Disela Kesibukannya Sebagai Guru Honorer Sri Haryati Sempatkan Berternak Jangkrik

Disela Kesibukannya Sebagai Guru Honorer Sri Haryati Sempatkan Berternak Jangkrik 1

Sama-sama mengajar di bawah 1 atap sekolah, berkewajiban yang sama,menyiapkan perangkat pembelajaran mulai dari Silabus, RPP, Prota, Prosem, Absensi, Penilaian, Pengayaan, Remedial, dan sebagainya, tapi saat bicara gaji, terjadi kesenjangan yang sangat jauh antara mereka yang berstatus sebagai PNS dengan yang berstatus sebagai honorer, meskipun sama-sama di sekolah negeri. 

Mereka sama-sama terdaftar dalam dapodik, sama-sama memiliki NUPTK, sama-sama harus memenuhi standar tendik , bahkan pengabdian para honorer terkadang jauh lebih lama dengan yang berstatus sebagai PNS, namun kesejahteraan mereka jauh berbeda. 

Seperti yang dialami Ibu Sri Haryati, salah seorang guru honorer di salh satu SMP di Blitar ini, Ia mengabdi sudah 24 tahun sejak guru-guru PNS di sekolahnya masih banyak hingga kini tinggal 2 orang, posisi pembelajaran hampir seluruhnya diambil alih oleh para honorer yang mengabdi di sekolahnya.

Jenis Jangkrik Kalung foto : detikcom
Jenis Jangkrik Kalung foto : detikcom

Untuk menutupi kekurangannya dengan statusnya sebagai guru honorer, Ibu Sri Haryati harus membagi wktu dengan berternak jangkrik. Usianya yang kini sudah memasuki 51 tahun, masih terus semangat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Bagi Ibu Sri Haryati, sebagaimna halnya para guru-guru honorer yang lain, menjadi guru adalah panggilan hati dan jiwa untuk merubah generasi bangsa ini menjadi generasi yang kebib baik. Meskipun hingga 24 tahun belum ada perhatian pemerintah, namun Ibu Sri tetap semangat. 

Berternak jangkrik adalah untuk mencukupi kekurangan dari gajinya yang hanya sebagai seorang honorer. Rasa iri mungkin sebuah manusiawi, tatkala menyaksikan begitu besar gaji rekan sejawatnya. Belum lagi masih ada gai 13, gaji 14, tunjangan hari raya, tunjangan anak, dan lain-lain yang jika dikalkulasi mungkin berada pada takaran 1 : 10, 500.000 berbanding 5.000.000. inilah kondisi honorer kita.

Usahanya sebagai peternak jangkrik pun sepi seiring dengan situasi pandemi yang juga belum tahu sampai kapan keadaan akan kembali normal. Selain itu Ibu Sri juga berbisnis online dengan berjualan baju, meski terkadang laku terkadang juga tidak, belum lagi kalau barang datang tidak sesuai pesanan.

Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan posisi sebagai ASN, tapi sejak terbentur aturan tahun 2014 yang tidak lagi mengadakan perikrutan PNS, usahanya pun juga sia-sia. Mulai demo di depan pemerintah daerah, sampai ikut dalam di demo nasional di Istana negara tak juga membuahkan hasil. Dalam usia 51 tahun masih harus berjuang mengikuti test PPPK atau P3K, sepertinya terlalu ironis.

Melihat dan membaca berbagai komentar di berbagai media sosial, sepertinya hal yang sangat wajar jika guru-guru senior dan guru-guru yang terdaftar dalam dapodik dilakukan pengangkatan secara berjenjang tanpa harus melalui test. 

Sudah saatnya pemerintah mengangkat derajat para guru honorer untuk dapat merasakan buah hasil kemerdekaan yang sudah hampir memasuki usia 1 abad. Semangat kerja guru akan sangat terpacu jika didukung dengan keseahteraan yang cukup tanpa harus berternak jangkrik, atau juga berjualan online yang membuat pekerjaannya sebagai seorang guru harus terganggu.

Rasanya terdengar miris jika seorang guru wanita masih harus berternak jangkrik, meskipun yang kita dengar omset dari ternak jangkrik itu tergolong tinggi. Itu memang jika ditangani oleh para profesional dan fokus kerjanya hanya pada satu bidang yakni peternak jangkrik semata. Harga pasaran angkrik pun tidak terlalu tinggi, kisaran 35 – 40 ribu per kilogram. Tapi mau berapa lama utuk mengumpulkan 1 hingga 2 kilogram. Sementara harga pakan jangkrik kisaran 45 bahkan sampai 200 ribu perkilogram. Harga telur jangkrik untuk jenis alam memang cukup tinggi untuk perkilogram, tapi mau berapa ribu jangkrik untuk mendapatkan 1-2 kg telur jika kerjanya hanya sebagai sampingan.

Tapi inilah realita honorer kita, yang harus berpacu dengan berbagai bidang usaha hanya demi menutupi segala kekurangan hidupnya. Ada juga yang jadi OJOL, Kuli Pasir, Buruh harian lepas, dan lain-lain.

Jangan tanya, “mengapa mau jadi seorang guru” Sekali lagi, jadi seorang guru adalah panggilan hati dan jiwa, terlebih lapangan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah lulusan pada saat ini, yang membuat mereka merasa terpanggil dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa ini. Tapi, sebuah keniscyaan jika seorang guru yang sudah mengabdi dengan waktu yang lama menginginkan kehidupan yang lebih baik. 

Ibu Sri Haryati, dari Blitar, Jawa Timur ini hanya salah satu dari kondisi honorer di Indonesia, sementara ribuan bahkan ratusan ribu yang lain mungkin memiliki nasib yang sama terbentur dengan segala kekurangan dengan statusnya sebbagai guru honorer. Semoga pemerintah segera membuka kesempatan kepada guru honorer senior untuk segera diangkat tanpa test terlepas dari linieritas atau tidaknya mereka.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno