Dimana Pancasila Setelah Lahir


Dimana Pancasila Setelah Lahir 1

Tanggal 1 Juni pemerintah menetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Memang bisa diterima, karena pada hari itulah rumusan filsafat negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia dikemukakan Bung Karno dengan lima prinsipnya. Pada hari itu pula, lima prinsip itu diberi nama Pancasila, dengan mendapatkan sambutan yang bergemuruh dari seluruh anggota BPUPKI sebagai tanda persetujuan. Setelah itu, nama dan lima prinsip Pancasila tersebut tidak mengalami penambahan atau pengurangan, kecuali disempurnakan tata urut dan bobot redaksinya.

Menjadikan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila mestinya tidak sekedar menambah hari libur nasional dan seremonial kosong belaka. Peringatan Hari Lahir Pancasila harus dijadikan momentum untuk memperkuat komitmen bangsa Indonesia dengan menjadikan Pancasila sungguh-sungguh sebagai “filsafat dasar” dan “pandangan hidup” negara.

Memahami kedua istilah tersebut sangat penting sebagai titik pembumian Pancasila. Filsafat berkonotasi sebagai pemikiran rasional dan sistematis. Pandangan hidup berkonotasi sebagai pandangan yang relatif lebih personal, eksistensi dan histori. Filsafat ada dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan pandangan hidup ada dalam lingkungan kehidupan.

Dimana Pancasila Setelah Lahir 3

Nilai-nilai pandangan hidup dari Pancasila, digali dari berbagai kearifan suku bangsa, keagamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai pondasi bagi negara Indonesia merdeka. Agar pandangan hidup berbagai suku bangsa dan golongan negeri ini tidak berdiri sendiri, tetapi mengandung kesatuan dan hubungan yang bisa menjadi dasar dan haluan bersama, maka pandangan hidup tersebut perlu dirumuskan secara sistematis dan rasional hingga menjadi pandangan hidup yang ilmiah. Pancasila sebagai pandangan hidup yang ilmiah itu dijadikan sebagai ideologi negara.

Pancasila sebagai ideologi sesungguhnya telah memiliki landasan keyakinan yang jelas dan visioner. Keyakinan itu berlandaskan cinta dan kasih, dengan segala keragaman keyakinan agama, asal manusia, suku bangsa, aliran politik dan kelas social. Semangat cinta kasih itulah yang disebut dengan istilah “gotong royong”. Pancasila sebagai ilmu yang sangat penting, karena ilmu tersebut menjadi jembatan antara ideologi dan realita (kebijakan) pemerintah. Tanpa panduan keilmuan Pancasila, besar peluang lahirnya kebijakan perundang-undangan yang tak sejalan dengan moral Pancasila itu sendiri.

Lebih parah lagi, Pancasila masih jauh dari tuntutan keyakinan masyarakat, dimasa pandemi sekarang ini masyarakat masih bertanya-bertanya “masih adakah sila ke lima?”. Karena dimasa pandemi ini perekonomian negara jatuh, dimana sekarang kita lihat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Pada saat pandemi inipun masih ada pejabat pemerintah yang korupsi dana bantuan sosial. Pancasila masih belum diimplementasikan ke dalam kebijakan dan peyelenggaraan negara secara utuh. Tantangan ini harus segera dijawab oleh pemerintah dengan cara menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan daya juang agar Pancasila mempunyai konsistensi dengan produk perundang-undangan, hubungan antarsila dengan realitas sosial. Dalam kaitan ini, Pancasila yang semula hanya melayani pemerintah menjadi Pancasila yang melayani kepentingan rakyatnya, serta menjadikan Pancasila sebagai panduan kebijakan pemerintah.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Safwan Luthfi

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap