Dongeng Bahasa Indonesia : Detektif


Dongeng Bahasa Indonesia : Detektif 1

Di sebuah negeri dongeng, hiduplah seorang Juragan yang kaya raya yang akrab dipanggil dengan Juragan Mandor. Keluarga juragan itu hidup dalam kemewahan dan serba kecukupan. Namun sayangnya, meskipun mereka hidup dengan bergelimang harta, mereka tergolong keluarga yang sangat pelit untuk berbagi. Kekayaan yang mereka miliki hanya dijadikan sebagai pajangan untuk menunjukkan, kalau keluarga Juragan Mandor adalah keluarga yang terpandang, lengkap dengan segala fasilitas yang ada.

Istri juragan yang berkarakter antagonis, selalu terlihat gemerlap dengan perhiasan yang menempel dibadanya. Mulai dari gelang, cincin permata, kalung yang lengkap dengan liontinnya, anting, hingga tusuk konde, semua terbuat dari emas murni. Tak jarang, dengan perhiasan yang melekat pada istri Juragan Mandor mengudang rencana jahat bagi kalangan kaum duafa yang hidup dalam kekurangan, terutama kalangan para jawara negeri seberang.

Layaknya sebuah negeri, sebagai keluarga yang hidup dengan dikelilingi materi duniawi, Juragan Mandor memiliki dua detektif handal yang siap melacak keberadaan siapapun orang-orang yang mencoba membawa kabur harta bendanya. Ya, dua detektif itu adalah “Belang-Menyunyang.” Juragan Mandor sangat hati-hati dalam menjaga harta kekayaannya, sehingga selain sebagai detektif yang handal, “Belang-Menyunyang” sekaligus bertindak sebagai bodyguade dalam keluarga Juragan Mandor.

“Siapa sebenarnya Belang-Menyunyang? Mengapa mereka mau menjadi detektif juga sebagai bodyguade pada Juragan yang terkenal bakhil itu?” Tidakkah lebih baik mereka mencari juragan lain yang lebih bijak dan dermawan dari Juragan Mandor?

Ternyata, “Belang-Menyunyang” adalah sebutan untuk dua ekor hewan raksasa yang telah mengabdi selama puluhan tahun kepada juragannya, yang tak lain adalah Juragan Mandor. Dua ekor hewan raksasa itu sangat setia menjaga harta benda juragannya, jika sewaktu-waktu ada pencuri masuk atau hewan lain yang mencoba mengganggu rumah majikannya. “Belang” adalah nama yang diberikan untuk seekor kucing raksasa, karena memiliki tubuh atau bulu-bulu yang belang.  Sedangkan “Menyunyang” adalah nama untuk seekor anjing raksasa karena saat masih kecil terlihat sangat aktif dan lincah. Kedua pengawal Juragan mandor itu terus berjaga disepanjang malam meski siang harinya mereka selalu terlelap tidur. Juragan Mandor sudah sangat paway dengan bahasa hewan, sehingga tidaklah sulit bagi Juragan untuk berkomunikasi dengan hewan piaraannya itu.

Apa yang menjadi kekhawatiran Juragan Mandor, tidaklah luput. Entah kehilafan apa yang terjadi pada kedua pengawalnya itu, sehingga pada suatu malam rumah Juragan Mandor bisa kemasukan pencuri. Tak ada satupun dalam keluarga Juragan yang terjaga pada malam itu, termasuk “Belang-Menyunyang” yang setiap malam tak pernah tidur. Menurut kepercayaan zaman itu, pencuri bisa masuk dengan menggunakan ajian “Sirep Megananda” yang membuat orang bahkan hewan sekalipun bisa terlelap tidur dan tak tersadarkan.

Juragan Mandor, sebagai orang yang sangat perhitungan dengan hartanya merasa sangat geram, dan menganggap dua penjaganya telah lalai dalam tugasnya.

“Hai, Belang! Ya, Juragan, dan kamu Menyunyang! Siap, Juragan.  Pagi ini juga, kalian berdua keliling kampung, dan temukan sepeti emas, yang raib dibawa pencuri. Jangan pernah kalian berdua kembali kerumah sebelum kalian berdua berhasil menemukan emas itu!”

“Baik, Tuan, kami berdua siap mengemban tugas, dan serahkan tugas ini kepada kami. Tuan tinggal duduk santai di rumah, karena kami tidak akan pernah kembali kerumah ini tanpa membawa hasil. Kami akan menyisir setiap sudut negeri ini”  begitulah jawaban Belang dan Menyunyang.

Belang-Menyuyang tanpa berlama-lama berdiam diri, mereka sigap dan akan melacak dimana keberadaan sepeti emas yang telah dibawa pencuri. Sejak kecil Belang-Menyunyang memang sudah terbiasa hidup rukun dan tak pernah terjadi perselisihan diantara mereka. Hal ini karena mereka dibesarkan oleh satu majikan yang sama. Itulah sebabnya, saat mereka menjalankan misi sebagai detektif, mereka dapat bekerja sama dengan baik.

Seharian penuh Belang-Menyunyang berkeliling negeri, melacak dimana keberadaan harta majikannya yang tercuri, bahkan hingga larut malam, namun tak jua menemukannya. Teringat pesan majikannya, bahwa mereka tak bisa pulang sampai menemukan sepeti emas itu, maka mereka memutuskan untuk melacak ke negeri seberang, yang dibatasi oleh sebuah selat yang cukup luas. Untuk dapat sampai ke negeri seberang, mereka harus mengarungi selat yang dalam, berenang setidaknya dalam waktu satu sampai 2 jam. Tapi apa boleh buat, mereka tetap harus melaksanakan tugas itu.

“Belang! Ya, Menyunyang.  Kita tak akan pernah pulang tanpa membawa emas itu. Kita akan menyisir di negeri seberang, aku mendengar bahwa di sana terdapat banyak jawara bayaran yang sering melakukan aksi ke negeri lain. Baiklah, Menyunyang, kita jangan pernah mengecewakan Tuan Mandor, kita telah dirawat dan dibesarkan, maka kita harus tunjukkan balas budi kita” Begitulah percakapan Belang-Menyunyang.

Belang-Menyunyang pun menyeberangi selat yang luas itu, dan singkat cerita sampailah pada negeri seberang. Di sini pula mereka melakukan misi detektifnya. Menyusuri setiap tempat yang dianggap mencurigakan, dan benar di negeri ini terdapat banyak jawara yang pekerjaannya mabuk-mabukan serta melakukan perampokan di negerinya.

Tokoh Menyunyang detektif Juragan Mandor
Tokoh Menyunyang detektif Juragan Mandor

“Pucuk dicinta, ulampun tiba.” Rupanya perjuangan dan misi mereka di negeri seberang tak sia-sia. Di sinilah rupanya pencuri yang telah berhasil masuk dan membawwa kabur peti majikannya.

“Menyunyang! Aku mencium tanda-tanda peti majikan kita. Ya, peti itu ada dirumah yang paling bagus di negeri ini. Ayo, kita dekati rumah itu. Tapi, menyunyang, rumah itu dijaga ketat oleh para jawara, bagimana kita bisa masuk? Tenang Menyunyang, saya akan menyelinap, dan kamu alihkan kosentrasi para jawara-jawara itu.

Segera menyuyag mengeluarkan suara yang sangat menyeramkan disekitar rumah pencuri itu. Para jawara yang sedang berjaga sontak terkejut mendengar suara Menyunyang. Mereka dibuat marah, dan sepakat untuk mengejar Menyunyang yang mengganggu malam mereka. Saat itulah Belang masuk ke rumah dimana peti emas majikannya itu dismpan.

Ternyata tak semudah yang dibayangkan, rupanya peti itu disimpan dalam sebuah lemari besi yang telah dilengkapi dengan kunci pengaman yang sulit itu dibukanya. Dalam kesulitann itulah, Belang menemukan seekor tikus yang sedang berlalulang mencari makanan. Belang yang sedari pagi belum merasakan makanan, dengan sigap menangkap tikus itu untuk dilahapnya.

“Ampun, ampun, ampun, jangan makan aku. Aku sedang mencari makan untuk anak-anakku. Bagaimana nasib anak-anakku jika aku kau makan. Anak-anakku baru lahir, mereka masih sangat membutuhkan aku” beitu seru si Tikus.

Mendengar tangis sang tikus, rupanya Belang tak tega pula untuk melahapnya, mesti perutnya sangat keroncongan.

“Baiklah, aku tidak akan memakanmu, tapi tidak serta merta aku melepaskanmu, ada satu syarat yang harus kamu lakukan untuk kamu bisa selamat. Apa itu sayaratnya tuan? Kamu harus bisa mengambil peti berisi emas yang ada dalam lemari besi ini, bagaimanapun caramu!”

“Aku terima persyaratanmu, aku akan mengambil peti dari lemari ini”

“Ingat!, jangan coba-coba berani kabur dariku, karena aku akan mengejarmu walau sampai ke ujung dunia!. Baik, aku tak akan pernah lakukan itu”

Semalaman tikuspun mengerat lemari besi itu dan berhasil membuat lubang sebesar peti yang berisi emas itu. Lantas diambilnya emas yang kini sudah dikeluarkan dari petinya dan menyerahkannya kepada Belang.

“Tuan, tugasku sudah selesai, dan sekarang aku akan pergi untuk kembali mencari makan untuk anak-anakku. Terima kasih, dan silahkan lanutkan untuk mencari makan buat anak-anakmu.

Sementara Menyunyang yang mengalihkan perhatian para jawara telah jauh meninggalkan rumah itu. Belang segera bergegas meninggalkan rumah pencuri itu dengan membawa sebongkah emas yang kini tak tersimpan lagi dalam peti. Sebelum para jawara kembali, Belang sudah jauh meninggalkan rumah itu. Belang tahu, dimana keberadaan Menyunyang, karena suara itu tampak jelas, dan sekaligus memberi isyarat kepada Belang…(Bersambung ke-Part 2)


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap