Diantara Takdir dan Senyuman


Diantara Takdir dan Senyuman 1

Aku berdiri di depan gerbang sekolah memandangi kertas yang ku pegang. berjalan penuh kekhawatiran, melihat rumah ku yang sepetak lagi sampai. Aku melangkahkan kaki ku menuju ke dalam rumah. Tak disangka ayah dan ibu telah menunggu di ruang tamu, terlihat mereka memiliki sesuatu yang ingin dikatakan padaku. Aku menghampiri mereka ketika mereka melambaikan tangan kepadaku dan memanggilku. Aku pun duduk menunggu ayah dan ibu mengeluarkan kata-kata. Dan ketika itu hal yang tidak aku inginkan terjadi.

“Nak, kamu sekarang sudah lulus sekolah, ayah sama ibu berencana menjodohkan kamu sama anak teman lama ayah.” Kata ayah tanpa ragu.

“Iya, teman lama ayah ini dia punya anak, anaknya pun sudah sukses dan siap menimang kamu.” Lanjut ayah.

Aku kaku, badanku terasa dingin, entah apa yang aku pikirkan, melewati setiap detik dan kata demi kata yang dikatakan ayah terasa aku terjebak dan tak bisa keluar. Ibu menggenggam tanganku, dia sadar jika tanganku sangat dingin membuatnya bertanya apa yang sedang terjadi padaku.

“Kenapa, nak?” tanya ibu.

“Kalau kamu tidak mau, ayah bisa carikan  kamu calon yang kamu mau, yang memang punya andil warisan dalam keluarga ini.” Kata ibu.

Aku menghela napasku berusaha tenang dan mulai berbicara, “ayah, ibu, Nisa mau nunjukin sesuatu.” Mereka menatapku penuh perasaan dan wajah yang ragu.

“Nisa dapat ini di sekolah tadi, ini surat izin beasiswa dari universitas di ibu kota. Nisa mau melanjutkan sekolah seperti kakak” kata ku meyakinkan mereka.

Ayah dan ibu saling bertatap ketika aku selesai mengatakannya, kemudian ibu pun mengatakan sesuatu.

“Nisa, kamu itu perempuan, seorang wanita itu alangkah baiknya menikah. Dan tetap di dalam rumah, seorang wanita juga tidak diwajibkan menuntut ilmu terlalu tinggi.”

“Tapi, bu..” sela ku.

“Nisa dengarkan ibumu. Ayah sama ibu juga pengen kamu punya masa depan yang baik yang bisa melanjutkan wasiat keluarga ini.” Jelas ayah.

“Nisa ngerti, yah, tapi kenapa perempuan tidak boleh ikut bekerja, ini bukan zaman penjajah lagi.” Yakin ku pada kedua orangtua ku.

“Nisa-“

Ucapan ayah terpotong akan dering telepon yang berbunyi. Ayah seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia menahannya dan memilih mengangkat telepon.

Aku berdiri lalu pergi menuju kamar, ku dengar sedikit ayah sedang menerima telepon dari teman kerjanya.

Aku menutup pintu kamar dengan pelan, mencoba mengatur arah napasku. Aku menengadahkan kepala, membenturkan sedikit kepala ku ke dinding dan semua nya terasa sunyi seketika. Aku penuh kebingungan, takdir mana yang menyesatkanku, takdir mana yang harus menghambatku. Aku memegang erat kertas tadi, setitik air seketika meluncur di pipiku. Menerimanya? Apa semudah itu? Seakan aku bertahan lama di pujuk jurang dan sengaja jatuh dengan senyuman.

Pagi ini jam 8 seperti ada tamu diluar sana, ibu memanggilku dari dalam dapur, menarikku untuk berbicara empat mata. Ibu terlihat gugup, dengan memegang erat kedua tanganku dia berkata, “Nisa, Ibu minta ini permintaan ibu sama ayah, Nisa harus setuju menerimanya ya?”

Aku melihat mata ibu dengan dalam, “ibu, tapi…” ucapanku dipotong oleh ibu, “Nisa, Ibu mohon.” Ucap Ibu memohon.

Aku dibawa ibu ke kamar dan ibu memberikanku sekotak hadiah, aku membukanya dan terlihat di dalamnya ada satu buah dress yang sangat indah.

“pakailah ini, kamu akan terlihat lebih cantik.” Ibu mengucapkan itu, dengan suara lembutnya.

Aku hanya bisa terdiam termenung tanpa kata, menatap nasib yang entah bagaimana akan terjadi.

Ku langkahkan kaki ku keluar kamar, menuju ruang tamu, tampak sangat jelas keluarga teman ayah ini. mereka terlihat dari keluarga yang terpandang. Aku duduk di samping ayah dan ibu, melontarkan senyuman sedikit demi memberi hormat kepada mereka.

“jadi, bagaimana? Bisa kita lanjutkan?” ucap ayah.

“baik.” Balas teman ayah.

“Jadi, pernikahan bisa diadakan di bulan sebelum akhir tahun, karena tidak terlalu lama dan terburu-buru juga.” Ucap ayah dengan semangat.

“itu juga bisa, lagipula akhir-akhir ini anak saya tidak banyak bimbingan di kampus, dan bisa kita lakukan di bulan November, bagaimana?” tanya teman ayah.

“Ian, sini.” Panggil teman ayah kepada anaknya.

Seorang lelaki masuk kedalam rumah, parasnya tinggi dan berkulit sedikit coklat. Dia berjalan dengan pundak lebarnya membuatnya tampak gagah dan berani dilihat. Aku melihatnya duduk, dia menatapku sangat lama sedangkan aku hanya menundukkan kepala.

“bagaimana, semuanya? Kesepakatannya sudah? Nisa?” tanya teman ayah kepadaku.

“oh iya, tentu saja” ayah membalas pertanyaan temannya tadi mewakiliku. Mungkin takut jika aku berbicara yang aneh-aneh.

12.30 siang, hari ini seharusnya aku pergi ke ibu kota, mempersiapkan segalanya untuk kuliah, tapi semua hanya akan menjadi imajinasiku. Apa yang aku pikirkan, aku memandangi sebuah buku yang tergeletak di atas meja belajarku, meraihnya, dan membuka secarik kertas yang aku simpan berhari-hari yang lalu. Aku meyakinkan hatiku, mengarahkan pikiranku ke dalam logika dan perasaan yang jarang aku rasakan. Aku mengambil secarik kertas dari dalam buku, menulis sepenggal surat dan kutaruh diatas sebuah buku yang ku ambil tadi.

Hari ini, aku meyakinkan hatiku, aku akan melakukan semuanya sendiri dan aku yakin takdir tidak akan mengecewakanku. Namun, aku lah yang akan mengecewakan orang lain. Ayah Ibu maafkan Nisa, Nisa tidak mau berdiam diri. Tuhan memberikan kesempatan kepada Nisa, dan Nisa tidak mau menyia-nyiakannya.

Aku berjalan keluar kamar, ketika orang-orang rumah berada di belakang senyap mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Dan kali ini aku pastikan akan menjadi awal perjalananku.

Beberapa bulan kemudian, aku berhasil masuk ke Universitas di Ibu Kota, dan aku mendapatkan beasiswa lanjutan ke luar negeri. Aku masih memikirkan bagaimana ayah dan ibu ku berada di desa. Mereka berkali-kali menghubungiku, sedikit syok dan kecewa mendengarku membatalkan perjodohan ini secara diam-diam. Akan tetapi, aku tidak pernah luput dari pengawasan mereka. Disini, aku bertemu dengan saudara sepupu jauh ku dari ibu dan aku merasa nyaman, karena dia memberi tahuku jika ibuku mulai menerima keputusanku dan memberiku kesempatan akan kesuksesan ini, meskipun ayah masih kurang setuju dan masih marah kepadaku.

Apa yang terjadi dengan Ian? Aku memutuskan hubungan baik keluargaku dengan keluarganya. Apakah dia jadi menikah dengan wanita lain ketika aku membatalkan perjodohan ini? entah apa yang terjadi, dia dan keluarganya sudah tidak ada hubungan lagi denganku.

Memasuki semester 5 banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan tepat waktu, bolak-balik ke ruang dosen dan mengulangi kegiatan yang sama. Jika bertanya, apakah aku tampak bahagia? Di satu sisi aku membenci diriku, disatu sisi aku bangga dengan diriku. Aku mengecewakan ayahku yang telah membesarkanku dengan membatalkan keinginannya satu-satunya. Di lain sisi, aku bangga karena saat ini lah aku akan menunjukkan ke keluarga ku, jika wanita berhak memiliki hak nya untuk sukses.

Kulangkahkan kakiku dengan semangat setiap harinya, kibasan angin melewatiku dengan sangat mudah tanpa beban dan disaat itulah aku mendengan seseorang memanggil namaku, suaranya sangat asing aku terhenti dari jalanku sejenak dan menoleh kebelakang. Seorang pria dengan pakaian formal, berbadan tinggi dan tegap menatapku dari kejauhan. Aku mencoba melihatnya dengan jelas tetapi terhalang dengan mahasiswa-mahasiswa lain dan ketika semua tampak jelas disitulah aku melihat seseorang yang sempat aku lihat sebelumnya.

“Nisa.” Panggilnya.

“Ian?” ku jelaskan namanya untuk meyakinkan jika itu dirinya, sungguh kebetulan yang tersusun rapi. Ku lihat wajahnya yang bersinar dan senyuman kecil dari wajahnya membuat wajahnya tampak sangat sempurna. Aku menatap namanya, Arian.

Lengkah kakinya mendekat ke arahku dan dia angkat bicara. “Apa kabar Nisa?” kedengar dengan jelas suara lembutnya untuk pertama kali.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nurul Izzah

   

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap