Dongeng : Awal Perseteruan Kucing dan Anjing (Seri Detektif Belang-Menyunyang / Part 2)


Dongeng : Awal Perseteruan Kucing dan Anjing
(Seri Detektif Belang-Menyunyang / Part 2) 1

Setelah berhasil mendapatkan emas majikannya, Belang segera berlalu agar terhindar dari kejaran para Jawara yang baru saja melakukan pengejaran terhadap menyunyang. Belang tahu dimana Menyunyang berada, karena longlongan Menyunyang terdengar sangat jelas dari kejauhan. Belang terus menyusuri lorong malam yang kala itu sudah menjelang subuh.

 Benar, setibanya ditepi pantai Menyunyang sudah menunggu di sana, yakni dipantai dekat selat egeri sebelah.

“Hai, Belang! Syukurlah kamu selamat. Aku sangat khawatir para jawara itu akan menangkapmu, dan kita tidak bisa kembali lagi ke rumah juragan Mandor.” 

“Kamu lihat, apa yang aku bawa, aku berhasil mendapatkan emas ini, dan pasti Juragan Mandor akan memberikan kita makanan yang lezat-lezat, dan Juragan Mandor juga akan tambah sayang kepada kita”

“Ya, belang, aku percaya itu, misi kita tidak sia-sia. Tak salah, kalau juragan menjadikan kita sebagai detektif yang handal” begitu kata Menyunyang sedikit membanggakan diri. “Tapi Belang, biarlah aku yang membawa emas-emas itu, aku takut nanti kamu tidak bisa menyelamatkan emas-emas sebanyak ini di tengah laut. Jangan, Menyunyang, kamu tidak memiliki kuku-kuku panang untuk mencengkeram permata-permata ini.”

“Sudahlah, Belang, kamu tak usah khawatir dan ragukan aku. Aku akan masukan permata-permata itu dalam muutku yang besar ini, pasti semuanya akan aman”

Belang tak mau berdebat berlama-lama, dan menyerahkan semua berlian-berlian itu kepada Menyunyang. Mereka bergegas turun ke laut untuk kembali berenang mengarungi selat yang memisahkan kedua negeri itu.

Waktu sekarang sudah subuh dan sudah menjelang pagi hari. Sudah dua malam Belang dan Menyunyang tidak tidur, karena mereka harus melakukan pencarian peti yang berisi emas milik majikannya. Belum lagi mereka juga tidak cukup makan dalam dua hari itu. Inilah sebabnya, saat perjalanan pulang mengarungi laut, mereka sudah tampak begitu letih.

Sampai di tengah lautan, matahari sudah muai tinggi dan waktu sudah beranjak siang. Sedangkan cuaca hari itu sangat terik yang membuat mereka tambah merasa lelah. Kekhawatiran Belang terbukti, di tengah laut Menyunyang sudah merasa kehausan yang tidak tertahankan. Rupanya Menyunyang sudah tak sanggup lagi menutup mulutnya. Terbukalah mulut lebar Menyunyang, dan muntahlah semua permata yang dikulumnya. Semua emas-emas itu karam di dasar laut.

“Menyunyang! Sejak awal aku berkata apa? Biarkan aku yang membawa permata-permata itu. Aku memiliki kuku-kuku yang tajam dan panjang untuk menggengam emas-emas itu, tapi, kamu keras kepala!”

“Sudah, Belang! Aku juga merasa capek dan letih, kamu tak usah menyalahkan aku. Aku sudah berusaha menyelamatkan emas-emas itu, tapi apa boleh buat, aku tak sanggup harus terus menutup mulut!”

“Tidak, kamu tetap harus bertanggung jawab, kamu harus mencari dan masuk ke dasar laut ini! Juragan akan marah besar jika kita kembali dengan tangan kosong! Kita pasti bakalan dijadikan rendang untuk makanan Juragan!

“Tidak, aku tak berani masuk ke dasar laut!”

“Harus, Menyunyang! Ini adalah fatal kesalahan kamu! Jika kamu tak bertanggung jawab, maka aku akan laporkan semua kejadian ini kepada Juragan.”

Perdebatan antara keduanya tak terhentikan, yang membuat menyunyang harus memberanikan diri masuk ke dasar laut (yang melahiran cerita Aning Laut). Namun, pencarian Menyunyang rupanya tak menemukan hasil. Dengan tenaga yang tersisa menyunyang terus menyisir dasar laut, yang sekali-kali terbentur oleh karang-karang tajam dalam lautan.

Dalam pencarian itu, tiba-tiba Menyunyang menemukan seekor keong yang sedang berjalan-jalan di dasar laut. Tanpa berlama-lama Menyunyang menangkap Keong itu dan akan segera di lahapnya.

Dongeng : Awal Perseteruan Kucing dan Anjing
(Seri Detektif Belang-Menyunyang / Part 2) 3

Seperti yang pernah dialami si Belang saat hendak mengambil emas dalam lemari besi, Keong itupun berteriak minta ampun, dan minta agar Menyunyang melepaskannya.

Persyaratan yang sama pun diberikan oleh Menyunyang kepada sang Keong. “Aku akan melepaskanmu, jika kamu bisa membantu aku menemukan emas-emas yang terlepas dari mulutku di dasar laut ini.”

“Baiklah, aku terima persyaratanmu” sahut si Keong.

Syarat itu disetujui oleh sang Keong, dan ternyata, tanpa berla-lama Si Keong dapat menemukan semua emas-emas yang terlepas dari mulut Menyunyang (yang melahirkan cerita Keong emas). Lalu diserahkannya  semua emas-emas itu kepada Menyunyang, dan Keong itu segera berlalu melanjutkan perjalanannya.

“Kamu lihat, Belang! Bukan hanya kamu yang mampu menemukan emas-emas ini. Kamu tak usah sombong, akupun sanggup menemukan kembali semua emas yang terlepas dari mulutku” ketus Menyunyang yang sudah mulai menyombongkan dirinya.

“Ya sudah, biarlah sekarang aku yang membawa”

“Jangan, aku masih sanggup membawanya, jadi kamu tak usah repot-repot membawa emas-emas ini. Ini semua biar menjadi tanggung jawabku” Tapi, ‘Menyunyang’  sudah! Kamu tak usah berkomentar apa-apa lagi denganku.

Menyunyang bergegas meninggalkan Belang dan rasa capek seolah tak dirasakan lagi. Menyunyang ingin segera sampai dirumah Juragan Mandor, dan ingin segera melaporkan hal ihwalnya kepada Majikannya itu.

Sementara di rumah majikannya sudah tampak gelisah. Dalam hatinya berkata, “Mengapa dua penjagaku belum juga pulang. Padahal sudah dua hari dua malam mereka meninggalkan rumah. Adakah mereka selamat, atau mereka memang tak bisa menemukan emas-emas yang raib di bawa pencuri”

Bersamaan dengan itu tiba-tiba sekitar pukul 14.00 Menyunyang tiba dirumah majikannya dan meninggalkan Belang di tengah laut.

Rupanya perdebatan di tengah laut itu berujung pada perseteruan antara Belang dan Menyunyang (Anjing dan Kucing), yang awalnya mereka hidup dalam kerukunan dan kedamaian. 

Menyunyang kini telah dirasuki sifat angkara murka, dan mencoba untuk fitnah si Belang, bahwa dirinyalah yang paling berjasa dalam pencarian emas majikannya. 

“Tuan, ternyata Belang tidaklah sesetia yang Tuan kira. Belang hanyalah seekor hewan yang malas. Selama pencarian, Belang selalu hanya mengandalkan saya. Di tengah lautpun Belang tak mau bergantian membawa emas-emas ini” 

Inilah fitnah Menyunyang kepada Majikannya.

Pada saat yang sama, munculah Belang yang datang kurang lebih 15 menit sejak kehadiran Menyunyang. Semua umpatan dan fitnah yang Menyunyang lontarkan terhadap Belang, sebenarnya adalah ungkapan kekesalan Menyunyang yang tak mau disalahkan saat menjatuhkan emas dari mulutnya. 

Belang tak mau kalah dan juga tak mau pula terus disalahkan.  Ia katakan bahwa emas-emas itu Belang ambil dari rumah seorang jawara negeri seberang. Sedangkan Menyunyang tidak ikut masuk dalam rumah itu. 

Dalam hal ini, Belang memang lebih bijak. Semua ini berhasil berkat kerjasama. Jadi, apa yang Menyunyang katakan semua tidak benar. 

Rasa malu Menyunyang yang telah memfitnah Belang, membuat Menyunyang justru semakin dendam dan tak mau lagi bersama dengan Belang.  Sejak itulah antara Anjing dan Kucing mulai menjadi hean yang tidak bersahabat. (Fiktif)

Oleh sebab itu, ketika kita merasa benar janganlah terlalu menyalahkan orang yang berbuat salah tanpa disengaja. Kebenaran memang akan berpihak kepada kemenangan, tapi kita harus melihat dari sudut pandang mana kebenaran itu, apakah berdasarkan aturan dan pedoman yang berlaku, atau hanya kebenaran yang bersifat subjektif. 

Janganlah kita menebar fitnah, karena fitnah itu lebh kejjam dari pembunuhan, dan fitnah laksana kayu bakar yang membakar dirinya sendiri. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap