Epilog Cinta dalam Hidup


Epilog Cinta dalam Hidup 1

Sinar mentari petang memasuki ruang kecil itu. Menyinari seluruh sisi dari arah pintu kaca tempat itu. Disana sayup-sayup terdengar bunyi dari pemutar piringan hitam, memutarkan nada-nada yang terdengar manis di sore ini.

Kenanga berputar riang mengikuti alunan melodi yang berkumandang. Bibirnya tersenyum, rambut hitamnya dan kulitnya yang mulus itu disinari oleh cahaya kejinggaan. Membuatnya seperti malaikat yang turun di sore hari. Di depannya, ada Bima yang matanya terus mengikuti gerak si gadis. Tersenyum senang dengan pemandangan di depannya.

Kenanga berhenti berputar dan duduk di sofa, di samping Bima yang masih tak pegal tersenyum saat ini. Sang gadis menyandarkan tubuhnya pada sang lelaki, bersiap untuk pembicaraan hari ini.

“Bima, apakah kau senang mengenalku?” Tanya Kenanga sambil memilin ujung rambutnya yang panjangnya masih sebahu, lalu melepas dan mengurainya lagi.

Bima mengangguk dan melingkarkan tangannya pada bahu Kenanga. “Ya, dan aku juga senang karena mencintaimu.”

Kenanga mengangkat kepalanya yang semula bersandar pada bahu lelaki itu dan bergerak menatap bola mata Bima. Ia tersenyum dan mengangguk senang.

“Aku sangat senang melihat matamu,” kata Kenanga sambil meletakkan jarinya pada mata Bima yang sudah terpejam. Bima merasakan tangan-tangan halus itu mengabsen setiap jengkal kulitnya.

“Matamu selalu menjelaskan segalanya yang kau rasakan,” lanjut Kenanga sambil beralih pada alis Bima yang tebal dan hitam.

“Seperti saat aku melihatmu kali pertama?” Tanya Bima, lalu tertawa setelahnya.

“Kau memandangku dengan tatapan aneh saat itu,” tuntut Kenanga. Ia menghentikan tangannya untuk menyentuh wajah Bima dan mengerucutkan bibirnya seolah ia sedang kesal. Namun garis senyum di pipinya tak bisa berpura-pura.

“Maaf, habisnya kau aneh sekali dengan kacamata bulat kecil warna hitam di kafe waktu itu,” balas Bima sambil terkekeh geli.

“Kenanga,” panggil Bima sambil menggenggam tangan gadis di sampingnya. “Kau tau kan kalau aku benar-benar menyukaimu?” Tanya Bima sambil menatap mata Kenanga yang terlihat mengkilat disiram cahaya petang ini.

Kenanga hanya tersenyum, tak menjawab, tak berkedip. Ia masih menunggu kelanjutan dari kata-kata yang ia tunggu-tunggu.

“Kau selalu bilang kalau cinta perlu dibuktikan. Untukmu, bagaimana caranya?” Sambung Bima. Kenanga menarik sudut-sudut bibirnya, senyumnya melebar seiring jari-jarinya mengelus rambut Bima. Kemudian telunjuknya diarahkan dan ditancapkan pada dada Bima sebelah kiri.

“Berikan ini. Pusat dari hidupmu padaku. Pompa yang mengalirkan kehidupan di tubuhmu,” jawab Kenanga berbisik.

Bima mengedip dan menyadari tenangnya napas yang ia hembuskan. Sejauh ini, ia sudah bisa membedakan ketika Kenanga meminta sesuatu dalam arti yang sebenarnya atau hanya perumpamaan belaka.

“Kau sudah menanyakannya tiga kali, Bima. Ini kesempatan terakhirmu,” desak Kenanga sekali lagi. Ia sudah beranjak dari sofa, diiringi sinar matahari yang tenggelam semakin redup. Sebentar lagi gelap, dan waktu Bima menipis.

Bima mengangguk ragu. “Aku bisa memberikannya jika kau mau,” kata Bima pelan. Matanya beralih menatap kaki meja, lalu menatap Kenanga seolah berharap ia hanya bercanda. Namun, gadis itu mengulurkan tangannya dan meminta agar Bima lekas memberikannya.

Bima menarik sebelah sudut bibirnya dan menunduk. Sambil memegang dadanya sendiri, ia mulai mengabsen apa yang sudah ia berikan untuk Kenanga. Mulai dari waktu, keluarga, harta dan benda. Yang terakhir dan paling berharga adalah jantungnya.

Kenanga tersenyum melihat jantung yang berdenyut pelan dengan balutan darah segar itu. “Bima, ini akhirnya. Seperti yang kau inginkan. Aku menerima jantungmu, pusat kehidupanmu. Ini akan aku abadikan dan rawat sampai akhirnya ia berhenti berdetak. Untuk itu, tetaplah mencintaiku. Agar ia terus berdetak,” kata Kenanga sambil menyodorkan toples kaca kosong kepada Bima dan memasukkan jantungnya kesana.

Apapun yang ia berikan tak membuktikan cintanya pada Kenanga. Tapi dengan memberikan jantungnya, ia akhirnya bisa mendengar kalau dirinya diterima gadis ini di akhir hayatnya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap