omong kosong”. Tapi tidak, psimisme bukan paham yang layak untuk kita singgahi sebagai muslim, maka nilai antipasi plus ekstra hati-hati perlu kita genggam sepanjang hayat.

Lalu, kaedah Al-Ghazali di sini perlu kita semai, yaitu “uzlah”, mengucil dari keramaian adalah sarana mapan terhindar dari ragam “petaka” tadi.

Apa yang menjadi kekhawatiran Sufyan Al-Tsauri di atas, setelah menatap kuyuh masanya yang sarat fitnah? Bentuk ancaman itu melanda cukup deras dan membahayakan masa-masa dimana kemunafikan menjadi trendy. Sebabnya, Al-Tsauri risau balau atas kondisi zaman yang melingkupinya ratusan tahun lalu dengan kalamnya.

Lalu, merisaukan keadaan, juga pernah dilayangkan Al-Ghazali dalam kitabnya, Minhaju al-Thalibin, beliau mengutip syair, “Ini adalah zaman yang memberi rasa khawatir terhadapku dalam kalimat yang pernah terucap oleh Ka’ab dan Ibnu Mas’ud. Zaman di mana banyak orang yang menolak kebenaran dan jarang sekali menolak kesesatan dan kebiadaban. Zaman yang serupa dengan orang-orang buta dan tuli. Di zaman ini iblis berteriak nyaring, jikalau zaman ini masih abadi dan tidak berubah, maka mayat-mayat akan terus menangis dan bayi-bayi yang lahir tidak akan pernah gembira”.

Kemudian, apa yang perlu kita katakan untuk menilai zaman yang kita singgahi ini? Untuk itu, diam di rumah itu menenangkan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin