Eksistensi Sastra Populer di Indonesia

Eksistensi Sastra Populer di Indonesia 1

Keberadaan sastra populer di Indonesia saat ini banyak diminati oleh semua orang, termasuk pada kalangan remaja. Karena sastra populer merupakan sastra yang cenderung menggunakan bahasa sehari-hari dan merupakan salah satu sastra yang mudah didapat dan dinikmati, serta memberikan kepuasan dan sebagai hiburan. Selain itu juga, sastra populer dapat dilakukan oleh semua kalangan dengan membaca serta membuat karya sastra, contohnya dengan membuat karya tulis seperti novel, cerpen, puisi, dan lain-lain.

Ada juga istilah novel populer. Novel populer merupakan bagian dari sastra populer. Ada beberapa definisi yang di dalamnya dikaitkan dengan pengertian sastra populer. Victor E. Neuberg (dalam Damono, 1993:30) berpandangan bahwa istilah sastra populer dikaitkan dengan ketersebarannya ke tangan masyarakat pembaca. Maka, kaitannya dengan hal tersebut, keberadaan teknologi mesin cetak menjadi penanda munculnya istilah novel populer.

Sumarjo (1980:41) menyatakan bahwa kalau dilihat dari sejarahnya, novel populer-lah yang lebih dulu hadir dalam kesusastraan Indonesia dibandingkan novel yang dikategorikan sebagai novel serius. Novel populer mulai terbit sekitar tahun 1884 dengan diawali kemunculan surat-surat kabar. Neuberg (dalam Damono, 1993:31) membatasi pengertian sastra populer sebagai “yang dipilih oleh pembaca yang berpikiran sederhana sebagai hiburan”. Dengan demikian, titik tolaknya yaitu pada aspek pembaca; mereka membaca sebagai hiburan dan bacaannya itu digolongkan sebagai sastra populer.

Keberadaan sastra populer di Indonesia juga di awali pada tahun 1890-an dengan banyaknya bacaan yang ditulis oleh China-Melayu. Sebuah karya sastra disebut populer karena tema, cara penyajian teknik bahasa, dan penulisannya mengikuti pola umum yang sedang digemari oleh masyarakat, termasuk di Indonesia.

Sastra populer lebih cenderung dikaitkan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat modern, ataupun mengikuti tren dan zaman yang sedang populer di dunia, termasuk di Indonesia, karena sebagai upaya menghibur diri dari kenyataan hidup keseharian yang monotan atau membosankan. Mungkin tanpa adanya sastra populer, kehidupan masyarakat akan lebih membosankan dan tidak ada kegiatan yang lebih menyenangkan.

Sastra populer tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan populer, karena sastra populer terlahir dengan rasa semangat kebudayaan populer. Salah satu karya sastra populer yang banyak disukai dan dinikmati oleh masyarakat adalah novel Laskar Pelangi. Laskar Pelangi merupakan karya sastra pertama dari Andrea Hirata. Novel ini merupakan novel best seller dan terlaris sepanjang sejarah Indonesia.

Novel Laskar Pelangi diangkat dari kisah nyata Andrea Hirata sejak masih duduk di bangku sekolah dasar yang mengisahkan anak-anak Belitung yang berjuang untuk meraih masa depan mereka, meskipun dengan kondisi ekonomi dan pendidikan yang kurang memadai. Namun, mereka tetap semangat dalam belajar karena termotivasi dengan gurunya yang bernama Bu Muslimah. Bu Muslimah selalu semangat dalam mengajarkan anak-anak Belitung itu walaupun hanya 11 orang tanpa adanya rasa mengeluh. Karena itulah, Andrea Hirata terinspirasi dengan gurunya, Bu Muslimah. Novel Laskar Pelangi juga banyak mengandung nilai-nilai moral yang mudah diimplementasikan oleh masyarakat atau pembaca.

Sastra memang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, begitupun sebaliknya, karena keduanya saling berkaitan. Namun, di era modern saat ini masyarakat tidak begitu menyukai sastra lainnya, termasuk tentang teori sastra, sejarah sastra, sastra bandingan dan lain-lain, melainkan menyukai sastra populer. Karena pada hakikatnya, sastra populer tidak akan terlepas dari masyarakat, termasuk di kalangan remaja. Apalagi, di era modern ini semua orang dapat membaca dan menulis dengan mudah, karena banyak platform yang menyediakannya.

Karya sastra merupakan cerminan perilaku yang baik dari penulisnya. Karena sastra merupakan risalah yang ditulis oleh seorang sastrawan untuk menyebarkan kebaikan. Banyak seorang penyair, novelis, dan cerpenis yang menjadi panutan bagi pembacanya.

Apa yang disampaikan oleh pengarang dapat diikuti dalam kehidupan masyarakat atau pembaca, seperti pada novel yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” yang dikarang oleh Helvy Tiana Rosa. Cerpen ini mampu mengubah ratusan remaja memakai jilbab karena wasiat yang disampaikan oleh tokoh dalam cerpen itu. Karena itulah, sastra populer seperti cerpen maupun novel yang bertemakan kehidupan remaja ataupun masyarakat dengan segala permasalahannya dapat mendatangkan manfaat. Jadi, eksistensi atau keberadaan sastra populer ini sangat penting dan dibutuhkan oleh masyarakat. Tidak terbayang jika tidak ada sastra populer di Indonesia.

Tinjauan Pustaka

  • Adji, Muhamad. 2017. Budaya Anak Muda pada Sastra Populer. (Bandung: Unpad Press).
  • Pusat Data dan Analisis Tempo. 2019. Andrea Hirata, Laskar Pelangi dalam Novel dan Film. (Jakarta : Tempo Publishing).  
  • Trismanto. 2018. “Sastra Populer dan Masalah Kehidupan Bangsa”, Seminar Nasional Bulan Bahasa 1, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang, 7 November 2018.  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nisa Aisyah