Ekranisasi Sebagai Media Pembelajaran Sastra

Ekranisasi Sebagai Media Pembelajaran Sastra

Adaptasi sebuah karya yang divisualiasikan ke dalam layar perak menjadi fenomena yang marak dilakukan oleh sineas dunia perfilman akhir-akhir ini. Film-film yang diangkat dari sebuah karya yang biasanya berbentuk , komik atau pendek mendapatkan apresiasi yang tinggi oleh berbagai penikmat film. Alih wahana yang dilakukan ini, sebenarnya bukanlah fenomena yang asing dalam dunia film. Sebut saja film Bumi Manusia (2017) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari dengan judul yang sama karya Pramoedya Ananta Toer atau Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) karya Eka Kurniawan yang sebentar lagi tayang dalam perfilman .

Pada beberapa tahun sebelumnya juga, sebagian film besar telah berangkat dari beberapa literatur berupa - populer yang akhirnya dijadikan sebagai film. Di sendiri, banyak sekali karya terutama dalam yang sudah berjaya divisualisasikan pada layar perak. Terutama pada setelah orde baru banyak sekali sineas film yang mengangkat karya yang berasal dari sastrawan dan berhasil diadaptasi menjadi film seperti Atheis (1979) karya Achdiat K. Mihardja, Salah Asuhan (1972) karya Abdoel Moeis dan Si Doel Anak Betawi (1972) karya Aman Datuk Madjoindo.

Adaptasi karya menjadi film merupakan cara yang mudah untuk membuat penikmat film tertarik untuk menontonnya karena biasanya terdapat beberapa elemen-elemen yang tidak terduga terjadi antara film dan karya sastranya. Terlebih nantinya penonton baik itu penikmat karya sastranya atau bukan bisa melihat bagaimana setiap adegan dan karakter tumbuh dalam sebuah konten visual yang nyata. – Lalu sebenarnya apa esensi dan hakikat dalam adaptasi sebuah karya menjadi film?

Pengertian dan Hakikat Ekranisasi

Pengertian  ekranisasi telah disimpulkan oleh beberapa sastrawan , salah satunya yaitu sastrawan asal Sumatera Utara yaitu Pamusuk Eneste (1997:67) menyimpulkan bahwa ekranisasi merupakan mengubah dunia kata-kata menjadi dunia gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan dan mengubah imaji linguistik menjadi imaji visual. Jadi pada dasarnya ekranisasi dilakukan dengan cara mengolah bagaimana sebuah karya yang sebelumnya berbentuk literatur terlahir kembali menjadi bentuk visual yaitu sebagai film atau sinematografi. Fenomena ekranisasi bertujuan agar setiap karya bisa diapresiasi dan diekspresikan oleh siapapun baik itu penikmat

Baca juga  Selamat Hari Kasih Sayang
atau orang awam lainnya.

Ekranisasi sastra mengantarkan masyarakat dapat menikmati sebuah seni atau karya dapat dinikmati dalam sisi yang berbeda, terlebih pada penikmat atau penggemar alih wahana yang biasanya akan sangat antusias untuk menyaksikan adegan-adegan atau karakter yang diidamkan dalam yang akhirnya bisa dilihat secara visual yang nyata. Memang pada kenyataannya tidak semua hasil dari ekranisasi sesuai dengan sumber aslinya, terkadang ada pengurangan atau penambahan dalam setiap bagian baik itu adegan, latar, atau karakternya. Maka dari itu pasti adanya respon positif dan negatif yang mengalir pada setiap proses kegiatan ekranisasi sastra.

Sayono (2015) berpendapat bahwa dengan adanya kegiatan ekranisasi dari karya sastra yang sedang naik daun ini merupakan fenomena yang bertujuan untuk mengejar target pasar masyarakat terhadap sebuah tontonan yang layak. Menanggapi pendapat sebelumnya Damono (2005:98) berpendapat bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini semakin banyak , yang dikategorikan sebagai sastra populer, diangkat ke layar perak setelah sebelumnya diubah bentuknya menjadi skenario film.

Dari beberapa argumen dan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa banyak sekali karya sastra yang marak divisualisasikan menjadi sebuah film dan hal ini juga menjadi proses kreatif bagaimana karya sastra dalam bentuk baru menjadi sebuah sejarah sastra . Terlebih dengan adanya visualisasi ini semakin banyak kalangan masyarakat yang mengenal dan mengetahui apa itu karya sastra dan secara tidak langsung memperluas apresiasi dan ekspresi terhadap sebuah karya sastra baik berbentuk , atau . Setelahnya hal tersebut bisa menjadi bahan ajaran terhadap peserta didik atau dalam pengenalan sebuah karya sastra terutama di .

Film Adaptasi Sebagai Media Pembelajaran

Secara umum sastra mempunya dua fungsi utama dalam penerapannya yang biasanya dikenal dengan Dulce Et Utile. Adapun penjelasan mengenai kata tersebut dikemukakan oleh Bressler (1999:12) menyebut dua fungsi tersebut dengan istilah to teach atau Utile (mengajar) dan to entertain atau Dulce (menghibur). Jadi, fungsi utama sastra adalah memberikan kesenangan atau hiburan terhadap pembacanya sehingga pembaca dapat menikmati sastra dengan baik karena memperoleh kepuasan atas keindahan dalam sastra setelah membacanya dan sastra memberikan amanat dan pesan edukasi terhadap pembaca melalui penanaman etika dan karakter yang dilakukan oleh setiap tokoh dalam karya sastra sehingga pembaca dapat meneladani hal yang bersifat positif dalam sebuah karya sastra.

Baca juga  Karya Sastra Membungkus Sastra & Bahasa: Perbedaan Keduanya

Sedangkan film memiliki fungsi yang hampir sama dengan sebuah karya sastra. Winokur (2001:8-9) berpendapat terdapat dua fungsi utama adalam film yaitu , yaitu fungsi hiburan (entertainment) dan fungsi didaktisme (deductism). Jadi pada dasarnya selain menghibur dan memberikan estetika tersendiri terhadap konten visual, film juga bisa memberikan edukasi melalui alegori-alegori yang muncul di dalamnya.

Dari beberapa fungsi utama yang mendasari adanya karya sastra dan film, merupakan sebuah syarat khusus yang nantinya bisa menjadi acuan sebagai media pembelajaran bagi peserta didik. Biasanya karya sastra yang diadaptasikan ke dalam layar perak adalah karya yang sebelumnya sudah dikenal di kalangan masyarakat dengan artiannya adalah karya sastra populer.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa pengadaptasian sebuah karya sastra menjadi produk baru tidak semuanya sempurna, terdapat pengurangan dan penambahan dalam setiap bagian-bagiannya. Film tidak akan sepenuhnya sempurna menerjemahkan variasi dan estetika literature dengan sama persis seperti yang ada di dalam sebuah karya sastra. Walaupun begitu, tentunya perubahan tersebut terjadi agar nantinya nilai yang disampaikan atau ideologi dalam karya sastra yang diadaptasi tetap utuh dan memiliki nilai esensi yang utuh. Dengan perbedaan tersebut pula sebenarnya bisa digunakan oleh pengajar nantinya untuk lebih bisa meningkatkan anemo dan rasa penasaran yang tinggi akan peserta didik agar tertarik untuk membaca karya aslinya. 

Maka dari itu dengan membandingkan dan melakukan resensi terhadap karya sastra dengan film dapat semakin menarik hati peserta didik untuk membandingkan pengadaptasian film lainnya sehingga nanti timbul adanya apresiasi, ekspresi dan kritik sastra. Misalnya dalam pengaplikasiaannya pengajar bisa mengajak siswanya menerka apa perbedaan alur yang disajikan dalam film dan karya aslinya atau mengapa karakter yang disampaikan dalam karya sastra dan film mengalami perubahan.

Selain akan melahirkan peserta didik yang kritis, nantinya proses pengajaran dengan media film adaptasi ini juga memberikan manfaat lain seperti penggunaan film adaptasi karya sastra mampu mengkordinir bagaimana gaya belajar setiap peserta didik. Siswa yang bersifat visual akan fokus terhadap visual utama film, siswa yang bersifat auditorial akan fokus terhadap verbal yang dituturkan dalam film sedangkan siswa kinestetik akan fokus terhadap audiovisual dalam film dan akhirnya penggunaan film adaptasi ini sangat bermanfaat sebagai media pembelajaran untuk menkoordinir gaya belajar peserta didik.

Baca juga  Kedudukan Pengarang: Dimatikan oleh Karya dan Dihidupkan Kembali oleh Pembaca

Ada beberapa metode penerapan yang bisa digunakan sebagai pengenalan dan pembelajaran karya sastra yang dilakukan melalui menonton film adaptasi yaitu berupa membaca dan menyimak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut :

  • Pra Menonton : Guru nantinya bisa melakukan kegiatan pembelajaran dengan memulainya melalui memberikan gambaran terhadap tujuan kegiatan dan hal mendasar yang terkait dengan film adaptasi yang akan ditonton. Hal ini meliputi unsur sederhana seperti judul film, sinopsis singkat atau sekiranya nilai-nilai yang terdapat dalam dalam film adaptasi dengan tujuan untuk memancing rasa keingintahuan peserta didik sebelum menonton film tersebut
  • Kegiatan Menonton :  Proses kreatif guru dibutuhkan pada tahap ini, biasanya dalam tahap ini setiap peserta didik akan fokus untuk menonton film yang ditayangkan. Jadi, secara kreatif guru harus melakukan sesuatu agar proses pembelajaran sastra tetap berjalan. Misalnya guru bisa memberikan lembaran kertas yang berisi butiran isian tentang aspek dalam film seperti unsur naratif dan instrinsik yang terkandung berupa alur, tokoh, latar yang terdapat dalam film
  • Setelah Menonton : Setelah menonton berikan waktu kepada peserta didik menyelesaikan lembar butiran isian yang telah diberikan dan nanti setelahnya guru bisa melakukan diskusi bersama peserta didik dan menerangkan nilai sebenarnya yang terkandung dalam film adaptasi yang telah ditonton. Serta peserta didik bisa diberikan stimulus untuk bisa secara aktif mengomentari dan berpendapat mengenai film yang telah ditontonnya. Terakhir adalah refleksi, yang nantinya guru bisa memberi pertanyaan untuk memberikan stimulus kepada peserta didik untuk membaca tersebut. Misalnya dengan memberikan pertanyan ‘’Apakah filmnya seru?’’, ‘’Siapa tokoh yang kalian suka?’’ dan  “apakah kalian tertarik untuk membaca tersebut?

Begitulah beberapa metode yang bisa diterapkan dalam pengenalan dan pembelajaran sastra melalui film adaptasi. Dari beberapa penerapan pembelajaran tersebut, disimpulkan bahwa karya sastra dan film memiliki fungsi utama yang berkesinambungan dapat memberikan hiburan dan edukasi terhadap penikmatnya. Dalam film terdapat unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik yang hampir sama dalam sebuah kajian karya sastra baik berupa atau .

Maka dari itu, persamaan tersebut yang terkadang membuat beberapa sineas berencana untuk mengadaptasi sebuah narasi karya sastra menjadi skenario kemudian dijadikan sebagai sebuah film. Lalu, dalam dengan adanya pembelajaran sastra terutama dalam sub bab ekranisasi sastra diharapkan penggunaan film adaptasi juga diharapkan dapat merangsang gairah peserta didik untuk lebih aktif dalam membaca karya sastra asli yang diadaptasi menjadi sebuah film.

Daftar Pustaka

Riyadi. Sugeng. 2014. Penggunaan Film Adaptasi Sebagai Media Pengajaran Sastra. Universitas : & sastra, Vol. 14, No.2, Oktober.

Wahyuning, Dyan. 2017. Ekranisasi Sastra: Apresiasi Penikmat Sastra Alih Wahana. Mimbar Sejarah,Sastra,Budaya, dan Agama – Vol. XXIII No.2, Juli.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ridho Hafiedz