Dinner Time (Cinta Dalam Diam)


Dinner Time (Cinta Dalam Diam) 1

Senin malam saat cuaca lebih dingin dari hari sebelumnya. Tidak banyak yang datang ke Restoran kecil milikku. Dua puluh kursi yang aku sediakan hanya lima orang yang menikmati makan malam di Dinner Time. Sepasang … jika dilihat dari usianya mereka adalah pasangan muda yang baru menikah, duduk di meja bagian tengah. Kemudian dua orang perempuan yang duduk di meja lainnya dan terakhir satu pria yang memilih duduk di dekat bar kitchen tempat aku memplating makanan.

Aku memang mendesain Restoran kecilku seperti Restoran Jepang meski masakan yang aku jual di Restoran yang sudah hampir empat tahun aku rintis menjual masakan Indonesia. Konsepku adalah menyediakan masakan rumahan khas Indonesia untuk mereka yang menikmati masakan rumahan meski sedang makan di luar.

Ada empat kursi yang mengelilingi bar kitchen, lalu ada meja makan yang diperuntukkan untuk dua orang berjumlah empat dan meja makan untuk empat orang aku sediakan dua meja.

“Kling!” suara lonceng berbunyi menandakan bahwa ada pengunjung datang.

Tok …. Tok … Tok … Anehnya, suara langkah kakinya pengunjung itu seirama dengan detak jantungku.

“Minta buku menunya, Mas.” Suara lembut seorang perempuan yang aku dengar dan membuatku gugup.

Aku memberikan apa yang dia minta dan saat aku berikan buku menu itu, aku melihat paras wajah cantiknya yang justru membuat aku semakin gugup. Bahkan aku segera mengalihkan pandanganku karena tidak bisa menatapnya lebih lama.

“Sup Guramenya satu deh mas. Minumnya Milkshake Cokelat aja,” pesan si perempuan berdress pink soft dengan motif bunga.

“Baik,” kataku lalu mengalihkan pandangan darinya.

Aku benar-benar gugup malam itu karena kehadiran perempuan yang tidak aku ketahui namanya. Jika aku tidak menguasai diriku, aku pasti akan membuat kesalahan saat memplating makanan.

“Ini. Selamat menikmati,” ucapku saat membawakan pesanannya. Hanya satu detik aku memberanikan diri menatapnya.

Aku bertanya kepada diriku sendiri tentang siapa perempuan itu. Wajahnya nampak asing seperti bukan penduduk sini. Setelah hampir lima tahun tinggal di sini dan memulai berbisnis dua tahun lalu, tentu aku mulai mengetahui para tetanggaku tapi tidak dengannya. Bahkan seingatku, aku tak mendengar para tetangga yang datang ke tempatku bahwa ada tetangga baru di lingkungan kami.

###

“Udah tutup, Mas?” aku menoleh mendengar suara yang selalu membuat hatiku bergetar.

Dia datang lagi. Malam ini, bukan dress seperti kemarin malam yang dikenakannya. Dia nampak lebih santai dengan celana jeans dan kaos yang dipadukan dengan blezzer. Nampaknya, pakaian yang dikenanakannya malam ini memang pakaian yang selalu dikenakannya.

Sayangnya, kedaiku tutup lebih cepat. Beberapa jam lalu, datang segerombolan pria datang untuk makan malam di tempatku dan hampir membuat pelanggan lain tak bisa makan malam ditempaku sebab mereka hampir menguasai seluruh kedaiku. Tak hanya menguasasi seluruh kedai kecilku, mereka juga memesan berbagai menu dengan jumlah yang besar layaknya orang sedang berpesta. Entah apa yang sedang mereka rayakan di kedaiku.

“Iya, Mbak.”

“Yah …. gue udah jauh-jauh ke sini lagi.”

“Masih ada satu menu kalo Mbak mau.”

Wajahnya yang kecewa seketika berubah menjadi bahagia. Aku lekas mempersilakan dia masuk ke kedai. Menurunkan satu bangku yang sudah ditata di atas meja untuknya. Setelah itu aku lekas pergi ke dapur untuk melihat bahan makan yang masih dan bisa aku masak satu menu untuknya.

Mungkin hanya lima belas menit berlalu, aku sudah menyajikan makan malam untuk dirinya. Cap cay sayur. Semoga dia menyukainya.

“Ini, Mbak.”

“Makasih ya, Mas.”

Aku pun lekas kembali ke bar dan mulai mencari kegiatan untuk menyibukan diriku selagi menunggu dia menghabiskan makan malamnya.

“Udah sejak kapan Mas belajar masak?”

Dia mengajakku bicara! Aku bahkan hampir menjatuhkan cangkir yang aku genggam karena terlalu terkejut.

“Sepuluh tahun. Maksudnya dari supuluh tahun lalu,” jawabku dengan rasa gugup yang ingin aku tutupi.

“Masakannya enak, Mas. Masakan saya kalah sama masakan Mas.”

Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. Bukan bermaksud sombong. Aku memang sering mendapatkan pujian atas masakanku tapi pujian darinya sangat berbeda. Ada rasa bahagia yang lain ketika dia memuji masakanku.

###

Selama sepekan dia selalu datang untuk menikmati makan malam di tempatku. Duduk di bar menjadi tempat favoritnya setiap datang dan dia selalu datang sendirian. Tak jarang, jika kedai tak begitu ramai kami berbincang membicarakan tentang masakan.

Dia pernah bercerita bahwa Ibunya tak pernah ingin dia membantu di dapur karena selalu mengacaukan. Entah memecahkan piring, tangannya teriris pisau atau masakannya gosong. Bahkan saat pertama kali memasak nasi goreng, nasinya justru gosong. Percobaan kedua rasa manis dan asin bercampur menjadi satu. Dia baru berhasil setelah mencoba hingga enam kali.

Dia juga mengatakan kepadaku bahwa setiap mencoba masakan baru, dia tak pernah sekali mencoba lalu berhasil. Dia harus mencoba berapa kali hingga Ibu dan teman-temannya sampai memuji masakannya enak bahkan terkadang mereka sudah tidak mau mencoba masakannya lagi.

Sayangnya, meski kami sering berbincang aku belum tahu nama dia. Bodohnya aku! Aku tak pernah menanyakan siapa namanya. Kami hanya terus berbincang sampai ada satu pelanggan yang memanggilku dan perbincangan kami harus terputus tanpa berlanjut lagi.

“Lagi nunggu seseorang?” tanyaku saat melihat dia beberapa kali menoleh ke pintu saat mendengar suara lonceng.

Dia hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban tapi senyumannya sudah memberiku jawaban bahwa dia memang sedang menunggu seseorang.

“Kling!” suara lonceng kembali berdenting.

Sekali lagi dia menatap ke arah pintu.

“Selamat datang di Dinner Time,” aku memberikan salam selamat datang kepada laki-laki yang berjalan masuk ke kedai.

Laki-laki yang mengenakan kemeja biru dan celana jeans hitam itu tersenyum ke arahku. Bukan! Bukan kepadaku tapi ke perempuan yang duduk di hadapanku. Seketika aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku.

Aku hanya menatap dia yang nampak bahagia begitu laki-laki itu berjalan menghampirinya.

“Nunggu lama kah?”

“Hm …… udah mau lumutan aku nunggu kamu.”

“Bisa aja kamu.” Laki-laki itu mengacak rambutnya dengan gemas dan duduk disampingnya.

Aku mengalihkan pandanganku untuk tak melihat kemesraan mereka. Tak sanggup aku menyaksikan dia bermesraan dengan laki-laki lain meski laki-laki itu kekasihnya sendiri. Aku tahu tak seharusnya aku merasakan ini tapi aku tak bisa untuk mengabaikan perasaanku yang terluka karenanya. Ya. Dia sudah mencuri hatiku membuatku jatuh cinta padanya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Tithi

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap